Jumat, 24 Juni 2011

..jalan-jalan ke Sukabumi..


Kali ini postinganku kali ini kembali tentang kegiatan jalan-jalan.
ya maaf..karena entah kenapa sebulan terakhir kegiatanku lebih banyak berkisar tentang jalan-jalan ke berbagai tempat.
kali ini aku berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Sukabumi. Ini pun karena saya “numpang” dengan Papaku yang sedang ada rapat kerja di kota itu. Kemudian saya pun akhirnya berfikir dari pada di rumah sendirian karena kakakku juga ada kegiatan akhirnya aku memutuskan untuk ikut serta di mobil papa (tenang..nggak jadi penumpang gelap kok..hanya jadi penumpang yang merepotkan..he..he..)

Saat mendatangi kota Sukabumi aku sama sekali tidak ada pengetahuan tentang apa saja objek wisata yang ada di kota itu (ini kelalaianku secara pribadi *_*). Alhasil saat tiba di kota ini aku jadi bingung harus jalan-jalan kemana. Akhirnya, menurut info yang ada, di Sukabumi tidak ada lokasi wisata selain sebuh Taman Wisata. Karena tidak ada pilihan lain, aku pun akhirnya memilih mendatangi tempat wisata tersebut. Karena aku masih harus menunggu Papaku selesai rapat di kantor barulah kami bisa bertolak kembali menuju Bandung.

Tempat wisatanya bernama Selabintana. Tempat wisata itu merupakan sebuah hotel yang berdiri dikawasan yang cukup luas. Dengan sebagian besar merupakan taman-taman yang sejuk dan menjadi tempat yang enak untuk menjadi tujuan wisata keluarga. Tempat ini cocok untuk kegiatan yang disebut oleh Mamaku dengan nama “pindah makan”. Ya, tempat ini punya sejumlah tanah lapang yang sangat luas dengan suhu dan sejuk namun tetap mendapat sinar matahari. Sangat menyenangkan menikmati makan siang di atas tikar di tengah tanah berumput yang luas. Anak-anak bisa menghabiskan waktu dengan berlarian bahkan sambil bermain-main layang ataupun bermain sepak bola. Yang senang membaca, bisa menikati udara yang bersih dan segar serta suasana yang sejuk sembari menikmati membaca kisah dari lembaran-lembaran buku. Sedang bagi ibu-ibu, mereka bisa sejenak beristirahat dari rutinitas dengan melepas penat dan berbaring menikmati alam yang indah.

Aku yakin, tempat wisata ini pernah berjaya. Hal ini karena disepanjang jalan dari pusat kota Sukabumi menuju taman wisata ini, sejumlah besar hotel nampak berdiri di kiri kanan jalan. Namun itu dulu. Taman wisata ini mulai redup. Bukan karena sudah rusak seperti yang terjadi pada Jompie di Pare-Pare (bagi yang belum baca..silahkan baca catatan perjalananku di Taman Wisata Jompie Pare-Pare). Alam di tempat itu masih hijau. Masih sejuk. Masih indah.

Hanya aku merasa bahwa tempat ini mulai diabaikan. Perawatannya tidak lagi menjadi prioritas. Hal ini nampak dari kondisi lapangan Tennis yang tidak terurus di salah satu bagian taman, walaupun letaknya tidak terlalu mencolok, namun ketika mengelilingi seluruh wilayah taman yang luas itu kita akan melihat lapangan tersebut. Di dekat lapangan Tennis itu nampak sebuah patung wanita yang memegang kendi seoalah tengah menuangkan air. Ketika diperhatikan akan nampak bahwa itu adalah sebuah bekas kolam yang tidak lagi terisi oleh air. Sungguh sangat disayangkan.

Namun satu hal yang patut disyukuri, tempat ini masih tetap indah dan menyenangkan. Angin sepoi-sepoi yangberhembus membuat pengunjung di tempat itu merasa nyaman untuk sekedar duduk dan menikmati bacaan atau menatap alam sekitar. Sebuah kegiatan yang patut dicoba adalah bermaian layang-layang di tempat ini. mengenang keceriaan masa kecil bisa menjadi sebuah pilihan yang pantas untuk merilekskan diri.
Oiya, di tempat ini juga ada kolam renang. Jadi bagi yang punya anak atau senang berenang bisa memanfaat fasilitas ini. Hm..satu hal yang menarik perhatianku di tempat ini adalah kehadiran sebuah pohon besar..entah jenis pohon apa (apa ada yang bisa mengindentifikasinya lewat foto??) unik dan aneh..akarnya melayang dan seolah sejumlah pohon saling menjalin satu sama lain..



Untuk penyendiri seperti sebagian besar sifat Landak, tempat ini adalah tempat yang pantas untuk diperhitungkan untuk mencari kedamaian dan bercengkrama dengan pikiran-pikiran pribadi tentang banyak hal (karena dari yang kupelajari bahwa para landak adalah tipe pemikir dan agak kikuk katika harus berkomunikasi dengan orang lain). Intinya tetap ini cukup bagus. Hanya cukup temukan cara untuk menikmatinya. (^_^)v

Kamis, 23 Juni 2011

..TKI dan permasalahannya..


Assalamualaykum..
sudah lama aku tidak lagi bercerita tentang banyak hal. Sebagian besar kisahku akhir-akhir ini adalah mengenai laporan singkat tentang perjalanan ke berbagai kota. Menulis bukanlah perkara gampang atau tidak tapi tentang perkara melakukannya atau tidak. Dan sejauh ini, menulis untuk blogku tidak menjadi prioritas utama. Alasan-alasannya mungkin akan aku jabarkan nanti, ketika punya waktu dan tidak ada bahan tulisan yang lebih baik.
bukan plakat yg mreka butuhkan tapi kepedulian
Pemberitaan di berbagai media saat ini sedang sibuk berfokus pada satu masalah yang sudah mengalami pasang surut sejak dulu. PERLINDUNGAN TERHADAP TENAGA KERJA INDONESIA bukanlah masalah yang baru timbul, seingatku masalah ini pun merupakan masalah yang sudah sibuk diperbincangkan sejak aku duduk di bangku SMA (pada saat SMA keingintahuanku perihal masalah internasional meningkat dan membuatku tertarik untuk sekedar membaca meski belum mampu menganalisisnya melebihi kecerdasan siswa SMA masa saat ini). Namun pada masa itu yang menjadi pusat perhatian adalah kondisi TKI di Malaysia.
Kini masalahnya masih tetap sama yakni masalah perlindunga  TKI dengan setting-an tempat yang berbeda yakni Arab Saudi. Ruyati binti Satubino, salah seorang TKI Indonesia di Arab Saudi, dihukum mati oleh pemerintah Arab. Hukuman mati tersebut dilakukan selang 4 hari setelah Presiden Republik Indonesia menyampaikan pidatonya pada Konfrensi International Labour Organization (ILO) yang mendapat apresiasi positif oleh peseta konfrensi tersebut.
Pemberitaan ini menuai banyak suara dari masyarakat. Semuanya menyudutkan pemerintah, sayangnya tidak ada yang secara signifikan mengarahkan pemerintah untuk melakukan tindakan lebih lanjut. Ketika memahami masalah ini lebih jauh, secara pribadi pun aku setuju bahwa ini adalah kesalahan pemerintah. Aturan memang telah dibuat namun pelaksanaan dilapangan masih jauh dari layaknya. Namun di lain pihak masalah seperti ini tidak hanya butuh sikap dari pemerintah melainkan kesadaran dari masyarakat terutama mereka yang ingin bekerja sebagai TKI di luar negeri.
Terlebih dahulu kita berbicara mengenaik kewajiban pemerintah atas warganya yang ada di luar negeri apa pun keperluannya. Aturan pembuatan passport dan atau visa merupakan salah satu langkah awal bagi pemerintah untuk memulai perlindungan atas warganya. Orang-orang yang mendaftarkan diri untuk melintasi batas negara lain tentu saja perlu melaporkan diri, maka passport dan visa-lah yag menjadi surat pengantarnya. Tentu saja pendataan bagi warga yang ingin bekerja dengan yang ingin jalan-jalan akan berbeda, bahkan pendataan warga negara yang menjadi TKI sudah selayaknya dibedakan dengan yang bekerja dalam bidang yang lain. Karena kita menyadari kondisi mereka yang jauh lebih rentan terhadap kekerasan dibandingkan warga negara lain yang datang ke luar negeri dengan alasan lain.
Seingatku, aku pernah menghadiri sebuah mata kuliah dari konsulat Indonesia untuk Australia. Pembicara sempat mengingatkan kami bahwa jika datang ke luar negeri sebaiknya segera melaporkan diri 1x24 jam untuk memudahkan pendataan dan perlindungan bagi warga negara yang ada di Australia. Maka kemungkinan besar regulasi yang sama pun seharusnya diberlakukan lebih ketat oleh konsulat ataupun kedutaan besar di negara lain (inilah yang ku katakan sebagai regulasi yang baik tanpa pelaksanaan yang berarti).
Dilain pihak seharusnya saat ini, pemerintah berperan aktif dalam mendata warga negaranya yang tinggal diluar negeri. Karena sesuai dengan ketentuan dalam Konvensi Wina 1963, maka konsuler memiliki peranan untuk melindungi  kepentingan warganya di negera penerima, menolong membantu warga negara pengirim di negara penerima. Dalam ketentuan itu seharusnya pemerintah mampu mendata warga negaranya baik yang masuk secara ilegal maupun legal yang tengah menjalani proses hukum di negara penerima tempat ia bertugas. Secara pribadi kesimpulanku adalah bahwa dari lini bawah yakni konsuler dan kedutaan besar hingga lini atas yakni Presiden menanggung kesalahan yang sama.
Di lain pihak, masyarakat pun memiliki peran dalam memperpanjang jumlah korban TKI yang mengalami penelantaran hingga penganiayaan. Pengalaman di lokasi KKN ku salah satunya menjadi fakta atas pernyataan tersebut. Sangat sulit menumbuhkan kesadaran dari masyarakat mengenai pentingnya menjadi TKI melalui jalur yang legal. Mereka merasa birokrasi pemerintah dalam pengiriman TKI mempersulit. Lebih mudah mendaftar melalui agen-agen PJTKI yang berkeliaran di lingkungan mereka. Bahkan bagi mereka lebih baik mencari kerja di Malaysia dengan menjadi alasan menjenguk sanak keluarga di Malaysia agar bisa melintasi batas. Saat hal ini dilakukan mereka seolah lupa mengenai bahaya yang mengancam mereka di negara tujuan dan nanti ketika meraka mengalami kesulitan mereka akan menuntut pemerintah tidak ingin membantu mereka.
Itu sebabnya untuk menyelesaikan masalah perlindungan TKI ini perlu kerjasama dari kedua belah pihak. Denga mendaftar melalui jalur resmi dan dengan dukung pemerintah, maka perlindungan yang diberikan bisa lebih baik. Selain itu, pemerintah pun harus lebih meningkatkan pelaksanaan regulasi dan pendataan atas warga negaranya di negara penerima TKI. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak. Para mahasiswa yang melakukan KKN di berbagai perkampungan pun sebenarnya mengemban tugas untuk mensosialisasikan regulas legal terkait pengiriman TKI sehingga memperlancar hubungan timbal balik di antara keduanya.

Rabu, 15 Juni 2011

Jalan-jalan@pare-pare..part II ..

Kisah perjalananku dengan teman2 sekerja di SPORA belum berakhir. Meskipuna awal perjalanan wisata kami cukup mengecewakan akibat tertipu oleh media. Tapi kami tetap mumutuskan untuk sebisa mungkin memanfaatkan acara jalan-jalan kami sebaik mungkin. Sama seperti yang pernah aku posting bahwa apa yang kita nikmati dan jalani adalah pilihan kita sendiri. Hal ini pun nampak dari perjalanan kami di Pare-Pare.
Meski pemandangan di taman wisata Jompie tidak berhasil memenuhi imajinasi kami tentang tempat itu. Namun ternyata saat menjelajahi hutan yang tidak terawat itu, kami mendapati bahwa kami berhasil membangun imajinasi yang baru. Teman sekerjaku –k’sam- yang senang nonton film sibuk mengimajinasikan film horor di kepalanya dengan menjadikan tempat itu sebagai settingnya. (wuih, celetukan tentang “atria, jangan sembarangan ambil foto. Nanti muncul yang aneh-aneh”, sukses meredam kegiatan ‘membekukan moment’ yang sibuk kulakukan. Maklum meski bukan penakut, aku tetap tidak ingin memiliki pengalaman spiritual apapun dengan makhluk halus). Kami juga sibuk merancang masa depan yang memungkinkan bagi hutan itu. Mulai dengan menghayalkan “english camp” di Jompie, hingga menghayalkan kondisi indah taman jompie yang dialiri sungai.
Ketika beranjak dari Jompie, kami kemudian memutuskan untuk memuaskan hasrat berenang para peserta perjalanan. Mengingat saat itu masih terlalu siang untuk menginjakkan kaki di pantai, akhirnya mobil kami melaju menuju Waterboom Pare-pare. Ketika tiba di gerbang waterboom, tim jalan2 kami nyaris terbagi dua..karena setengah mau main ari, setengahnya nggak (aku jelas nggak mau berenang..maklum berenang di kolam membuat apa yang aku sembunyikan dengan jilbab jadi kelihatan..he..he..). Setelah pikir-pikir sana sini, akhirnya semua masuk di waterboom meski hanya setengahnya yang main air. Sedangkan aku dan k’hera –dalam perjalanan itu hanya ada 2 wanita- memutuskan untuk berpose ria di tepi kolam sambil menikmati es krim dan cemilan lain.
Selepas dari waterboom kami kemudian memutuskan untuk jalan-jalan di tepi pantai.  Matahari masih cukup menyilaukan namun tak lagi terasa terik. Kami memutuskana untuk berjalan-jalan di tepi pantai dan melihat aktivitas warga di sekitar pantai. Nampak sekelompok anak muda yang sibuk di tepi pantai. Ada yang terlihat menenteng sebuah ember kecil, ada yang sibuk menunduk dan memandang air di daerah dangkal sambil sesekali menjulurkan tangan ke dalam air. Saat kami dekati mereka menjadi ramah dan mau bercerita sedikit dengan kami. Ternyata mereka sedang mencari kerang untuk di jual. Katanya setiap kilo-nya bisa dijual seharga 100ribu rupiah. Akhirnya aku dan k’sam ikut membantu mereka mengumpulkan beberapa buah kerang. Setelah beberapa menit sibuk menunduk mencari kerang di daerah dangkal aku dan teman-teman yang lain akhhirnya asyik main air dan berfoto. (jelas aku yang paling eksis. Maklum baterai hapeku jauh lebih banyak sisa cadangan energinya).
Ketika waktu menunjukkan jam 5 lebih, kami akhirnya memutuskan mengakhiri wisata kami di pantai itu dan melanjutkannya dengan wisata yang tidak kalah hebohnya. Setelah shalat ashar di salah satu masjid, kami langsung mendatangi pasar (bisa disebut pasar malam sih, karena bukanya setelah jam 5 sore) untuk berbelanja. Salah satu hal yang terkenal dari Pare-pare selain pantainya adalah adanya pasar yang menjual barang-barang import dengan harga murah. Kami kemudian menghabiskan waktu hampir 2 jam di pasar itu. Aku berhasil mendapatkan 2 buah tas cantik dengan modal 40ribu rupiah. (he..he..thanks to k’hera yang membantu saya menawar).
Selepas itu kami segera makan malam karena kami tidak ingin tiba terlalu malam di Makassar. Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam saat aku menghempaskan pantat di salah satu kursi pelastik di pinggir pantai. Malam itu kami menyadari bahwa kami menghabiskan malam minggu di Pare-pare. Kami kemudia menyambut heboh kondisi itu. “Jauh-jauh bermalam minggu di Pare-pare. Hebatnya! Ha..ha..”..akhirnya pada saat bulan telah bersembunyi (karena ternyata saat itu adalah bulan mati bukan new moon seperti yang kami duga), dan jam menunjukkan pukul 8, kami kembali naik ke mobil dan bertolak menuju Makassar.
Yah, hari itu menjadi wisata yang cukup lengkap. Mulai dari agro wisata (meski gagal total *-*), wisata bahari hingga wisata belanja telah kami lewati. Ini moment yang indah karena dilewati bersama. Semoga tidak menjadi wisata terakhir bersama awak SPORA meski kini aku tidak lagi menjadi bagian dari SPORA. Jadi teringat sebuah kalimat tentang kebahagiaan saya lupa siapa yang menuliskannya bahwa “kebahagiaan tidaklah menjadi sesuatu yang membahagiaakan jika kita tidak punya siapa pun untuk diajak berbagi”

Senin, 13 Juni 2011

..cerita perjalanan @ Pare-pare..Part 1 Taman wisata Jompie yang terlupa namun terekspos




Atas permintaan dari teman-teman seperjalanan, aku merasa perlu untuk menulis tentang Taman Wisata Jompie  di Pare-pare secara terpisah dari kisah perjalan di Pare-pare. Ada sebuah alasan atas permintaan tersebut. Ini karena KAMI TELAH TERTIPU oleh media.

Keberangkatan kami ke Pare-pare dalam rangka perjalanan bersama dari staf SPORA (sebuah lembaga kursus bahasa Inggris kedokteran) sebenarnya menjadikan Taman Wisata Jompie sebagai tujuan utama. Dengan penuh semangat dan keceriaan, rombongan kecil kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Perjalanan dari Makassar hingga Pare-Pare diwarnai berbagai perbincangan menarik, mulai dari kondisi jalanan sebagai implikasi dari tidak terpilihnya Jusuf Kalla sebagai presiden (ini adalah pemikiran pribadiku yang ikut kucetuskan dalam pembicaraan itu..he..he..maklum penggemar JK..(^_^)v) hingga pembicaraan tentang kondisi pendidikan negeri ini.

gerbang kedua
Selama perjalanan kami cukup penasaran tentang kondisi Taman Wisata Jompie, karena menurut pencetus ide ini –K’ilo – menyatakan bahwa dari berita yang ia tonton digambarkan bahwa Taman Wisata Jompie ini adalah “Kebun Raya Bogor”nya kota Pare-Pare. Dengan semangat itulah kami semua turun dari mobil ketika sampai di pintu gerbang taman wisata tersebut. Namun pemandangan yang menyambut kami mulai terlihat ganjil.

kolam yang menghijau
Ketika melangkah ke pintu gerbang Taman Wisata Jompie dengan beberapa gundukan tangga, kami berharap (lebih tepat menyangka) bahwa kami akan ditagih uang tiket masuk. Namun ternyata tidak ada pungutan apa pun. Kami kemudian tersenyum melihat kolam renang yang cukup besar yang terletak beberapa langkah dari gerbang. Celetukan pun muncul, “Wah, mau ka berenang deh”, “Aduh lupa ka bawa baju ganti”. Namun senyum itupun memudar, langkah kami melambat, dan celetukan terhenti. Semua bertanya-tanya, “Ih kenapa kolamnya hijau?”, “Ndak terawat!”.

tak terurus
Kami segera melewati kolam renang tersebut dan kambali menjejak pada gundukan tangga yang terlalu tinggi, hingga mempersulit langkah kami karena yang dilakukan bukanlah melangkah melainkan memanjat tangga(serius..tangganya ketinggian..tapi kemudian kami meyadari ada jalur pejalanan kaki yang agak memutar dengan tangga yang normal..he..he..). Ketika melewati gerbang kedua taman wisata tersebut, kami disambut oleh tempat pembiakan tanaman yang tidak terurus. Banyak pot-pot bekas yang tergeletak begitu saja tanpa ada isinya.

Ketika melanjutkan langkah dan menaiki satu demi satu anak tangga, semakin terlihatlah bahwa taman wisata Jompie ini sudah lama tidak terurus. Daun-daun yang kekuningan dan mengering menggunung dan menutupi tanah dan undukan tangga. Bunyi gemerisik daun-daun kering tersebut mengikuti langkah kami. Kami bagaikan tersesat ke dalam sebuah hutan yang tak bernyawa. Selanjutnya kami terus melangkah sambil saling melemparkan godaan yang berisi cerita-cerita menakutkan yang terinspirasi oleh film-film horor da thriller yang pernah di nonton.

sungai yang mengering..
Banyak tempat-tempat duduk yang selayaknya enak menjadi tempat untuk bercengkrama dan beristirahat sambil mendengar nyanyian alam dan menikmati lukisan Tuhan berupa alam yang indah. Namun tempat-tempat tersebut sudah tampak berlumut, kotor dan ditutupi oleh dedaunan yang kering. Sungai di taman wisata tersebut pun telah mengering. Di beberapa tempat nampak bekas daun-daun yang terbakar entah dengan tujuan apa.

Pada akhirnya kami pulang dengan perasaan kecewa. Tempat yang menjadi tujuan utama dari perjalanan kami ternyata adalah sebuah kebohongan publik. Kami jadi bertanya-tanya, rekaman yang diputar oleh stasiun berita itu rekamanan tahun berapa? Kenapa tidak tampak sedikitpun kejayaan dari taman wisata tersebut?

Dan tahukah anda, hal yang sangat konyol kemudian terjadi. Salah satu koran lokal di wilayah Makassar malah mengangkat berita tentang taman wisata ini. aku jadi bertanya-tanya, “Apakah taman wisata yang aku datangi berbeda dengan taman wisata yang telah diliput oleh media?”..hm aku rasa tidak mungkin, karena di jalan ada penunjuk arah ke taman wisata tersbeut. Dan ketika kami mengikuti arah yang benar, kenapa pemandangan yang kami terima tampak berbeda??

Semoga ada orang lain yang mau share terkait dengan pemberitaan ini. Adakah di antara pembaca ada yang baru-baru ini menjejakkan kaki di taman wisata tersebut? Kalau iya, tolong bantu saya membuktikan kenyataan yang aku tulis ini tentang kondisi Taman Wisata Jompie.

P.S: ini adalah link pemda pare-pare. Sayang perawatan taman wisata ini hanya menjadi wacana. Begitu mendapat penghargaan berhenti dikelola dan dikembangkan.
http://bappeda-parepare.info/index.php?option=com_content&view=article&id=124:promosikan-potensi-parepare-pemkot-tour-jurnalisme-ke-jompie-&catid=40:berita-bappeda

Rabu, 01 Juni 2011

..perjalanan yang tak terlupakan..


Postingan kali ini masih menyangkut kegiatan rombongan yang saya dampingi. Jika sebelumnya saya menceritakan berbagai tempat wisata yang mereka datangi di Makassar dan Toraja serta perjalanan yang mereka lalui dari Makassar menuju Toraja melalui Enrekang, maka kali ini saya ingin mengisahkan berbagai perjalanan yang benar-benar akan membekas bagi rombongan ibu-ibu ini (seperti pengakuan mereka..although they said that it’s the dirtiest vacation..he..he..*_*)

Setelah belanja kopi Toraja, sekitar jam setengah 3 siang, rombongan langsung berangkat menuju kota Palopo karena sejak pagi rombongan sudah langsung check out dari hotel. Selama perjalanan, banyak obrolan seru perkelompok yang tercipta dan ada pula yang memilih tidur atau sekedar duduk diam menikmati perjalanan. Namuan sekitar pukul 3 dalam perjalanan menuju Palopo, kabut menyelimuti jalan. Hal ini menimbulkan rasa panik dan akhirnya gelombang dzikir pun tercipta. Kecemasan ini terjadi mengingat jalanan yang sedari tadi dilewati adalah jalan menurun berkelok-kelok dengan dibeberapa sisi adalah jurang yang tertutup rimbungan pohon. Kondisi kabut ini jelas menyulitkan supir untuk melihat kendaraan. Tapi alhamdulillah kondisi ini pun terlewati dengan selamat. Sekitar jam setengah 5 sore akhirnya rombongan tiba di Kantor Cabang di Palopo.

Di kantor cabang ini, ibu-ibu ini kemudian disuguhi kue-kue, minuman dan durian. Kue barongko yang menjadi makanan khas Palopo pun menjadi rebutan ibup-ibu. Kehebohan pun terjadi di ruangan pertemuan yang dijadikan tempat untuk menjamu ibu-ibu tersebut. Kemudian kehebohan berlanjut saat rombongan diarahkan ke gedung belakang untuk menyantap durian. Segera saja tumpukan-tumpukan durian dalam jumlah yang cukup banyak itu diserbu oleh ibu-ibu. Ada yang langsung asyik memakan satu buah, ada pula yang sibuk foto-foto dengan kulit durian. Hampir semua anggota rombongan menyantap durian dalam jumlah banyak. (beberapa waktu berikutnya saat dalam perjalanan, efek serbuan atas durian mulai terasa, ada yang mulai merasa kepananasan, ada pula yang tenggorokannya terasa tidak enak seperti merasa panas dalam..he..he..setiap tindakan memang memiliki beberapa konsekuaensi..saya sendiri hanya makan sekitar 3 biji dan setelah itu langsung minum air kelapa yang telah disediakan)
Akhirnya pada pukul 6 lewat 12 rombongan akhirnya kembali masuk ke bis dengan dibekali nasi dos untuk santap malam di perjalanan. Rombongan ini masih sibuk bersecerita tentang kesan di Palopo, dan orang-orang yang ada di kantor cabang Palopo. Cerita-cerita riang ini masih terus berlanjut hingga Bis berhenti di salah satu masjid. Setelah shalat maghrib rombongan langsung melanjutkan perjalanan dan kemudian singgah di beberapa Pom Bensin untuk numpang buang air kecil. Selama perjalanan menuju Toraja lalu dan perjalanan menuju Makassar kali ini, hal yang selalu dilakukan adalah mencari Toilet dan menyerbunya.  Pertama kali berhenti di Pom Bensin adalah sekitar jam 8 malam yang kemudian dilakukan pembagian makanan yang dibekali oleh orang-orang dari cabang Palopo. Setelah supir bis selesai menyantap makanannya, perjalanan pun dilanjutkan. Kemudian akhirnya sampai di Pom Bensin di daerah Siwa.
Setelah itu moment ketegangan pun muncul. Mamaku yang terbangun dari tidurnya di bis kemudian membangunkan ku seraya berbisik, “Ika coba deh kamu tanya supir bis. Apa dia gak salah jalan? Kok jalanannya sepi sekali. Dari tadi kita tidak pernah ketemu truk. Seharusnya sekarang kita sudah sampai di Sidrap”. Akhirnya menuruti perintah mama, saya pun maju ke depan dan menanyakan perihal tersebut kepada supir kemudian si supi menjawab, “kita sekarang ada di Sengkang”. Nah, bingunglah saya dan mama saya, karena meskipun sudah 11 tahun tidak pernah menjejakkan kaki lagi di tanah Sawerigading (Palopo), kami tahu bahwa tidak perlu masuk ke Sengkang kalau menuju Palopo. Setelah memastikan hal itu, muncullah kepanikan di antara ibu-ibu. Jalanan yang sepi semakin menambah kecemasan. Waktu menunjukkan jam 11 malam dan jalanan gelap dan penduduk sudah terlelap. Akhirnya, sambil menggerutu kesal supir bis pun turun dan bertanya ke rumah warga yang akhirnya kembali dan berkata, “kita salah arah”. Namun setelah memutar arah muncul mobil pribadi dari arah berlawanan, yang karena kembali di desak oleh seluruh rombongan akhirnya supir pun turun dan kembali menanyakan arah. Setelah kembali ke bis, dia mengeraskan gerutuannya dan berkata, “cocok ji arah ta tadi. Ndede putar arah ki lagi,”. Setelah itu terdengar gumaman “Alhamdulillah” dari rombongan, namun aku dan mamaku saling melemparkan tatapan kesal karena kami berdua menyadari bahwa meskipun kita telah mendekati jalan poros Sengkang-Pare-Pare, kita telah membuang waktu 2 jam di perjalanan karena pada akhirnya kita tetap harus masuk ke wilayah Sidrap. Dan ini berarti perjalanan yang harusnya membutuhkan waktu 8 jam molor hingga 10 jam

Namun ternyata selama perjalanan supir yang ternyata mengalami sakit kepala akibat ikut menyantap durian di Palopo, berkali-kali berhenti untuk beristirahat. Akhirnya jam 5 subuh, kami masih berada di wilayah Pangkep dan belum mencapai kota Pangkep. Namun sekitar jam 4. 30, pimpinan rombongan kami sangat membutuhkan toilet untuk buang ari besar. Akhirnya setelah sempat kesal karena beberapa keli melewati masjid dan sang supir enggan berhenti, akhirnya supir dipaksa untuk berhenti di salah satu warung penjual Dange yang parahnya ternyata tidak punya WC dan hanya punya sebuah jamban. Ritual pun sudah tak tertahankan untuk dilaksanakan, akhirnya dengan menerima semua kondisi yang ada semua ritula buang air pun dilakukannya. Akhirnya kisah ini menjadi kisah lucu tersendiri bagi rombongan. (he..he..petualangan yang hebat *_*)

Pada akhirnya perjalanan Palopo-Makassar kami membutuhkan waktu sekitar 12 jam. Setibanya di Makassar, rombongan langsung menikmati coto Makassar. Dan finallay saya pun bisa tiba di rumah dengan selamat.

..Cerita perjalanan..part 3..


@bus
11:49

Hari ini, Senin, 30 Mei 2011. Wisata hari ketiga bersama rombongan ibu-ibu dari kantor papaku. Perjalanan ini penuh dengan hiruk pikuk celoteh dan semangat yang naik turun yang ditingkahi keluhan dan komentar di sana sini. Pagi hari jam 6.30 sarapan yang kemudian ditingkahi dengan foto-foto di beberapa sudut hotel pun dilakoni oleh ibu-ibu. Aku pun tidak ingin ketinggalan kesempatan dengan kalimat “mumpung lagi di Toraja” (maklum, terakhir kali saya menginjakkan kaki di Toraja sekita 11 tahun yang lalu..lamaaaanyaaaa..*_*). Hotal Luta yang terletak di daerah Rantepao ini, dibelakangnya ada sungai yang mengalir. Di sudut kolam renangnya seekor kerbau bule asyik nangkring tapi yah cuma patung..he..he..



Jam 07.30, rombongan meninggalkan hotel setelah sesaat foto-foto di depan hotel Luta. Our first destination is Kete Kesu (if I’m not wrong). Objek wisata ini adalah objek wisata berupa kuburan tebing. Peti-peti mayat dan tulang belulang diletakkan di sepanjang tebing dan di dalam gua. Di bagian depar Kete Kesu, kita akan disambut oleh kehadiran sejumlah rumah ada Toraja (Tongkonan) yang berjejer dan membentuk ruang yang cukup luas di tengahnya. Biasanya tanah lapang yang kosong di antara rumah-rumah tersebut menjadi tempat diselenggarakannya pesta-pesta adat Toraja. Di Kete Kesu ada semacam tempat yang bentuknya seperti lumbung padi yang dijadikan tempat untuk menyimpan mayat. Dan satu tempat biasanya diisi oleh sekitar 40 mayat yang berasal dari keluarga yang sama. Mayat-mayat ini sebelumnya harus melalui upcara adat karena bagi orang Toraja jika tidak diupacarakan berarti belum dianggap mati (ini menurut our little boy guide..he..he..anak kecil yang udah pintar jual jasa). Data-data soal budaya ini mungkin akan saya lengkapi setelah postingan perjalanan (sayang kalau wisata ini tidak membekas dan memberikan ilmu baru). 
Pengrajin yg tengah mengukir
Oiya, satu wisata yang selalu menjadi bagian dari setiap persinggahan rombongan ini yaitu “wisata belanja”. Saat memotret Gunung Nona, ibu-ibu singgah belanja salak dan bahkan bumbu dapur (he..he..apa pun lah asal bisa dibeli..he..he..). Nah di Kete Kesu di dekat jalan masuknya ada penjual souvenir-souvenir khas Toraja seperti gelang, topi lebar, gantungan kunci, asbak rokok hingga hiasan dinding berukir atau rumah tongkonan mini yang hampir semuanya dibuat dari kayu. 

kondisi di dalam goa ketekesu yang kotor
Hm..salah satu hal yang cukup mengecewakan dari kunjungan di Kete Kesu ini adalah kondisi gua yang tidak terjaga kebersihannya. banyaknya sampah-sampah botol pelastik yang berserakan membuat pemandangan di gua tersebut menjadi tidak sedap dipandang. Hal ini bisa saja mempengaruhi minat wisatawan terhadap objek wisata ini. Selain itu, jika hal ini terus terjadi bisa saja mengakibatkan ekosistem di tempat tersebut menjadi rusak.

berpose di Londa
Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama di Ketekesu (sekitar 2jaman deh..dengan alokasi waktu terbanyak adalah wisata belanja *_*) akhirnya rombongan bertolak menuju Londa. Londa pun merupakan objek wisata berupa kuburan tebing. Bedanya dengan lebih banyak tengkorak dan mayat serta lebih banyak spot menarik yang bisa dijadikan sebagai spot untuk pasang gaya. (hwakakakakakak..lagi-lagi saya beraksi untuk jadi fotografer orang lain dan cuma bisa puas dengan upaya memotret diri sendiri dan sesekali meminta bantuan para pembawa lampu). Di Londa ini yang menyimpan tengkorak yang menjadi saksi Romeo and Juliet versi Toraja yang bunuh diri bersama karena hubungan mereka tidak direstui (menurut Mr.Pembawa Lampu, hubungan mereka tidak direstui karena mereka masih bersepupu satu kali, dan bagi orang Toraja sepupu satu kali dianggap sebagai sodara dan masih muhrim sehingga diharamkan untuk saling menikahi...wuih, kebalik donk sama orang Mandar, orang Mandar malah kalau bisa menikah dengan yang masih punya hubungan keluarga selama nggak termasuk muhrim...ya sudahlah..kok jadi ngelantur). Perjalanan menuju dan dari Londa memberikan ketegangan tersendiri karena medannya cukup sulit bagi bus yang kami tumpangi. Sehingga celoteh ribut ibu-ibu harus beberapa kali digantikan dengan teriakan kecil, istigfar dan dzikir akibat kecemasan yang muncul.

numpang motret di baby grave
Dari ketekesu, perjalanan di lanjutkan ke objek wisata Baby Grave (kuburan bayi). Tadinya, rombongan berencana untuk menempuh perjalanan ke obyek wisata ini dengan jalan kaki dari jalan poros akibat trauma perjalanan di Londa, namun karena isu “ada anjing yang habis melahirkan dan membuat anjing tersebut dapat digolongkan galak”, maka akhirnya semua meminta agar bus dapat masuk ke tempat wisata tersebut. Dan syukurlah isu itu merebak, karena ternyata jalan dari jalan poros ke objek wisata tersebut cukup jauh. Wisata ini sendiri menampilkan kuburan bayi yang diletakkan di batang-batang pohon. Sayang, aku tidak bisa melihat langsung kondisi mayat-mayat bayi yang telah di simpan di dalam pohon tersebut.

Dari ketiga tempat wisata tersebut, ibu-ibu kemudian makan siang dan sholat di salah satu rumah makan seafood yang dijamin halal di wilayah tersebut (maklum masyarakat Toraja tidak didominasi oleh orang-orang muslim sehingga daging babi lebih sering kita jumpai daripada daging ikan). Setelah makan, ibu-ibu singgah di tempat penghasil pengolah kopi dan membeli kopi Toraja sambil melihat beberapa proses dari pengolahan kopi tersebut hingga menjadi kopi bubuk yang siap dipakai. Dan kegiatan ini adalah kegiatan terakhir yang dilakukan di Toraja karena setelah itu rombongan melanjutkan perjalan untuk kembali menuju Makassar. Namun kali ini rute yang diambil adalah rute yang berbeda dari sebelumnya yakni lewat kota Palopo, bukan Enrekang seperti sebelumnya.


Namun cerita perjalanan pulang ini akan saya posting dalam bagian terpisah karena menjadi..perjalanan yang tak terlupakan..