Sabtu, 30 April 2011

..menggali kisah masa lalu..

Semalam aku tidak menuliskan apa pun untuk blog..
terlalu lelah menuntaskan urusan berkas untuk ujian akhir..
semoga rencana untuk bisa wisuda bulan Juni bisa terlaksana..
Semalam saat naik pete-pete (sebutan untuk mikrolet di Makassar), tidak sengaja mendengarkan lagu yang diselingi oleh puisi..jadi teringat moment ketika saya berada di puncak “kegilaan hidupku”..saat semua hal tidak berjalan dengan cara yang kuinginkan bahkan melangkah terlalu jauh dari kehidupan normal yang kujalani kala itu..dan ada sebuah radio yang hingga tengah malam memperdengarkan lagu2 lembut dan membacakan puisi2 yang dikirimkan oleh pendengarnya.. di masa itu jugalah cukup banyak sajak2 yang kubuat untuk menjadi pelepasan semua keluh dan kesah yang tak mampu kubagi dengan siapapun..
Saat itu aku duduk di tahun terakhir sekolah menengah, lebih tepatnya lagi semester terakhir. Pada saat itu, senormalnya tidak lagi disarankan untuk pindah sekolah..tapi kondisi pekerjaan papaku menuntutnya untuk pindah, dan kedua orang tuaku enggan meninggalkanku sendiri.. Saat itu kami tinggal di Tarakan, salah satu kota di bagian utara Kalimantan Timur.. Kami tidak punya sanak saudara di kota itu.. Yang ada hanyalah sekelompok orang dari kampung yan sama..dan orang tuaku tidak ingin meninggalkanku di sana sendiri..padahal saat itu sudah 4 bulan menjelang Ujian Akhir Nasional..
Saat itu, aku mati-matian berusaha untuk tetap diizinkan untuk tinggal di kota Tarakan..tapi sekali lagi aku dihadapkan pada sikap overprotective sepihak khas orang tua..apalagi aku adalah anak perempuan mereka satu-satunya..semua saudaraku laki-laki..
Kondisi yang muncul kemudian ternyata benar2 menguji kewarasanku..
posisiku sebagai murid baru ternyata membawa petaka tersendiri..kejadian bullying yang dulunya hanya ku kenal melalui adegan2 di sinetron pada akhirnya ku alami sendiri..
aku diintimidasi secara verbal..ada sekelompok anak yang mengkampanyekan bahwa aku tidak perlu diajak bergaul..dan usut punya usut ternyata lebih karena aku memiliki logat yang berbeda dan tanpa sengaja menarik perhatian salah seorang guru yang kemudian memberikan segunung pujian padaku di kelas2 yang diajarnya..
Sial memang..di usia labil itu, aku harus menjadi dewasa lebih awal..
menanggung beban seorang diri..dan pada akhirnya ikut berperan dalam pembentukan karakterku..
mungkin disitulah awalnya aku menjadi landak..
awal transformasi  menjadi sosok yang senang menyendiri..
Syukurlah, di masa itu aku memiliki hobby membaca dan menulis..
karena tidak memiliki teman dekat, aku mengalihkan pikiranku dengan membaca..
dan ketika berada diambang kesabaran aku menumpahkannya dalam huruf demi huruf..
aku merasa bahwa menulis (dan membaca) menyelamatkan kewarasanku..
he..he..

..hasil mikir2 di tengah keramaian..

Hm..kembali menjadi manusia hedon..mojok di salah satu meja cafe di Mall yang ada di Makassar..sambil tetap merutuk dalam hati..”ck..ck..betapa hedon dirimu..berapa rupiah lagi yang terbuang hari ini”..mungkin saya harus membenarkan berbagai sindiran orang tuaku bahwa aku harus menjadi istri seorang gubernur untuk membiayai hidupku..
he..he..bagaimana kalau saya mengubahnya menjadi kalimat bahwa “saya harus kerja  keras jika ingin tetap hidup dengan gaya hidup ini”..he..he..Mencoba mencari pembenaran..
Membicarakan tentang gaya hidup..ada beberapa bagian yang terasa cukup miris bagiku..
di cafe ini nampak seorang ibu2 muda yang menggendong bayi kecilnya..ya Allah bayi itu masih muda..masih sekitar 1-2 bulan..
Kasihan banget melihat bayi mungil yang harusnya tidak perlu direcoki dengan bunyi bising alat2 dapur kafe ini, dan bunyi bising lainnya yang muncul di Mall ini..menurutku tindakan itu kurang bijaksana..tidak seharunya seorang ibu mengabaikan kepentingan anaknya hanya demi kesenangan yang masih bisa ditunda atau diakali..jika memang sudah sangat “kebelet” untuk jajan mata melihat berbagai barang di Mall, kenapa tidak mengatur waktu dengan sang suami agar sang suami yang menjaga si bayi di rumah..atau menitipkan bayi kecil itu ke rumah orang tua atau mertuanya??
Hal ini mungkin sepele, tapi bukankah hal seperti ini bisa menjadi salah satu penilaian untuk menganggap seseorang itu bisa menjadi ibu yang baik atau tidak..sungguh patut disesalkan, hal ini kian marak terjadi..semoga tidak menjadi bagian dari gaya hidup para ibu-ibu muda..kasihan bayi2 mereka..dan semoga kelak saya tidak menjadi ibu yang seperti itu..
Btw, kapan yah saya bisa nikah..
he..he..

Kamis, 28 April 2011

..tentang kisahku..

Huwa..duduk sendiri di salah satu meja di Kedai Roti Canai Mahadir..
ck..ck..
lagi2 diriku hanya bisa menyendiri di tengah keramaian..
apa gunanya kekasih di saat begini..
gak ada..
gak penting..walau sebenarnya ingin..
Pacar dalam hidupku memang bukanlah sebuah kebutuhan melainkan sebuah keinginan..
jika tak ada tidak akan membuatku mati atau pun gila..he..he..
yah walau berarti akan ada sesuatu yang berubah secara signifikan dalam hidupQ..
karena kekasihku saat ini adalah orang yang menjadi tempatku berbagi banyak hal..

di saat sedih dia yang aku sms untuk menceritakan dukaku..dia yang mendengarkan  tangisanku ..meski seingatku dia belum pernah mengusap air mataku..

di saat bahagiaku dia menjadi tempatku menyunggingkan senyum lebar penuh kemenangan..meski setelah itu dengan sukses dia membuatku cemberut dengan candaannya..

di saat sakitku dia menjadi tempatku berani mengeluh..meski sering kali yang terdengar adalah ocehan tentang betapa aku tidak menjaga kesehatanku sendiri..namun pada akhirnya dia akan memanjakanku dan mengucapkan betapa dia menyayangiku..meski pipiku bengkak (karena sakit gigi)..meski ada bau aneh (nggak mandi karena demam)..meski aku selalu cemberut (karena PMS)..
di saat marahku dia selalu menjadi tempatku mengeluarkan unek-unek..tempatku melampiaskan kemarahan dengan menggebu-gebu hingga nyaris lupa mengambil nafas..dan setelah itu dia selalu menyuruhku mengendalikan amarahku (karena aku memang tipikal orang emosional..dan sering mengambil keputusan impulsif ketika marah)..atau terkadang malah semakin “mengompori”ku untuk memarahi orang yang membuatku marah..he..he..
parahnya ketika aku marah karena sikapnya, aku dengan mudahnya berkata “putus”..dan kemudian pada akhirnya menyesalinya..sedangkan dia sendiri adalah tipe orang yang enggan kembali pada mantan kekasihnya sehingga dia tidak pernah menerima keinginanku untuk putus bahkan sering mengomeliku untuk tidak mudah berucap putus..he..he..mungkin untuk yang satu ini aku harus bersyukur..
tapi entah mengapa setelah setahun bersama ada yang berubah di antara kami..
dia tidak lagi seperhatian dulu..tidak lagi menjadi pendengar yang baik..
dan tampaknya sudah bosan mendengar ocehanku..
apa mungkin dalam waktu dekat, aku akan menulis tentang relationship yang kandas (lagi?!)..hm..entahlah..
tampaknya sesi kali ini tulisanku menjadi tempatku mencurahkan hati deh..
he..he..
semoga tidak membosankan..tapi kalau bosan..silahkan mengeluh..
he..he..
than..see you in the next writing..he..he..

“mencintai tidak akan pernah menjadi sia-sia..karena pengalaman mencintai akan menjadikan kita lebih manusiawi..mengajarkan kita untuk saling mengerti..saling menyayangi..dan meski itu hanya berjalan satu arah..paling tidak kita belajar untuk memberi”—quote by Landak 1-

(^_^)

Rabu, 27 April 2011

..mari berjuang..

huft..hari ini dilalui lagi-lagi dengan mondar-mandir mengurusi berkas untuk ujian..
untuk kawanQ yang sangat pengertian (Puji)..thanks karena bersedia menemani dan maaf jika diriQ ternyata menghambatmu..
kawan terbaik memang akan nampak di saat kita susah..ugh jadi merindukan jeng Khiky yang harus pulang kampung untuk istirahat total..cepat sembuh ya, sista..

perjuangan meraih gelar strata satu ternyata berat..biaya lumayan mahal..tuntutan dosen lumayan ribet dan pengurusan berkas sangat ribet..kapan semua hal di Indonesia ini berjalan satu atap?? mungkin saya bisa menganggapnya sebagai ujian mental..namun kalau mengurus semua hal harus seperti ini bukan lagi namanya latihan mental melainkan birokrasi yang dipersulit..

tapi, sudah tidak ada waktu untuk menyerah..dunia akademik ini memang tidak lagi mudah..
cuma bisa terus memeras keringat dan air mata (semoga gak perlu ikut memeras darah)..
mari terus menulis..mari terus berfikir..dan mari bergerak..
yah..kerja juga tetap harus bisa jalan..biar kalau lulus gak jadi pengangguran..
he..he..

Selasa, 26 April 2011

..ngobrol ttg hati wanita..(wanita itu ya diriku ini)

Nongkrong nungguin pengurusan berkas di taman kampus ..
Berniat online, saying wWiFi kampus yang menargetkan diri dalam taraf Internasional ini nggak layak pakai..ck..ck..
jaringan WiFi sih banyak..tapi gagal connect melulu..
Ya sudah, akhirnya saya hanya duduk sambil mengetik obrolan dalam hati ini..
ditemani sepotong roti dan sekotak susu coklat ukuran 200ml, saya mencoba menikmati hari ini..
lantunan lagu “pergi saja” milik Geisha membuai telinga dan memelankoliskan hatiku..
Anggap saja lagu ini mewakili sekelebat pikiranku atas relationship yang kujalani dengan seseorang..
Karena kadang isi kepalaku menyuruhku untu mengakhiri kisah itu..
meletakkan tulisan “the end” dalam our story..
tapi hatiku memaksaku untuk terus memikirkannya..
Hal yang aneh..
karena hatilah yang tersakiti ketika dia melakukan sesuatu yang menyakitkan, bukan logika..
lantas kenapa hati masih terus mengharapkannya bertahan??
dan logikalah yang menyuruhnya pergi??
Jadi teringat pembicaraan dengan seorang teman..
bahwa kita mungkin memikirkannya dengan logika..tapi hatilah yang mempengaruhi tindakan kita..
dan dalam hubungan seperti ini, hatilah yang memegang kendali..
Pada akhirnya yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menyeimbangkan keduanya..
aku tidak bisa memilih untuk pergi begitu saja..
namun aku juga tidak lagi mau disakiti..
jadi yang bisa kulakukan hanyalah mengambil langkah mundur dan kemudian berdiam diri di tempat..
menunggu langkah dari dia..
akankah dia mudur atau akan berusaha melangkah ke arahku dan meraihku kembali..
hubungan ini biar ditentukan olehnya..
jika ia  mundur maka jarak kami akan kian jauh..dan mungkin kian dalam hingga akhirnya menjadi jurang pemisah bagi kami..
dan jika ia melangkah maju..aku hanya mengharapkan komitmen kian kian dikukuhkan…
(he..he..dasar wanita..bergerak dipengaruhi oleh gravitasi perasaan dibandingkan logika..maaf untuk para wanita..diriku pun wanita..tapi itu bukanlah kelemahan wanita namun merupakan sebuah kekuatan yang berbeda yang tidak akan mampu dipahami oleh pria)

All about Dynamic Views for Readers - Blogger Help

All about Dynamic Views for Readers - Blogger Help

Senin, 25 April 2011

Ngobrol-ngobrol soal relationship


“True love does exist as one of the miracle in the world”
Di tempat kerja aku berkenalan dengan seorang kawan baru. Dia seorang wanita yang hebat dan cerdas. Salah satu impianku berhasil diraihnya yakni melanjutkan studi keluar negeri. Kini dia sedang menanti waktu keberangkatannya untuk melanjutkan studi ke Australia. (if you read this I know you’ll know that I talk about you)
Dengan pembawaannya yang ceria dan ramah, sangat mudah untuk berteman dengannya, sesulit apa pun karakterku ternyata dia mampu membuatku nyaman untuk berbincang dengannya. Hari itu, sebelum mulai menjadi akrab dengannya, dia tampak berbicara dengan penuh emosi pada salah seorang kawan kerja kami yang lain. Aku sempat mendengar pembicaraan mereka. Ternyata mereka membahas bahwa Pria akan merasa minder saat menjalin hubungan dengan wanita dengan tingkat pendidikan lebih tinggi. (kepada kalian para pria, saya tidak menjadikan ini sebagai aturan umum. Ini hanyalah kesimpulan dari kenyataan yang kami hadapi. Silahkan menyatakan sesuatu namun lebih penting silahkan membuktikannya!)
Saat itu, aku hanya sekedar memberi komentar “iya, kemungkinan besar seperti itu. Karena di dalam masyarakat sering ada celetukan bahwa cewek dengan pendidikan yang sudah terlalu tinggi seperti sudah S2 atau S3 biasanya sudah susah dapat jodoh. selain itu katanya, uang pa’nai atau uang jujurannya tinggi”. Dan hal itu semakin memperpanjang pembicaraan mereka. Bahkan kawan cowok yang rekan sekerja kami pun menyetujui hal itu, bahwa beban mental yang dimiliki saat menjalin hubungan dengan wanita yang lebih tinggi tingkat pendidikannya memang lebih besar.
Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa ternyata kisah cinta wanita tersebut kandas di tengah jalan. Dan parahnya, pria tersebut memutuskan hubungan mereka lemat pesan pendek (ck..ck..ayolah..ternyata teknologi membuat para pria semakin mudah menjadi sosok pengecut..). Parahnya lagi sehari setelah putus si Pria menunjukkan bahwa dia telah in relationship dengan seorang wanita di salah satu situs jejaring sosial..(ck..ck..orang ini apa terlalu kekanak-kanakan atau memang tidak mengerti apa yang disebut dengan “menghormati perasaan orang lain”..parah.. Saya yakin teman wanitaku ini kelak akan bersyukur karena tidak perlu menjalin hubungan lebih lama atau bahkan menikah dengan pria seperti itu..)
Lanjut cerita kami kemudian menyimpulkan bahwa ternyata pria ini tidaklah segentle yang dikira sebelumnya. Dia ternyata tetep memiliki  mental kerdil karena perbedaan jenjang pendidikan yang dimilikinya dengan temanku itu. Hah..pria yang bodoh..ataukah memang kalimat klise yang sering kudengar tentang cinta memang tidak akan pernah menjadi realita..kalimat-kalimat bahwa “cinta akan menyatukan perbedaan”, “kekuatan cinta akan mampu mengubah segalanya”, atau “dengan cinta semua akan mampu dihadapi” memang hanya akan sekedar menjadi bagian dari bujuk rayu para pecinta? (he..he..ketahuan banget bahwa saya adalah seorang wnaita romantis atau seorang yang suka melahap karya roman..he..he..tapi saya memang percaya bahwa cintalah yang membantu dua orang yang berbeda bisa terus terikat dalam pernikahan yang kemudian dipisahkan oleh maut..seperti pak BJ Habibie dan ibu Ainun kan?? Kalu bukan cinta apalagi?? Cintalah yang membuat ibu Ainun selalu mengerti pak Habibie dan begitu pun sebaliknya..pengertian, pengorbanan, perhatian, kelembutan, adalah hal yang muncul setelah mencintai seseorangkan??)
Tapi kemudian dari obrolan2 lain kami kemudian melihat bahwa dalam hubungan itu memang ada yang tidak seimbang..dari cerita yang dituturkannya saya kemudian berkata bahwa “Kakak terlalu sibuk menjadi pemberi tanpa memberinya kesempatan untuk member”..yah itulah yang kurang dalam hubungan itu..tidak ada keseimbangan dalam “proses memberi dan menerima”..sang wanita yng mungkin tanpa sadar merasa memiliki kemapanan yang lebih dibandingkan si pria sehingga secara tidak sengaja menampakkan sikap yang lebih “superior” yang membuat si pria merasa tidak nyaman.. yah mungkin itu hanyalah satu dari beberapa hal yang mebuat hubungan mereka tidak bisa bertahan..tapi mungkin juga kekuatan mental si pria memang memiliki pengaruh lebih besar atas berakhirnya hubungan mereka..entahlah..
Hubungan mereka yang sudah berakhir itu bisa menjadi pelajaran tersendiri bagi temanku. Menguatkan mentalnya untuk mengahadapi berbagai rintangan dalam dunia percintaan yang mungkin tidak akan mudah mengingat usia yang kian bertambah. Namun bagi saya pribadi, kisah ini bisa menjadi pelajaran bahwa saya harus mampu mengendalikan diri dengan baik dan tidak terus menerus menjadi pemberi bagi pasangan saya (karena saya sadar kalau saya adalah orang yang loyal pada sebuah hubungan serius yang saya jalani..tapi syukurlah sebuah pengalaman saya membuat saya menyadari hal itu, sehingga saya bisa mulai me­-ngerem sikap loyal itu). Pada dasarnya tidak ada orang yang suka untuk terus menerus berada di posisi menerima dan tidak suka juga jika terus menerus berada di posisi memberi..(kalau ada orang yang suka terus menerus berada di posisi menerima berarti dia tidak tulus pada orang yang dia cintai dan hanya ingin memanfaatkan pasangannya saja..dan sangat tidak mungkin seseorang ma uterus menerus diposisi memberi..jika dia terus berada di posisi member maka itu berarti dia tengah menyimpan banyak hal di dalam benaknya..dan suatu saat akan meledak)
Tampaknya postingan kali ini sudah terlalu panjang..mungkin untuk saat ini harus diakhiri..jika ingin beri komentar silahkan..jika ingin berbagi cerita dan ingin kisahmu saya tuliskan dan komentari, silahkan kirim ke email saya di anora.widad@gmail.com

CARA BERBINCANG DENGAN JIWA ANAK-ANAK DALAM DIRI ANDA (RINGKASAN)


1.)     Pergilah ke tempat yang aman, tempat Anda dapat merasa tenang dan damai. Tariklah napas dalam-dalam dan bawalah diri Anda ke tempat yang indah dalam pikiran Anda sehingga Anda merasakan ketenangan.
2.)    Ucapkan niat Anda keras-keras untuk mengetahui dan menemukan jiwa anak-anak anda.
3.)    Gunakan tangan yang dominan Anda, sebagai orang dewasa, untuk mengajukan pertanyaan.
4.)    Gunakan tangan Anda yang tidak dominan, sebagai jiwa anak-anak Anda, untuk menjawab pertanyaan.
5.)    Gunakan tangan ketiga untuk mengarahkan pembicaraan. Ups, itu tadi jiwa anak-anak kami yang berkata (hehe).
6.)    Tanyakan nama si anak dan buatlah gambar mengenai dirinya. Bersabarlah dan lakukan perlahan-lahan. Jangan tertawa. Bersikaplah penuh kasih saying dan sabar seperti yang akan Anda lakukan pada anak-anak lain.
7.)    Ajukan pertanyaan lain (seperti bagaimana perasaannya, apa yang ingin ia katakana kepada Anda, mintalah anak tersebut untuk menggambarkan apa pun yang ia inginkan saat ini dalam hidup Anda).
8.)    Tutuplah pembicaraan ini dengan mengajukan pertanyaan terkahir (“Apa lagi yang kamu inginkan supaya aku ketahui?”) dan jangan lupa untuk berterimakasih pada di anak karena sudah mau datang dan berbicara dengan Anda.
9.)    Katakan padanya bahwa kalian akan berbincang-bincang lagi dalam kesempatan berikutnya.

Lakukan hal ini selama beberapa kali. Anda disarankan untuk membawa gambar yang dibuat oleh jiwa anak-anak Anda selama pembicaraan pertama pada sesi-sesi berikutnya.

Dikutip dari buku An Indigo Celebration karya Lee Carroll & Jan Tober

CARA MENGASUH JIWA ANAK-ANAK DALAM DIRI ANDA


1.       Biarkan jiwa anak-anak Anda berkomunikasi kapan pun ia inginkan
2.       Tidak apa-apa jika sedikit kotor. Kami tidak sedang bercanda! Bermainlah dengan tanah. Tanamlah sesuatu. Gambarlah sesuatu yang lucu dan konyol. Jangan selalu khawatir untuk tetap berada di dalam garis ketika mewarnai sesuatu.
3.       Bernyanyilah, menarilah, bermainlah dengan instrument musik, dan buatlah proyek seni lainnya.
4.       Menarilah! Jika Anda tidak bisa menari, itu justru lebih baik. Cobalah gerakan-gerakan bodoh dan bersikaplah konyol. Orang lain tidak akan menganggap Anda aneh. Mereka justru akan melihat kebahagiaan dan kegemaran Anda bercanda. Mereka mungkin malah iri kepada Anda.
5.       Jangan terkejut jika Anda bertemu dengan anak-anak lain. Ketika Anda bertemu dengan mereka, bermainlah!
6.       Biarkan jiwa anak-anak Anda memakaikan Anda baju kadang-kadang. (Yap, inilah waktunya untuk mengenakan kaos lucu yang Anda beli di Taman Safari)
Di kutip dari: An Indigo Celebration karya Lee Carroll & Jan Tober.

..sekedar membuat coretan..

Memang lebih mudah membulatkan tekad dibandingkan melakukannya..
he..he..
Hal ini terbukti padaku..baru 3 hari yang lalu aku berjanji untuk menulis setiap hari..tapi kemarin aku malah tidak menuliskan apa pun..
saat online sebentar kemarin, aku malah sibuk mengecek Facebook dan pada saat ingat ingin mempublish postingan, kuota unlimited dengan kecepatan superku sudah habis..
hm..nasib..nasib..
Setelah itu aku menulis untuk skripsi dan hanya konsen untuk menuntaskan 1,5 halaman..
ck..ck..kacau  nih kalau begini..
tapi paling tidak, kini skripsiku tidak perlu meringkuk dipojokan dan terabaikan lagi..
semoga sepekan ini skripsiku bisa lancer..
Hm..seharian kemarin aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang-orang yang aku sayangi..
menemani mama, papa dan si bungsu mencari gadget baru untuk si bungsu yang dengan senang hati menunjukkan minat yang besar terhadap BB..
alhasil bertambah lagi personil di keluargaku yang akan menjadi addicted pada si mungil itu..
maybe I’ll be the next..if I have enough money to buy it by my self..he..he..
(^_^)
Namun, setiap kali teringat tentang postingan blok ku entah mengapa ada satu quote yang kuciptakan sendiri (nggak tahu apa orang lain sudah pernah mengemukakannya duluan..tapi yang jelas aku nggak pernah menemukan kalimat itu di semua buku yang pernah ku baca).
“Kita terlalu sibuk mencintai sehingga kita tidak menyadari bahwa kita sedang dicintai”
Quote ini nyangkut di kepalaku sejak mulai mendengar curahan hati seseorang tentang Love Life yang dijalaninya. Wanita ini memiliki usia yang lebih tua dibandingkan saya. Masih single dan hubungan serius yang tengah dijalaninya berakhir sepihak dari teman prianya. Kemudian dia menyadari bahwa si teman prianya telah memiliki orang lain dan bahkan mempublishnya sehari setelah memutuskan hubungan dengan teman wanitaku ini.
Hm..kisah lengkapnya mungkin akan kubahas lain kali..
menuliskan kisah ini menurutku bukanlah Gibah atau menggosipi orang lain..
pertama karena aku tidak akan menyebutkan nama pelakunya..
kedua karena yang ingin aku tuliskan bukanlah tentang sifat si wanita melainkan kisah cinta yang dimilikinya, yang mungkin dialami oleh wanita lain di luar sana..
Tapi kisah ini akan aku tuliskan pada postingan lainnya..
OK?!

hm..indigo children..they're normal!!

Hari ini seharusnya postingan keduaku sudah dipublish, sayangnya koneksi internet di rumahku sedang di putus karena kabel teleponnya terpaksa diputuskan karena sebagian ruangan di rumah sedang di renovasi. Alhasil, hari ini saya hanya bisa menulis dan akan mempublishnya begitu bisa menemukan koneksi internet dimanapun. He..he..
Hari ini saya seharian menghabiskan waktu untuk melahap buku An Indigo Celebration karya Lee Carroll & Jan Tober. Buku ini menceritakan tentang anak-anak indigo. Yakni anak-anak yang bagi orang lain dianggap sebagai anak yang “sulit” karena bersika tidak sesuai dengan umur mereka. Anak-anak indigo ini adalah anak-anak yang kritis sekaligus menyimpan berbagai kebijaksanaan yang ketika mereka katakan akan membuat orang-orang dewasa atas kecerdasan mereka menangkap kenyataan dan mengemukakan solusi bijaksana. Anak-anak indigo ini menjadi anak-anak yang sulit bergaul karena perbedaan pola pikir yang mereka miliki berbeda dengan anak-anak seusia mereka.
Buku An Indigo Celebration  ini merupakan karya lanjutan dari Lee&Jan yang sebelumnya yang berjudul “The indigo Children”. Buku ini mengemukakan tentang cara mengenali anak-anak indigo dan bagaimana cara menangani dan berinteraksi dengan mereka. Buku ini berisi berbagai surat dan tanggapan orang-orang atas karya mereka tersebut. Buku ini cukup ringan karena berisi kisah-kisah dan penuturan para “penasihat cilik” ketika ditanya tentang  makna cinta, pernikahan dan berbagai hal. Ada pula cerita para orang tua yang kemudian menyadari bahwa anak yang mereka anggap sebagai “anak yang bermasalah”, “anak yang terlalu aktif”, “anak yang berbeda”, pada dasarnya adalah anak-anak yang normal dengan sebuah kelebihan yang telah di anugerahkan Tuhan pada anak mereka.
Seperti penuturan salah seorang ibu yang anaknya mengeluarkan sebuah kalimat bijaksana yang tidak lazim disebutkan oleh anak seusianya. Kim Mander memiliki anak usia 6 tahun yang menurutnya merupakan anak indigo. Suatu hari anaknya tersebut mengucapkan kalimat, Tidak penting seberapa kuat kamu di luar, yang penting adalah seberapa kuat kamu di dalam”. Kisah ini dituliskan pada halaman 10 buku tersebut.
Selain itu ada pula tulisan beberapa orang anak saat ditanya mengenai apa yang ingin mereka lalukakn di masa depan. Di halaman 55-62 buku tersebut, terburai berbagai kebijaksanaan anak-anak yang jika merekalah yang menata dunia masa kini, maka yang akan kita temui adalah kedamaian, kesetaraan, kebaikan dan rasa saling menyayangi dan mengasihi. Mereka mampu berbicara tentang impian menjadi sebuah sosok yang mampu berbagi dengan orang lain. Jika sosok ini mampu dibimbing dengan kepolosan dan kejujuran serta nurani murni hingga dewasa, maka kelak dunia akan memiliki sekumpulan orang yang mampu menyebarkan benih kebaikan yang akan berbuah hingga masa yang panjang. (bukankah kebaikan itu menular?? Jika sebuah kebaikan yang dilakukan oleh sekelompok anak ini bisa menular maka dalam 30tahun mungkin kebaikan ini bisa menyebar pada seperempat manusia di bumi. Alangkah indah dunia dengan adanya seperempat populasi yang siap menyebar cinta dan kasih sayang)
Selain itu dalam buku ini juga diungkapkan beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menyiapkan diri sendiri dalam menghadapi anak-anak indigo yang (menurut buku itu) akan membawa keseimbangan sendiri dalam hidup ketika mempraktikkannya. Beberapa tindakan tersebut antara lain Cara berbincang dengan jiwa anak-anak dalam diri anda (ringkasan), cara mengasuh jiwa anak-anak dalam diri anda.
Buku ini menarik untuk dibaca terutama oleh para orang tua dan para pengajar. Anak-anak yang hiperaktif bukan berarti mereka adalah anak-anak yang nakal. Bisa saja mereka adalah anak-anak normal yang menyimpan kelebihan yang hebat. Kebijaksanaan dan kecerdesan emosional adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dimiliki, namun anak-anak tersebut memiliki di usia yang sangat muda seolah mereka telah pernah mengetahuinya sebelumnya. Itulah sebabnya mereka menjadi sosok yang sulit ditangani karena mereka merasa bahwa mereka tidak bisa dipahami.
Quote dari buku ini
“Orang-orang yang seperti anak-anak bukanlah orang yang perkembangannya terganggu. Sebaliknya, ia adalah orang yang memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk terus berkembang setelah sebagian besar orang dewasa menenggelamkan diri mereka ke dalam kepompong kebiasaan dan kelaziman.”—Aldous Huxely—
“Mereka semua hanya ingin melakukan yang terbaik,… Mereka ingin menciptakan perbedaan, menjadi special, dan didengarkan. Mereka ingin melakukan hal-hal yang benar”— Esai oleh Justin Turner “Mereka Tidak Seperti Kita”—    Esainya membahas tentang anak-ank indigo, namun kalimat di atas saya rasa juga mengacu pada keingin pribadi hampir semua orang. Kita semua ingin dianggap special dan ingin didengarkan.

22 April 2011

Kamis, 21 April 2011

my 1st post

I forget how many blog I have..
I always hope that when I make a new blog, I can write regularly..
And If it was a promise, I believe I break a lot of it..



Today, I made this one with same hoping..
but I be tempted to make a promise to write regulary..But I want to think a bout it again..
I can read a lot of book regularly but so difficult to write any story that I have in my mind specially in English..

Sometime (maybe most of time) I'll write in Bahasa Indonesia..
but I'll try to combine it..because I want to improve my English and writing skill..



Motivasi awal menulis disini hanya karena mengingat janji yang hingga kini belum kutepati pada seseorang..
I told to someone that I'll write about
hedgehog philosophy / filosofi landak. Dia penasaran tentang filosofi yang sejak highschool kubagi dengan salah seorang teman yang cukup dekat denganku. Aku dan kawan SMA-ku saling memanggil dengan panggilan "landak1" dan "landak 2". Teman yang pernah berbagi cerita denganku ini mengenal "landak 2"-ku. Dia kemudian mempelajari sikap dan sifat kami dan setiap kali kami berbagi tentang karakter, sikap dan sifat kami maka aku as landak 1 and my friend as landak 2 always say "that's because we are hedgehog/ itu karena kami adalah 'landak'" hal ini refers to filosofi landak yang pernah ku baca di  sebuah komik ketika aku SMP.


soal kisah filosofi landak ini suatu hari akan kutuliskan secara jelas..dan sampai saat ini aku masih terus mencari komik yang menceritakan tentang filosofi landak itu..entah mengapa sulit untuk menemukannya kembali..


dalam blog ini aku akan mencoba menuliskan berbagai masalah dalam sudut pandang diriku dan "cara landak" menghadapinya..serta menuliskan berbagai pikiran yang melintas dikepalaku as ordinary peolple..dan aku ingin berbagai tulisan yang kumiliki..
hopely, someday, this blog could be inspired somepeople and maybe could help someone to face up his/her problem..


21 April 2011
15.53