Kamis, 28 Februari 2013

MIsteri Soliter: Selalu ada sejumlah Joker di setiap Zaman



Judul       : Misteri Soliter
Penulis:   : Jostein Gaarder
Penerbit  : Jalasutra 
Cetakan  : 2011
Tebal      : 448 halaman

Terakhir membaca buku Misteri Soliter ini adalah di tahun 2007 aku bahkan lupa apakah aku berhasil menamatkan. Namun satu yang kuingat, banyak bagian buku itu yang hilang. Pada dasarnya ceritanya unik dan membuat kita teringat pada kisah Alice in Wonderland. Dan selain itu, aku ingat bahwa pembahasan buku itu memang tidaklah ringan. 

Diceritakan dengan menggunakan sudut pandang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Hans Thomas. Hans Thomas bertutur tentang perjalan yang ia tempuh bersama ayahnya dari Norwegia menuju Athena untuk menemukan Bunda, ibunya, yang telah lama pergi meninggalkan rumah. Bunda lari meninggalkan Ayah saat Hans Thomas berusia 4 tahun dan sejak itu Ayahnya pun mulai kecanduan minuman keras.
Sejak awal Hans Thomas mengisahkan tentang silsilah keluarganya, dimana sang nenek, Nenek Line, bertemu dengan kakeknya, Ludwig Messener, seorang serdadu Jerman. Namun mereka berpisah tanpa sempat menikah sehingga Ayahnya lahir sebagai anak haram. Kehidupan sang ayah menjadi lebih berat untuk ditanggung hingga akhirnya memilih bekerja sebagai pelaut. Setelah menikah dengan ibu Hans Thomas lah akhirnya sang ayah berhenti menjadi pelaut.
Namun, kisah ini bukan berpusat pada drama keluarga itu. Melainkan pada penemuan yang menakjubkan Hans. Ia diberi sebuah kaca pembesar oleh seorang yang bentuk tubuhnya lebih kecil dari orang lain yang kemudian ia sebut kurcaci. Kemudian ia pun menerima sebuah buku mini yang berjudul “Soda Bianglala dan Pulau Ajaib”. Buku itu ia peroleh diselipkan dalam sebuah roti kismis oleh seorang tukang roti.
Sejak itu dimulailah perjalanan Hans yang menakjubkan. Tidak saja tentang perjalanannya menuju Athena untuk mencari ibunya tapi juga perjalanannya mengikuti kisah dalam buku mungil tersebut yang bercerita tentang sebuah pulau ajaibnya yang didalamnya hidup kurcaci-kurcaci yang beridentitaskan diri sebagai sebuah kartu. Selain itu, Hans yang merasa bahwa Ayahnya selayaknya diberi gelar sebagai filsuf terus terlibat dalam diskusi dengan Ayahnya tentang kehidupan. Setiap mereka berhenti beristirahat, Ayah akan memberi Hans “kuliah” filsafat yang menarik dan sering kali membuat Hans berfikir lebih banyak.
Selain itu dalam buku ini diceritakan bahwa para kartu-kartu dalam pulau ajaib  memiliki watak yang berlainan. Di ceritakan bahwa Keriting lebih lamban dan kaku kepribadiannya daripada Wajik yang samar dan sensitif. Hati lebih ramah dan lincah daripada Skop yang galak dan lekas marah (hal.218). menarik kan? Bisa saja setiap kartu pada dasarnya mewakili sifat-sifat tertentu manusia. Dan joker yang tidak masuk dalam kelompok manapun bisa saja mewakili manusia-manusia yang “berbeda” karena lebih peka dalam memandang hal sekitarnya. (Apakah manusia landak juga termasuk para joker?? Ha..ha..maaf pertanyaan ini khusus bagi yang sudah tahu tentang filosofi landak(^_^)v)
Penuturan dalam buku ini pun sangat menarik. Ringan dan penuh imajinasi namun disaat yang sama menggugah kita untuk lebih banyak berfikir tentang eksistensi diri kita sendiri. Tentang apa kita ini? Siapa? Dari mana? Dan untuk apa kita hadir di dunia ini. Di buku ini juga disebutkan bahwa ketika kita mulai menanyakan hal-hal seperti itu dan berusaha menemukan jawabannya, maka kita telah berfilsfata. Berfilsafat tidak selalu tentang berfikir dengan keras dan rumit tentang suatu hal.
Membaca buku ini adalah membaca cerita dalam cerita dalam cerita bingung?? Ha..ha.. Maksudku ada tiga lapis cerita saat membaca novel ini. Kisah Hans adalah lapis pertama, kisah hidup penulis buku ajaib itu adalah lapis kedua, dan kisah yang diceritakan dalam buku ajaib itu adalah lapis ketiga. Hebat kan??
Membaca buku ini akan membuat kita berfikir banyak tentang diri kita, dunia tempat kita tinggal, dan keyakinan kita tentang Tuhan. Salah satu kalimat yang menarik dari buku ini adalah “..Tuhan duduk di langit seraya tertawa-tawa karena orang-orang itu tak beriman kepadaNya”. Izinkan aku membocorkan tentang makna kalimat itu. Dari yang kupahami dalam Chapter “Dua Sekop” ini adalah bahwa Tuhan menciptaka manusia dan tidak henti mengamati ciptanNya itu. Tuhan tertawa karena manusia sibuk menciptakan hal-hal hebat namun lupa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dasar tentang dirinya sendiri. Salah satunya pertanyaan tentang “Darimanakah kita berasal?”
Buku ini juga bercerita tentang Socrates. Sebelum membahas sepenggal kisah Socrates sa ng ayah memberitahu arti filsuf pada Hans. “Filsuf artinya orang yang mencari kebijakan. Akan tetapi bukan berarti bahwa para filsuf memang bijak. Kau mengerti perbedaannya?” (hal. 238). Kemudian disampaikan bahwa seorang yang bijak bukanlah orang yang selalu merasa tahu tentang segala sesuatunya melainkan merasa tidak tahu sehingga ia akan terus berusaha mencari tahu.
Semakin aku membaca lebih banyak, aku menyimpulkan, Apakah Jostein Gaarder mengandaikan manusia dengan kartu-kartu itu? Apakah Soda Bianglala adalah analogi bagi isi dunia yang melenakan manusia dari pertanyaan-pertanyaan penting tentang dirinya sendiri?
Ah, sudahlah, aku sudah membocorkan terlalu banyak isi buku ini. Bagi kalian yang merasa sangat paham tentang filsafat, maka bacalah buku ini dan lihat bagaimana seorang yang cerdas memaknai keilmuannya sendiri. Tidak perlu berbangga dengan pengetahuanmu akan filsafat karena sudahkah pengetahuanmu itu membantumu menemukan dirimu sendiri?
Dan bagi yang selama ini anti terhadap filsafat atau bahkan merasa bahwa filsafat itu sangat sulit untuk dipahami, maka baca buku ini. Buku ini meskipun sebuah novel, namun memberikan kita banyak pengetahuan tentang filsafat itu sendiri. Tidak perlu memaksakan diri untuk membaca buku-buku filsafat secara khusus. Baca novel ini, jadikan pengantar untuk mencari tahu lebih banyak (jika kamu mau).
Semoga review kali ini bermanfaat yah
Fav.Quote:
“Malangnya, kau tak selalu bisa memilih kepada siapa kau akan jatuh cinta”
“Karena bintang tidak bergosip, Albert. Mereka tidak peduli bagaimana kami menjalani hidup kami masing-masing di atas bumi”
“Aku sepakat bahwa itu agak misterius. Ada lima milyar orang yang hidup di planet ini. Namun, kamu hanya jatuh cinta pada seseorang yang istimewa dan kau tak bisa menggantikannya dengan siapapun”
“Orang pasti akan heboh apabila para astronom menemukan planet lain yang memiliki kehidupan,”simpul Ayah,” Mereka tak mau takjub pada planet mereka sendiri”.
“Joker sosok kecil yang bodoh dan berbeda dari sosok lainnya. Dia bukan keriting, wajik, hati atau sekop. Dia bukan sembilan, delapan, raja, atau pangeran. Dia orang luar. Dia ditempatkan dalam pak yang sama seperti kartu lainnya, tetapi bukan termasuk kelompok itu. Oleh karena itu, dia dapat dibuang tanpa ada seorang pun yang merasa kehilangan”
“...Joker sebagai simbol filsafat. Dia selalu merasa melihat hal-hal yang ganjil yang tak terlihat oleh orang lain”.
"Kita adalah makhluk yang akan musnah. Tapi tidak demikian dengan mimpi-mimpi kita. Mereka bisa hidup dalam benak orang lain biarpun kita telah tiada"

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)