Jumat, 09 Maret 2012

Biarkan Aku Bercerita

 Hari ini hujan yang menderas kembali menjadi sapaan langit kepada bumi
meski bumi tampak menolak dengan membiarkannya tergenang
namun pada akhirnya bumi tetap menerima dan menyerapnya masuk ke dalam dirinya,

  karena bumi tahu,

itulah cinta dari langit yang seberapa pun ia ingin menolaknya
cinta itulah yang membuatnya tetap hidup
Cinta yang diberikan terlalu melimpah namun akhirnya membuatnya mampu memekarkan bunga-bunga yang tampak layu dan mengering

Lantas tidakkah kamu bertanya,

mengapa langit tetap melimpahi bumi dnegan butir-butir air yang turun dengan kerasa dan deras?

  karena langit tahu,

seberapa pun bumi menolak limpahan cinta yang ia titipkan bersama hujan
kelak bumi akan meresapnya dan kemudian menemukan seberapa besar langit mencintainya.

@Sukabumi
13.17

Iri yang Baik (jika mungkin ada)

akhir-akhir ini saya sering terserang rasa iri terhadap orang lain.
Ketika melihat seseorang yang lebih baik dalam menulis dan membuat saya terkagum-kagum dengan karyanya, maka saya mendadak berfikir "Kok dia bisa? kenapa saya gak bisa? saya juga mau seperti itu!"
pikiran-pikiran ini sudah mulai menghinggapi saya sejak melepas pendidikan di bangku sarjan dan melanjutkannya di jenjang yang lebih tinggi.

Ketika pertama kali duduk di kelas matrikulasi untuk persiapan kuliah pascasarjana, saya menemukan bahwa banyak orang-orang dengan pola pemikiran yang unik dan sudut pandang yang berbeda yang mereka pakai untuk memandang satu hal yang sama benar-benar berhasil membuat mental saya jatuh (sejujurnya...) karena selama ini saya punya cukup percaya diri bahwa saya cukup mampu memahami masalah yang dibahas di mata kuliah tersebut. Namun saya kembali mendogak dan terdiam menyerap limpahan ilmu baru sambil memendam malu bahwa ternyata saya berfikir dengan cara yang biasa saja.

Bayangkan ketika membahas kematian Osama bin Laden analisis yang dijabarkan benar-benar menarik. Ada yang membahasnya murni dari sudut pandang industri senjata. Ada pula yang kemudian membahasnya dalam sudut pandang budaya sosial politik Islam. Kemudian ada yang menghubungkan tentang nilai-nilai masyarakat sebagai pemicu lahirnya terorism. Saya hanya bisa mendesah dan merasa iris setangah mati dengan ilmu yang mereka miliki. Tapi kemudian ini membuat saya terpacu untuk sering-sering duduk dan mendengarkan diskusi mereka.

Kemudian beberapa waktu lalu saya mengetahui bahwa salah seorang teman lama saya yang berbagai impian untuk menjadi penulis di masa SMA berhasil menerbitkan kumpulan sajaknya. Argh!!!!! Itu membuat saya cukup tertohok. Saya sudah tidak pernah berkarya lagi. Nyaris tidak produktif lagi kecuali jika menulis skripsi terhitung sebagai karya yang cukup produktif. (^_^)v
Namun kenyataan itu menyaddarkanku bahwa sudah  cukup lama aku mengabaikan impian masa kecilku. Kembali teringat olehku sebuah buku yang berisi kumpulan puisi kanak-kanakku yang ketika pindah dari kota Palopo ke kota Tarakan, entah tercecer dimana. Kemudian kembali kubuku-buka folder "Coret coret" di drive D laptop. Yang terpampang hanyalah karya lama di masa SMA dan sejumlah potongan karya yang tidak kunjung selesai. Malu pada diri ini..malu pada impian itu sendiri..

Kemudian baru saja saya merasa iri pada teman yang ketika saya buka blog-nya ternyata dia cukup konsisten mengisi blognya dari tahun ke tahun. Kemudian ada yang berbisik di kepala saya bahwa jika seluruh blog-blog yang pernah kubuat sejak SMA dikumpukan kembali maka entah sudah berapa banyak postingan yang saya miliki. Tapi terlambat, ketidakkonsistenanku selama ini dalam mengisi blog dan ketika menyesali kevakuman sebuah blog yang saya lakukan malah membuat blog baru. Tindakan ini malah membuat saya menuduh diri saya sendiri sebagai "orang yang senang melarikan diri dari masalah".

Argh...
Bertumpuk-tumpuk rasa malu dan iri ini harus bisa menguatkan saya.Jangan sampai melemahkan saya..
Tidak pernah kata terlambat untuk mewujudkan impian.
Dan akan selalu ada jalan pulang untuk hati yang terus penuh tekad dan tidak pernah putus asa.

Mari memupuk rasa iri ini karena ia tidak menggerogoti selama tidak menjadi dengki.
Kesuksesan orang lain jangan sampai menjadi luka bagi diri sendiri melainkan harus menjadi pembakar semangat.
(^_^)v

Kamis, 01 Maret 2012

Menemukan Diriku

Dalam perjalanan keluar dari tempat yang kusebut rumah entah mengapa terbesit pikiran tentang bagaimana orang-orang memandang pribadiku. Bertanya "Mengapa" ketika kemudian bahwa seringkali orang memberikan penilian lebih terhadap pribadiku. Sering kali mereka berharap bahwa aku bisa melakukan hal-hal yang besar yang kadang diriku pribadi agak meragukannya.

Sejak kecil harapan-harapan itu telah mulai membebaniku karena latar belakang keluargaku yang notabene dianggap keluarga yang berisi orang pintar-pintar mengingat pekerjaan yang dimiliki ayahku dan prestasi dari kakak-kakakku. Tidak jarang itu menjadi beban yang tidak bisa diterima oleh seorang gadis kecil. Kalimat "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?" menjadi jawaban dari orang-orang sekitar ketika gagal meraih prestasi sebaik kakak-kakakku. Namun ketika keberhasilan kuraih kalimat yang kudapatkan hanya "Wajar dia begitu. Kakaknya juga seperti itu", seolah apa yang kuraih bukan atas usahaku sendiri. Ya, aku hanya menjadi sosok yang hidup dibawah bayang-bayang saudara-saudara yang baik dan membanggakan. (Even sometime I'm so desperate having them..but I always proud because have them in my life)

Dan kini ketika masa kanak-kanak dan remaja telah berada dibelakang sana dan telah memunculkan karakter pribadiku dan sauadara-saudaraku yang ternyata berbeda. Aku kemudian menyadari bahwa aku tidak lagi berada di bawah bayang-bayang. Aku bahkan ditarik kepanggungku sendiri dan disorot oleh lampu yang terang seolah semua orang menungguku membuktikan diri sebagai pribadi yang layak. Dan kondisi ini mungkin lebih baik bagi ego-ku namun tidak lebih baik dalam dari kondisi sebelumnya. Kini semua orang akan memandangku sebagai diriku dan image itu akan selalu menjadi bagian dari gambaran orang-orang atas diriku.

Dari kini aku mulai bertanya-tanya kenapa terkadang aku merasa orang-orang mengharapkan aku bisa melakukan sesuatu yang lebih besar?? Kenapa mereka memiliki keyakinan besar atas diriku bahwa aku pasti bisa melakukan sesuatu itu?? Apa yang mereka lihat dariku??
Kemudian kesadaran itu datang, bahwa tidak lagi penting tetang harapan orang-orang akan diriku. Yang penting adalah bagaimana aku meyakini diriku sendiri bahwa aku mampu menjadi apa yang aku inginkan untuk diriku. Meyakini diriku mampu melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa perlu mengukur apakah itu sudah sesuai dengan harapan orang atas diriku sendiri..

Pada akhirnya semua itu tergantung dari bagaimana kita menilai diri dan meyakini diri kita sendiri..