Selasa, 20 September 2011

..pulang & rumah..

hei, katika kita berkata "saya akan pulang ke rumah" maka kita cenderung memaknakannya dengan melangkah ke tempat kita tinggal, tidur, dan berdomisili dalam jangka waktu yang lama. Rumah cenderung kita definisikan sebagai sebuah tempat kita bernaung dari panas dan hujan, tempat kita untuk beristirahat dalam wujud sebuah bangunan.

namun ada hal yang menarik yang akhirnya kupahami dari apa yang selama ini aku nonton dan baca.
orang Jepang menggunakan kata "tadaima" ketika sampai di rumah dan orang di rumah menyambutnya denga kata "okaeri nasai"..di beberapa komik dan film yang aku baca, kata "tadaima" ini diucapkan oleh seseorang tidak hanya ketika mereka baru tiba di tempat tingga yang lazim kita sebut rumah, melainkan kadang digunakan oleh orang yang telah lama berada di luar negeri atau kampung halamannya dan kemudian ketika bertemu kembali dengan orang yang menyambutnya di negeri atau kampung halamannya, maka ia akan berkata "tadaima" meskipun saat itu mereka tidak berada dalam sebuah tempat tinggal.

hingga kemudian aku akhirnya menyadari bahwa terkadang kata "tadaima" ini mereka ucapkan ketika bertemu dengan seseorang yang berarti dalam hidup mereka setelah sekian lama tak bertemu. (maaf jika ini mengingatkan anda pada beberapa adegan tipikal di komik atau drama Jepang..tapi memang begitulah adanya). ini berarti bahwa rumah yang dimaknakan sesungguhnya tidak hanya dalam wujud materi atau berbentuk sebuah bangunan. Rumah disini pun dapat berarti tempat bagi hati kita untuk pulang. Tempat dimana ada orang-orang yang kita kasihi berada.

Hm..hal ini terasa sekali saat aku berada di tanah rantau..selama ini aku bingung tentang tempat seperti apa yang layak disebut rumah. Cukupkah kriteria bahwa tempat itu kita diami selama jangka waktu yang lama?? Apa cukup jika dikatakan tempat dimana sebuah keluarga ini yang terdiri dari ayah, ibu, saudara yang berkumpul (meski kadang tidak lengkap)? Ataukah rumah adalah tempat bagi kita untuk merasakan bahwa "disinilah aku ingin kembali"?

Sangat terasa bagiku, bahwa kebahagiaan tidak akan sempurna tanpa ada rumah untuk pulang. Meski pun di Bandung aku memiliki kediaman yang sederhana, namun tempat itu tetap saja tak dapat kusebut rumah dengan sepenuh hati. Karena di tempat ini tidak ada orang yang kujadikan tempat untuk berbahagia dan ksedihan. Tempat ini tidak membawa hatiku pulang, tidak menjadi tempat bagi hati dan perasaanku untuk beristirahat.

Huft, merindukan "rumah" bagi hatiku..semoga bisa menemukan sebuah rumah kecil nan menenangkan di Bandung ini. Meski pada kenyataannya ada atau tidak rumah itu, maka Makassar akan tetap menjadi rujukan bagiku saat mengatakan "pulang".

*keluh-kesah dari orang yang tak pernah pergi jauh dari rumah dalam jangka waktu yang lama.
namun pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dan menikmati setiap detik kebersamaan yang kumiliki dengan orang-orang yang kusayangi*

Sabtu, 17 September 2011

..kalimat dari “dia”..



Moshi-moshi..
Untuk memenuhi janji yang terlanjur dibuat..aku ingin memberikan penjelasan (atau malah mengisahkan) tentang sebuah statement yang sempat aku posting di Facebook milikku.

“seseorang memintaQ untuk melupaknnya tapi menyimpan ia di hatiQ”

Itu isi postinganku. Mungkin ada yang menganggap bahwa kalimat ini lucu, tidak jelas, atau bahkan tidak bermakna. Namun ini adalah kalimat yang membuatku terdiam dan berfikir saat mendengarkannya.
Aku tidak bisa menjelaskan sejumlah fakta yang melatarbelakangi pembicaraan kami karena alasan privasi. Namun aku berharap hal itu tidak akan mengurangi apa makna dari kalimat ini. Semoga.. namun satu fakta yang jelas bahwa hubungan kami cukup spesial (nggak pake telor)..he..he..
/(^_^)\v

Kami sedang terlibat pembicaraan tentang komunikasi yang menjadi bagian dari rutinitas kami yang sangat sulit untuk kuubah. Rasanya hampir semua hal menarik yang kualami dalam hari-hari yang kulewati selalu kuceritakan padanya lewat pesan singkat. Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini, hubungan kami mengalami perubahan yang membuat pola komunikasi kami berubah. Dan harus kuakui dia bukanlah orang yang romantis bahkan dia lebih layak digolongkan sebagai orang yang cuek.
Namun karena dalam kurun waktu yang cukup lama aku terbiasa untuk menceritakan apa yang kurasakan dan kualami padanya, maka butuh usaha ekstra keras untuk mengubahnya. Terutama karena aku kini berada di kota dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya sehingga banyak hal menarik yang kualami dan ingin kubagi dengannya.

Ia kemudian berkata padaku (dengan beberapa perubahan dan penyesuaian karena dia menggunakan logat bahasa yang akan sulit dimengerti oleh sebagia besar pembaca), “Lupakan aku. Jangan terlalu sering mengingatku. Fokuslah belajar di sana, karena kamu kesana untuk sekolah. Cukup simpan aku dihatimu, itu kalimatnya yang kemudian kubantah. Memangnya bisa melupakan sesuatu namun menyimpannya dalam hati?”

“Bisa. Itu sama seperti keimanan. Dia tidak disimpan di kepala tapi di hati. Ia bisa saja kita lupakan, namun ketika ada sesuatu yang salah, maka hati akan membisikkanya. Ia akan memberi tahu bahwa ada sesuatu di dalam hati kita yang tidak menyukainya. Jika perasaan yang sekarang kamu simpan di dalam otak, maka kamu akan berusaha mengakalinya. Ketika tertarik pada seseorang kamu akan berkata, ‘ah, kan cuma untuk berteman. Jalan-jalan berdua boleh-boleh saja,’ namun ketika kamu menyimpannya di dalam hati maka hatimu akan membisikkan, ‘ini salah. Tidak boleh begini’. Tanpa perlu ada alasan karena hatimu bisa memahaminya’” penjelasannya membuatku terdiam. Sejak ia berucap “ini seperti keimanan,” kalimat itu telah membiusku dan mulai melahirkan pemahaman di hatiku.

Yah makna kalimat ini dalam. Dia memintaku untuk mengabaikannya agar waktu yang kugunakan untuk mengingat dan menghubunginya dapat kumanfaatkan untuk mengerjakan hal lain yang lebih penting untuk masa depanku. Namun, dengan menyimpan dia dihatiku, maka di saat yang sama aku akan menetapkan pagar untuk diriku sendiri agar terus menjaga hati itu. Agar ketika tiba saatnya godaan mengalihkanku maka hatiku akan mengingatkanku.

Yah sesederhana itulah maknanya. Namun aku paham apa yang dituntut dari kalimat itu.
Dan aku mulai memahami sikapnya dan menyadari bahwa dia memang cuek padaku dan sering kali terlalu sibuk dengan hal lain hingga melupakanku, namun aku kemudian menyadari bahwa aku telah disimpan di dalam hatinya karena itulah dia selalu bisa memaafkan setiap keegoisan dan kata-kataku yang menyakitkan. Dia bisa tetap peduli dan mendengarkan ketika aku sedang benar-benar butuh untuk berbagi. Karena aku disimpan di hati, maka ketika aku kembali egois dan tenggelam dengan kemaraham dia tetap saja mengirimiku pesan singkat, “bagaimana kabar mu?”. Karena dia tidak marah atas sikapku melainkan memaafkanku.
*semoga pembaca paham..
Karena kusadari bahwa yang paling bisa memahami apa yang ingin kutuliskan adalah diriku sendiri*
(^_^)v

Kamis, 15 September 2011

..kimi ni kotode..


Ho..ho..postingan kali ini menyangkut jiwa romantis manusia landak..
(^_^)v
halah..mau berjiwa landak apa bukan, cewek tuh cenderung jadi romantis kalo suka baca komik cewek dan nonton film drama..he..he..

Oiya, film yang aku tonton ini adalah sebuah film Jepang dengan tokoh utama bernama Sawako Kuronuma. Sawako tumbuh menjadi seorang anak yang cukup pasif namun senang jika bisa bermanfaat dan melakukan kebaikan untuk orang lain. Namun akibat film horor Jepang dengan tokoh hantunya bernama “Sadako” membuat, Sawako dipanggil Sadako mengingat kehadirannya yang cenderung invisible di sekitar teman-temannya. Selain itu rambut panjang yang menutupi wajah dan wajah yang selalu menunduk serta suara kecil dan cenderung diam, membuat image Sawako sebagai seorang “Sadako” semakin menguat. Kondisi ini membuat Sawako tidak bisa memiliki teman, karena orang-orang disekitarnya langsung ketakutan saat melihatnya.

Kemudian ia bertemu dengan Shota Kazehaya di hari pertama masuk sekolah menengah atas. Di hari itu, sakura berguguran, dan salah satu kelopak sakura yang jatuh di atas rambut Sawako dan diambilkan oleh Shota. Bentuk kelopak itu unik yakni berbentuk hati. (ho..ho..khas kisah romantis..ada-ada aja) setelah itu film tersebut berkisah tentang bagaimana akhirnya Sawako mulai berani untuk memiliki teman dan menyampaikan apa yang dirasakannya. Hingga akhirnya menyadari dan memperjuangkan perasaannya.
Satu hal yang kusukai dari kisah ini adalah tentang Kazehaya-kun yang ternyata telah menyukai Sawako sejak pertama bertemu dan kemudian selalu memperhatikan Sawako yang melakukan berbagai kebaikan kecil yang tak disadari oleh orang lain. Kazehaya-kun yang kemudian menjaga Sawako diam-diam membuatku suka. (aku cenderung menyukai tokoh cowok yang menyukai seorang cewek dan selalu menjaganya diam-diam. Dimana tokoh ceweknya bahkan tidak menyadari bahwa sang cowok selalu ada disisinya saat dia tengah bersedih, bingung, dan ada masalah). Pengen deh punya seseorang yang seperti itu..he..he..
(^_^)v


Mungkin ceritanya standar..namun acting pemainnya bagus. .dan cukup romantis..tapi nggak terlalu jauh dari realitas karena tidak ada tentang kesenjangan status sosial dan lain-lain.. kisah ini mengambil setting kehidupan sekolah sehingga lebih terasa real.

..menyapa kembali impian..


Menjadi penulis adalah mengungkapkan sesutau yang baru kepada orang lain.
Perjuangan hidup yang sebenarnya adalah bukan bertarung degan orang lain melainkan bertarung mealawan nasib burukmu sendiri..

Bukan hidup jika ku berhenti hari ini..
Tak ada artinya impian jika hidup tak lagi memperjuangkannya..
Tak mudah membakar semangat juang untuk menyapa mimpiku

Kalimat di atas kutemukan sebagai sebuah tulisan yang tidak selesai di laptopku. Dari tanggal pembuatannya karya ini adalah karya yang kubuat pada bulan Maret 2010 lalu. Waktu yang sangat lama. Aku ingat bahwa ditahun yang sama aku sedang belajar untuk mebulatkan tekad kembali untuk menjadi penulis. Namun sayangnya hingga kini aku tidak kunjung menghasilkan satu karya baru. Karya yang sempat termuat dalam sebuah majalah (yang kini majalah itu sudah tidak eksis lagi) pada tahun 2010 adalah karya lama yang kuedit ulang.

Entah mengapa hingga kini aku tidak lagi mempu menulis sesemangat dulu. Sesemangat ketika kau tidak memiliki sarana dan prasarana  yang memadai dan bahkan mendapat tentangan dari ibundaku. Aku rasa ini memang sering menjadi habbit manusia, bahwa perjuangan yang dilakukan dengan sekuat tenaga akan mampu menghasilkan sesutau sedangkan ketika tantangan untuk perjuangan itu telah menghilang maka semangat pun menjadi surut.


Wah, kebisaaan yang buruk yang harus dibuang sejauh mungkin nih.
aku merasa bahwa aku harus belajar kepada diriku di masa lalu. Entah bagaimana dia selalu mampu untuk terus menulis dan tidak pernah memikirkan tentang seberapa baika atu buruknya tulisan itu, dia hanya terus menikmati kegiatan menulisnya. Banyak hal yang perlu kupelajari dari sosok Atria masa lalu. Dan mungkin sebagian besar yang mengenal sosok itu pun akan berkata bahwa mereka setuju dengan hal ini.
Ok. Untuk hari ini cukup deh..

sebaiknya aku kembali berjuang untuk meraih mimpi menjadi penulis. mungkin tidak akan pernah mudah dan tidak akan menjadi lebih mudah terutama jika tantangannya datang dari diri sendiri. Tapi tidak boleh ada kata berhenti. karena jika aku berhenti sekarang, aku nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. (ada gunanya juga nonton anime dan drama. banyak kalimat yang tanpa sadar akan mampu menginspirasi hidup kita /(^_^)\)
*terima kasih sudah membaca postingan ini*
(^_^)

Rabu, 14 September 2011

..mereka bukan anakku..


Buku ini berkisah tentang usaha Torey Hayden untuk membantu anak-anak yang menderita autisme..membuat mereka siap menghadapi dunia dan memperlihatkan bahwa impian dan kenyataan tidak selalu sama..

Dalam buku ini diceritakan bagaimana Torey menghadapi Lori,seorang gadis yang  mengalami gangguan otak akibat penganiayaan yang dilakukan oleh orang tuanya yang akhirnya membuat luka di otaknya yang membuat ia tidak mampu membaca dan berhitung serta mengenali symbol.

Torey juga harus menghadapi Boo, seorang anak yang memang mengalami keterbelakangan mental yang membuat Boo sibuk dengan dunia khayalnya sehingga tak menyadari lingkungan sekitarnya dan membuat ia tak mampu diajak berkomunikasi.

Torey harus menghadapi Tomaso yang menderita rasa takut yang ditamengi oleh perilaku kasar akibat harus melihat ayah dan kakaknya di tembak mati oleh ibu tirinya.

Torey pun harus mengjadapi Claudia, gadis yang hamil di usia 12 tahun dan tidak siap menjalani itu semua…

Quote fav.Q:
-          “Nggak ada yang betul-betul sempurna. Tapi di dalam kita, kita bisa melihat semua itu sempurna, asal kita mau mencoba. Karena itu aku bisa melihat semuanya bagus.” –inilah yang dikatakan Lori pada Torey-.
-          “Manusia itu seperti umbi bunga bakung. Yang bisa kita perbuat Cuma memberikan tempat agar manusia bisa tumuh. Tapi setiap manusia bertanggung jawab atas pertumbuhannya sendiri, pada waktunya sendiri-sendiri. Kalau kita ikut-ikutan campur tangan, kita Cuma akan merusak”

SO,JANGAN PAKSA IA MEKAR. BIARKAN IA TUMBUH DAN MEKAR DI WAKTU YANG TEPAT.

Mau tahu yang Q temukan dalam novel ini??

-          Bahwa dunia itu gak adil bagi merekan yang tidak normal..mereka harus mengahadapi ketidaknormalan mereka sekaligus sikap tidak manusiawi dari lingkungan mereka..
-          Bahwa setiap dari kita punya impian dan sisi kekanak-kanakan dan kadang hal itulah yang membuat kita jadi lebih manusiawi.

APA DUNIA YANG DAMAI DAN ADIL ITU HANYA UNTUK ORANG-ORANG YANG NORMAL?

P.S: ini adalah resensi yang kutilis 4tahun lalu dari buku karya Torey Hayden. Buku-buku ini memberiku banyak pelajaran tentang dunia autisme dan dunia yang berbeda dariku. Buku-buku ini jugalah yang menyebabkan saya tidak menyukai canda kawan-kawan saya yang sering menggunakan "autis" sebagai lebel bagi mereka yang senang menyendiri dan tampak berbeda..

..mari berkisah..



Saya yakin, semua orang sudah pernah membaca sedikitnya satu buku yang berisi kisah hidup seseorang baik dalam bentuk fiksi ataupun non-fiksi. Kemudian setelah membacanya, kita semua akan berfikir dari sudut pandang kita masing-masing dan menemukan sesuatu dari kisah tersebut. Kemudian tidak sedikit juga dari kisah-kisah itu yang membuat kita berujar “betapa mengharukannya kisah ini”,  “betapa menyenangkan hidupnya”, “betapa menyedihkan jalan menuju kebahagiaan”, dan entah komentar apapun yang membuat kita merasa bahwa kisah kita tidak seperti kisah itu.
Namun aku yakin, sebenarnya setiap orang memiliki kisahnya sendiri yang jika dituliskan menjadi beberapa BAB dengan intensitas emosi yang bervariasi. Ada kalanya kisah di BAB pertama menjadi kisah yang menarik jika memiliki sisi emosional tersendiri (dan sesungguhnya setiap BAB pertama kehidupan seseorang memiliki sisi emosional terutama jika yang menuliskan kisah tersebut adalah ibu dan atau ayah dari pemilik kisah) namun ada pula yang menganggap bahwa BAB pertama kehidupannya biasa saja.
Biasanya, BAB yang paling banyak menyimpan kisah dan kutipan-kutipan pelajaran yang menarik adalah BAB Usia Remaja. Karena setiap paragrafnya akan mengungkapkan gairah-gairah masa muda yang tertarik pada hal-hal baru dan menarik dalam hidupnya. Mulai dari kisah persahabatan pertama, jatuh suka untuk pertama kali, patah hati pertama, hingga kisah-kisah lain yang membuat kita menemukan banyak ibrah (pelajaran) kehidupan. Dan intensitas emosi dan kemenarikan setiap buku kehidupan dalam BAB ini berbeda-beda. Namun setiap kisah pasti memiliki titik klimaks untuk yang terjadi di usia ini.

Kemudian untuk cerita dalam BAB Kedewasaan akan labih banyak berkisah pengalaman-pengalam dalam menghadapi tantangan hidup. Menceritakan tentang pergolakan batin, kekuatan keyakinan, jatuh dan bangun dalam menghadapi berbagai problematika hidup serta banyak hal lain yang mengisi diri dan karakter kita dengan nilai-nilai positif atau pun negatif. BAB Kedewasaan ini biasanya menceritakan titik balik dan kesadaran tertentu dari seseorang dalam hidup yang mungkin mengubah hidupnya secara permanen. Namun, sekali lagi, setiap buku kehidupan memiliki kisah-kisah “khas”nya sendiri.



Maka cobalah menulis kembali kisah hidup entah di atas sebuah kertas ataukah hanya diatas sebuah buku khayalan yang ada di dalam kepala. Dalam proses penulisan ulang itu, cobalah untuk mensyukuri setiap nikmat dan memohon ampun kepada Allah atas kelalaian kita sebagai seorang hamba Allah dan memohon maaf atas kesalahan kita kepada orang lain, serta berterima kasih kepada orang-orang yang uluran tangannya membantu kita melewati hari-hari yang terasa biasa hingga hari-hari yang terasa amat berat untuk kita lewati.
Dan kemudian kita akan menemukan bahwa kisah hidup kita tidak kalah menarik dan berarti dari apa yang baru saja kita baca.


hm..manusia landak cenderung tidak pintar bergaul dengan orang lain..sehingga menulis dan membaca terkadang menjadi pelarian yang menyenangkan bagi kehidupan mereka..(^_^)
(^_^)

P.S: setiap kali membaca kisah tentang kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup, saya jadi ingin memeluk orang tua dan orang-orang terkasihku dan mengatakan betapa saya menyayanginya agar kelak tidak akan menyesal ketika tiba saatnya kita merasakan kehilangan yang sama. Setiap kali membaca kisah tentang beratnya kehidupan seseorang, maka saya akan menimbanganya dengan hidup saya sendiri, dan ketika (dan hal ini sering terjadi) saya menemukan bahwa kehidupan saya jauh lebih mudah daripada kisah yang baru saja saya baca, maka saya akan bersyukur dan kembali menata hidup yang lebih baik lagi.
sesungguhnya apa yang kita baca akan mempengaruhi kita entah itu dengan lembut atau kuat, namun dia akan tetap memberi sesuatu dalam hidup kita.
Terima kasih telah membaca
(^_^)

Minggu, 04 September 2011

..menulis lagi..


Assalamualaykum..
Hai..hai..sudah lama yah aku tidak menulis di blog ini..
Mari kita hitung, moment apa saja yang sudah terlewati..

Hm..”my graduation”..
huwa akhirnya aku lulus juga..S1 sudah di tangan dan itu berarti waktunya kembali menghadapi realita..
tapi alhamdulillah dengan rezeki dari Allah, aku bisa melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di Hub.Internasional UNPAD..

Next, “my survival time at Bandung”..
hm..untuk yang ini aku gagal, karena ditengah bulan Ramadhan, di bulan Agustus tahun ini, aku tumbang dan jatuh sakit. Menyebabkan banyak hal terbengkalai..mulai dari kuliah, hingga puasa dan ibadah selama Ramadhan..

Kemudian ada pula moment “Idul Fitri 1432 H”..
moment ini aku lewati di Makassar bersama seluruh keluarga yang aku cintai. Ada papa, mama dan 4 saudara lelaki. Selain itu, aku bisa kembali berkumpul dengan teman terbaikku Ika Kurniasih dan keluarganya yang bagaikan rumah kedua bagiku. Tempatku melarikan diri saat tidak mampu bertahan dan menghadapi orang lain di manapun.


Terakhir adalah “The Day when I become 22th years old”..
Tanggal 2 september  22 tahun yang silam, aku lahir bersama berbagai harapan atas sebuah masa depan, meski banyak harapan itu yang tdak menjadi kenyataan. Nama belakangku “Sartika”, merupakan sebuah gambaran atas harapan orang tuaku. Mereka sebenarnya ingin aku menjadi dokter, mengingat nama itu terinspirasi dari sebuah film yang di dalamnya ada tokoh bernama “dokter sartika” yang diperankan oleh Dewi Yull. Namun meski aku tidak bisa memenuhi harapan mereka menjadi seornag dokter, maka aku akan berusaha memenuhi sedikit harapan itu. Mereka ingian aku menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain menjadi orang yang bisa menolong orang lain. Maka aku pun semakin meneguhkan tekad untuk menjadi seorang dosen, yang dengan ilmu yang aku miliki aku berharap dapat membangun generasi yang kuat dan mampu membangunkan negeri ini dari mimpi buruk yang telah berlangsung selama ini. selain itu, aku pun ingin menjadi penulis, yang kelak akan mampu mempengaruhi orang lain dengan tulisannya.

Yah itulah sedikit gambaran umum tentang banyak hal yang terlewati dalam beberapa bulan ini..
_sekarang saya masih menjadi nobody, tapi saya akan berusaha menjadi somebody yang kelak mampu memberi manfaat bagi orang lain dan bagi agama dan negara saya_