Senin, 31 Oktober 2011

..ngubek-ngubek tulisan lama..(part 2??)


Aku berjalan sendirian..lupa kemana aku ingin pergi..
Kehilangan tujuan dan pegangan di pertengahan jalan..
Aku memandang berkeliling berusaha menemukan tempat yang mampu menenangkan kegundahanku dan menjadi tempatku berteduh dari hujan yang mulai menitik  tanah..
Di tengah kegundahan itu aku terus berharap melihat sebuah wajah..
Wajah yang mampu memberiku ketentraman, kenyaman dan sekedar asa untuk tetap berjuang..
Namun aku tak tahu wajah siapa yang harus kupandang..
Wajah siapa yang aku cari..
Karena aku tahu..AKU SENDIRI..
Tak ada lagi yang mampu kujadikan kawan, sahabat dan tempat berbagi..
Tiba-tiba kesadaran menghantamku..
Ternyata cinta itu ada di sana..padanya yang tak mampu lagi ku raih..
Padanya yang telah kusia-siakan..
Padanya yang terus menanti hingga waktu  tak lagi memberinya sisa hari..

14-09-2009

..you and I..(part 2??)


Tepat satu setengah tahun yang lalu aku memilih untuk membiarkan seseorang ada di sampingku untuk berbagi banyak hal bersama. Meski awalnya keraguan menggelayutiku, namun pada akhirnya aku hanya berfikir akan membiarkannya mengalir seperti air. Arus yang membawaku benar-benar lembut. Hingga akhirnya kami menjadi saling terbiasa satu sama lain.
Aku terbiasa mengisahkan semua hal yang kutemui. Warna hariku terasa buram tanpa membaginya dengannya. Setiap kekesalanku kutumpahkan dan kutuangkan sederas-derasnya padanya saat kami bertemu. Dan dia dengan sikap cuek dan nampak tidak peduli dan terkesan tidak serius ternyata tetap menyediakan sekantong besar ruang untuk menampung semuanya. Aku yang selalu cemberut dibuatnya pada akhirnya hanya bisa tersenyum dan tertawa menyadari sikapnya yang tidak ingin memamerkan perasaanya di depan umum.
Dia adalah orang yang ketika kepalaku terhantuk sesuatu akan segera mengusapnya dan berkata, “Ah gak sakit kok! Iya kan tidak sakit?”. Mungkin kesannya dia tidak peduli, tapi aku tahu itu karena ia ingin aku segera melupakan rasa sakit itu. Dia juga adalah orang yang ketika aku mengeluh bahwa demam menyerangku akan segera menceramahiku dengan berkata, “Ada orang yang kemarin minum juice dingin padahal sudah tau lagi flu,” atau berkata “Memangnya semalam tidur jam berapa? Begadang lagi ya?”. Mungkin kesannya menghakimi, namun disetiap akhir telepon atau sms kami dia akan sibuk memaksaku untuk tidur lebih awal dan makan teratur serta makan sebanyak mungkin. (^_^) Dan aku paham sikapnya seperti itu sebagai teguran bagiku yang suka tidak peduli pada kesehatanku sendiri.
Dia adalah orang yang ketika kami jauh dan aku berkata aku sendirian di rumah akan bersedia memasrahkan telinganya menjadi panas untuk menemaniku hingga aku tidak sendirian atau hingga aku akan terlelap. Meski terkadang selama obrolan dia akan selalu berusaha membuatku cemberut atau marah. Namun aku mulai paham bahwa itu adalah cara dia untuk melihat senyumku yang akan merekah setelah cemberut sesaat padanya. Dan jika bahan obrolan kami habis maka kami akan memperdebatkan hal-hal yang kami tidak sepaham. Dan selalu dengan sukses membuat saya kesal dengan kengototannya menjadi pihak yang benar. Tapi, aku menikmati perdebatan itu. Karena itu menjadi salah satu warna dalam komunikasi kami.
Dan kini meskipun hal itu telah berubah dan kian memudar. Tergantikan oleh hal-hal yang membuat kisah kami kian sulit dijalani. Namun aku hanya terus berharap semoga moment itu akan kembali dan menjadi kian indah dalam bingkai kehalalan dariNya..insyaAllah..