Senin, 21 Januari 2013

Ngaleut Ngabaraga Cikapundung (Bagian Akhir)


Setelah singgah sebentar di Masjid Mungsolkanas rombongan Ngaleut Komunitas Aleut kembali menyusuri pemukiman penduduk menuju Pemandian Cihampelas. Namun ternyat saya tidak memperhatikan kata “BEKAS” yang disebutkan sebelum kata “Pemandian”. Karena pembaca, TERNYATA pemandian itu sudah tidak ada dan digantikan dengan pembangunan sebuah apartemen. ARGH kesal rasanya, karena jika mendengar cerita orang-orang yang sempat mengunjungi pemandian atau kolam renang ini, ada sebuah patung Neptunus di pemandian tersebut.  Bahkan kabarnya tahun 1960an kolam renang ini amat terkenal.
jalan setapak di samping ex-kolam renang
Kami sempat berhenti di jalan setapak yang tepat berada di sisi daerah konstruksi bangunan apartemen yang mengambil tempat di bekas tempat Pemandian Cihampelas. Diceritakan bahwa daerah ini disebut Cimaung karena dulu kabarnya di daerah ini banyak Maung atau Harimau. Sedangkan ada juga cerita dari Pak Edi bahwa daerah ini disebut Cimaung karena dulunya daerah ini dipenuhi Bambu dan kabarnya nampang kepala Maung tergantung di bambu. Selain itu diceritakan pula bahwa massive-nya pembangunan di daerah sekitar menyebabkan tertutupnya sejumlah mata air yang dulu ada di sekitar Cihampelas.
Kami kemudian melanjtkan perjalanan. Sepanjang perjalan saya melihat bahwa di sisi kanan saya adalah semacam tanggul benteng yang sering kita temukan yang dibangun permanen untuk mencegah erosi. Namun ternya di sisi kiri saya berjejer rumah-rumah penduduk. Saya memperhatikan rumah-rumah penduduk ini berada di tempat yang illegal sebab seharusnya di bantaran kali dan sungai harus berupa lahan kosong. Akhirnya setelah berjalan cukup lama kami singgah di sebuah lahan kosong di sisi aliran sungai yang lantainya di beton dan sisi pinggirnya dipasangi semacam rang nyamuk. Kami kemudian beristirahat sambil mendengar Om Ridwan bercerita.
Ia bercerita bahwa kini telah dilakukan upaya revitalisasi Sungai Cikapundung. Dibangunnya semacam tebing tanggul di sisi bawah rumah penduduk yang berada tepat dipinggir Sungai Cikapundung. Selain itu dengan mulainya rekreasi air di CIkapundung ikut meningkatkan kepedulian pemerintah untuk menjaga kebersihan Cikapundung dengan mulai merevitalisasinya. Namun sangat disayangkan karena revitalisasi tidak dilakukan dari hulu Cikapundung melainkan hanya disekitar pertengahan sungai Cikapundung, padahal tidak ada gunanya terus menerus menjaga kebersihan di daerah tengah sungai jika sampah, lumpur dan limbah ternak dan manusia terus mengalir dari hulu sungai. Selain itu terlihat juga bahwa tebing bendungan  yang saya sebutkan tadi, kondisinya sebenarnya sudah perlu diwaspadai karena tampaknya air yang terjebak di bawah tanah namun tidak memiliki saluran air kembali ke arah Cikapundung mulai merembet keluar melalui celah-celah tebing tersebut. Hal ini bisa menyebabkan longsor atau bahkan tebing tersebut ambruk.
Batu tulisa yang diragukan "ketuaannya"
Setelah istirahat dengan berbelanja berbagai jajanan berakhir, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah menyusuri kembali jalur-jalur rumah penduduk yang padat kami sampai ke sebuah tempat. Awalnya saya bingung, apa yang ingin kami lihat di sana karena saya tidak melihat hal special apa pun. Memang bunyi arus sungai terdengar dan sungai Cikapundung itu sendiri dapat terlihat tapi tetap saja menurut saya tidak ada yang special. Namun ternyata di sana terdapat batu tulis. Menurut masyarakat sekitar batu tulis ini adalah peninggal bersejarah dari zaman dulu. Namun menurut Om Ridwan, berdasarkan upaya perifikasinya melalui tulisan-tulisan yanga ada, batu tulis itu masih tergolong baru. Masih buatan 1900-an karena tulisan bahasa kunonya jelek (ha..ha..alasan yang aneh).
Sangat sebentar kami di batu tulis itu, dan kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di bawah jalan layang. Awalnya saya terpana karena pertamakalinya saya benar-benar berada di bawah jalan layang. Mata saya langsung menangkap pemandangan sejumlah mobil yang terparkir rapi di tanah terbuka di bawah jalan layang. Baru kemudian saya menyadari bahwa saya mendengar bunyi aliran air dan merasakan ada angin yang berhembus. Saat melihat orang berdiri kea rah tepi sungai barulah saya melihat bahwa kali ini kami kembali berada di tepi sungai Cikapundung. Kami kembali beristirahat sejenak sambil menikmati angin yang membuai nyaman.
istirahat di bawah jalan layang di tepi Cikapundung
Kemudian diceritakan bahwa dua kali daerah ini pernah digusur, terakhir pada saat pembangunan jalan layang ini. Selain itu daerah ini pernah terendam banjir bah yang besar. Yakni sekitar tahun 1945 sebelum peristiea Bandung Lautan Api.  Hal itu karena pihak Belanda membuka semua pintu air sehingga meluaplah sungai CIkapundung. Hal ini dilakukan untuk mengacaukan gerakan laskar lokal yang berusaha merebut kekuasaan dari tentara sekutu.
makam Iboe Idjah
Setelah itu tanpa sengaja rombongan terpisah menjadi dua karena jaraknya cukup jauh. Saya dan sejumlah rombongan kecil mampir sebentar di makam Iboe Idjah yang berada sendirian di pondasi rumah seseorang. Menurut warga sekitar, kuburan tersebut tidak dapat dipindahkan. Selain itu tidak jauh dari lokasi makam Iboe Idjha ada juga perkuburan keluarga yang terletak di dekat masjid dan perkuburan itu dipagari. 
Tidak banyak waktu yang kami habiskan di sana. Kami kembali menyusuri pemukiman penduduk dan cukup terkesima setelah melewati kawasan padat penduduk tidak lama kami menemukan sebuah kost yang menurut kami tergolong elit dari segi tampilannya. Sambil berjalan saya berusaha memperhatikan sekitar karena saya pada dasarnya memiliki kemampuan navigasi yang lemah. Setelah sampai di jalan raya barulah saya sadar bahwa kami telah sampai di wilayah Wastu Kencana. Kami kemudian berkumpul di depan Pasar Bunga Wastu Kencana. Saat itu kembali diceritakan kepada kami bahwa sekitar tahun 40’an daerah menjadi salah satu tempat perkuburan di Bandung. Wilayah UNISBA saat ini dulunya merupakan wilayah perkuburan. Selain itu disebutkan pula bahwa di tengah pertigaan jalan dekat Pasar Bunga Wastu Kencana bediri sebuah patung. Patung Engelbert Van Bavervoorde yang awalnya diletakkan di tengah pertigaan jalan itu, namun karena ada seorang anak yang sempat meninggal karena bersepeda dan menabrak patung tersebut, akhirnya dipindahkanlah patung tersebut ke pinggir jalan.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke daerah Merdeka Liau. Tempat ini dinamai Merdeka Liau karena dulunya di daerah ini dijadikan pusat pembuatan genteng yang dilakukan oleh budak-budak yang di merdekakan oleh Belanda sehingga mereka pun kadang disebut sebagai Belanda kulit hitam. Mereka juga disebut kaum Mardik. Produksi genteng semakin besar ketika Bupati RAA Martanagara membuat kebijakan bahwa atap rumbai harus diganti menjadi atap genteng. 
ini Plakat di SMPN 40
Di daerah ini kami masuk ke wilayah Kawasan SMPN 40 yang termasuk sebagai salah satu cagar budaya. Tahun 1931 bangunan sekolah ini sudah ada. Awalnya sekolah ini bangun sebagia sekolah praktik bagi Kweekschool yakni sekolah keguruan. Sekolah ini sempat menjadi Sekolah Wanita atau SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Beruntung saat kami ke SMP ini adalah Abah Landung yang menjelaskan perihal sejarah sekolah itu. Ia bahkan mengantarkan kami ke bagian yang paling tua di areal sekolah. Yaitu sebuah ruangan yang dulunya berfungsi sebagai ruang arsip.  Akhirnya setelah bercerita sebentar dengan Abah Landung kami kembali melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami di jalan Cicendo. Kami ditunjukkan wilayah yang dulunya adalah kompleks pabrik Cina. Hanya sebentar kami di daerah ini. Kami pun segera melangkahkan kaki semakin dekat ke Gedung Indonesia Menggugat. Ada hal yang menarik yakni bahwa sekolah ini memiliki plakat yang isinya menjelaskan tentang jumlah sumbangan yang diterima sekolah ini.
Plakat Gedung Indonesia Menggugat
Inilah finish kami kali ini yakni di Gedung Indonesia Menggugat. Finally setelah cukup lama saya penasaran dengan Gedung Indonesia Menggugat, saya pun bisa menginjakkan kaki ke dalam gedung itu. Gedung ini menjadi saksi ketika Soekarno dan kawan-kawannya di sidangkan dan Soekarno membuat petisi yang berjudul “Indonesia Mengggat” padahal pada tahun itu, tahun 1930, Indonesia sendiri belum ada. Gedung ini sendiri sudah ada sejak 1910, namun baru terkenal pada 1930 yang bersejarah itu. 

Akhirnya seperti biasa, sesi ngaleuet Komunitas Aleut hari ini diakhiri dengan sesi sharing. Sharing kali ini hampir semuanya menemukan kesadaran yang sama yakni bahwa kita harus peduli tentang sampah. Sepanjang ngaleut seharian tak henti kami melihat sampah-sampah di sunga Cikapundung dan di daerah pemukiman warga. Hingga akhirnya sebagian besar merasa bahwa kita harus memulai perubahan terkait sampah ini dari diri kita sendiri. Bahkan diusulkan agar Ngaleut nanti bisa sambil mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan yang dilewati di jalan. Selain itu sesi sharing mengingatkan kita untuk melakukan perubahan dengan diri kita sendiri dan jangan berharap dan menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain terlebih dahulu. Karena kitalah yang pertama kali mengetahui dan menyadari fenomena tersebut sehingga kita jugalah yang harus pertama kali mengambil aksi.

Ah, baiklah mulai hari ini saya harus bertanggung jawab pada pengetahuan saya. Yakni dengan melakukan sesuatu, mungkin bisa dimulai dengan selalu menyediakan kantong kresek khusus untuk sampah di tas guna menampung sampah pribadi saat tidak menemukan tempat sampah. Dan bisa sambil sesekali mengumpulkan sampah di jalan yang ditemukan.
Ya, mari berubah dan melakukan perubahan dengan tangan kita sendiri.


Catatan:

foto-foto dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi dan foto-foto yang saya ambil dari akun twitter @KomunitasAleut dan @edisetiadi6

kalau ada keterangan atau penjelasan yang dianggap kurang atau bahkan salah jangan sungkan untuk mengomentarinya. Maklum saya pendatang di Kota Bandung (dengan navigasi yang buruk) dan masih kebingungan perihal arah dan tempat di Bandung ini.

jangan lupa buat ngikutin info tentang ngalet via Facebook Komunitas Aleut atau via @KomunitasAleut

Ngaleut Ngabaraga Cikapundung (Bagian Awal)


Ah, sejak malam sebelumnya saya sudah tidak sabar menantikan sesi Aleut kali ini. Saya yang biasanya ngalong hingga dini hari, segera beristirahat setelah pulang dari kegiatan Klub Buku Bandung. Namun tetap saja pagi itu saya terlambat sampai di Jl.Sumur Bandung no.4 tapi syukurlah saya belum ditinggalkan rombongan . Sepuluh menit setelah saya tiba di Sekret Komunitas Aleut sesi perkenalan di mulai. Kali ini ada wajah-wajah baru lagi. Ini salah satu hal yang menyenangkan dari mengikuti Ngaleut karena kita jadi mengenal lebih banyak orang. Terutama bagi saya yang pendatang di Kota Bandung ini.

Nah judul ngaleut Komunitas Aleut kali ini adalah Ngabaraga Cikapundung. Nah untuk menjawab beberapa pertanyaan teman saya di BBM saat mengupdate “Mari Ngaleut” di Privat Massage di BB maka izinkan saya kembali menginfokan bahwa dari hasil searching saya “Ngaleut” itu berasal dari bahasa Sunda yang artinya “berjalan beriringan”. Sedangkan judul ngaleut hari ini yakni “Ngabaraga” adalah bahasa Sunda yang berarti “berjalan menyusuri sungai”. Nah itu berarti hari ini kita akan menyusuri Sungai Cikapundung.

Berbeda dengan Ngaleut pekan lalu, kita tidak menyewa angkot untuk menuju tujuan pertama. Kita langsung melangkahkan kaki menuju Hutan Kota yang letaknya tidak jauh dari Sekret Aleut. Hutan Kota, bernama Hutan Babakan Siliwangi, ini bertetangga langsung dengan Sabuga-nya ITB. Begitu masuk ke dalam Hutan Kota saya mendadak merasa ada di Bali. Kenapa? Karena mata saya langsung tertumbuk pada dua buah patung yang terdapat di sana. Salah satunya adalah patung Ganesha. Selain itu ada sebuah payung yang bermotif kotak-kotak hitam putih yang langsung saya korelasikan dengan kain khas Bali dengan motif yang sama. Saya kemudian cukup terkejut saat menemukan bahwa di Hutan Kota tersebut ada Galeri dan Sanggar Seni. Saya berfikir “Wah saya tidak akan tahu bahwa ditempat ini ada galeri dan sanggar jika tidak ikut Ngaleut. Kan butuh keberanian untuk menyusuri tempat yang asing sendirian,”. Inilah yang membuat saya semangat mengikuti Ngaleut kedua saya ini, sebab saya pasti akan mendatangi tempat yang tidak akan pernah terpikir oleh saya untuk di datangi.
Dua patung yang mengingatkan saya pada Bali

Nah perihal kedua patung dan segala peralatan yang terlihat sebagai tempat pemujaan di Bali, Om Ridwan kemudian menginfokan bahwa itu adalah hal yang baru di Hutan Kota ini. Dan sejujurnya dia sendiri bingung kenapa ada tempat itu. Karena latar belakang sejarah dan budaya di Bandung tidak ada korelasinya dengan patung dan segala detail lainnya. Nah, setelah itu Om Ridwan mulai menjelaskan bahwa wilayah ini bernama Babakan Siliwangi dan Hutan Kota ini adalah satu-satunya Hutan Kota yang tersisa di Bandung. Sampai tahun 1990-an daerah sekita Hutan Kota ini masih berupa persawahan. Dan dulunya daerah ini disebut Lebak Gede (“lebak” adalah bahasa Sunda untuk kata “lembah”) karena dulu nampak jelas bahwa wilayah ini adalah sebuah lembah yang membentang hingga wilayah UNPAD di Dipati Ukur. Ia kemudian menambahkan bahwa pada tahun 1980an di tempat ini kita masih bisa melihat pemandangan tebing.


Dulunya wilayah sekitar Hutan Kota adalah milik ITB namun secara bertahap oleh pihak ITB dibagi dengan membangun Kebun Binatang, Kantor Batan (Badan Tenaga Nuklir), Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), dan sisanya diserahkan ke pemerintah daerah dan pemerintah kota. Sekedar informasi Kebun Binatang Bandung sudah ada sejak tahun 1930an. Dan ada GOSIP bahwa Kebun Binatang akan dipindahkan ke Jatinangor. Selain itu nama Jalan Taman Sari adalah Hoffman weg dan membentang dari jalan Siliwangi hingga ke Baltos (Balubur Town Square).

Salah Satu Spanduk tentang Hutan Babakan Siliwangi
Setelah penjelasan itu kami kembali melanjutkan Ngaleut ke arah gerbang Sabuga yang menghadap jalan Siliwangi. Selama di perjalanan saya melihat sejumlah spanduk yang berisi “teriakan” tentang dukungan pelestarian Hutan Babakan Siliwangi karena kabarnya ada rencana pemerintah kota berniat membangun kondominium  di wilayah Hutan Babakan Siliwangi. Setelah melewati gerbang Sabuga,  kami berhenti sebentar di sana untuk mendengarkan penjelasan. Saya tidak sempat mencatat penjelasan Om Ridwan selain bahwa dulu ITB sempat membuat usaha air kemasan. (maafkan kelalaian saya pembaca (T_T))

Wajah lain Sabuga yang baru pertama kali saya lihat
Kami kemudian mulai menyusuri aliran sungai Cikapundung. Namun terlebih dulu kami turun ke pintu air yang berada di dekat Sabuga. Saya sempat melihat Sabuga melalui sudut pandang lain dan bahkan dengan bodohnya saya bertanya itu apa dan dijawab “Sabuga” oleh peserta Aleut yang saya tanyai. (Ok, ini pengalaman baru lagi bagi saya). Begitu sampai di pintu air, mata saya terpaku pada tumpukan sampah yang berada di sekitar pintu air. Oiya, selama perjalan dari Hutan Babakan Siliwangi menuju Sabuga saya beberapa kali menemukan tumpukan sampah yang merusak pemandangan. Saya bahkan berkata “Di sini banyak nyamuk ya? Atau ini hanya perasaan saya?” lalu dijawab, “Memang banyak nyamuk”. Heh?! Ini hal yang aneh bukankah air yang mengalir tidak akan bisa didiami jentik nyamuk? Saya rasa sampah-sampah itulah penyebabnya.

Tak lama kemudian saya mendengar Om Ridwan memberika penjelasan.  Katanya pintu air ini di bangun oleh Bupati RAA Martanagara dimasa pemerintahannya (mungkin sekitar tahun 1900 kepastiannya belum berhasil saya temukan). Ia memutuskan hal ini karena pada masa ia berusaha meningkatkan penanaman singkong yang saat itu laku dipasaran. Untuk itu ia harus membangun irigasi-irigasi yang mendukung rencana tersebut karena saat itu Bandung hanya dilewati oleh sungai kecil (kali) sehingga dibuatlah pint air untuk membelokkan aliran sungai Cikapundung. Dengan pembolakan aliran sungai Cikapundung maka dibuatlah sungain buatan. Salah satu sungai buatan tersebut adalah sungai Cikapayang. Di wilayah Bandung Utara dibuat taman-taman yang aliran airnya berasal dari Sungai Cikapayang. Tapi keberadaan sampah-sampah di pintu air ini membuat debit air ke sungai Cikapayang terhambat.

kondisi pendangkalan di sekitar alur pertemuan sungai
Sekedar info, Sungai Cikapundung terbentuk dari aliran lava letusan Gunung Tangkuban Perahu yang terjadi 125.000 tahun yang lalu dan 48.000 tahun yang lalu. Panjang Sungai Cikapundung adalah 28 kilometer yang melewati 1 kota dan 2 kabupaten. Untuk di kota Bandung sendiri Sungai Cikapundung melewati 9 kecamatan dan 13 kelurahan. Dengan keterangan ini kita sebenarnya bisa meraba sevital apa keberadaan sungai ini. Namun ternyata fakta-fakta ini tidak menggerakkan pemerintah untuk berbuat lebih banyak untuk memperbaiki kondisi Cikapundung saat ini yang sudah berwarna coklat.

 Kami terus berjalan sambil saya sesekali mendengarkan penjelasan dari Pak Edi yang cukup mengenal areal pemukiman ini. Ia berkata dulu di daerah yang kami lewati adalah areal persawahan. Ia bercerita bahwa dulu lebar Sungai Cibarani, salah satu anak sungai buatan dari Cikapundung, yang tengah kami lewati dulunya lebih lebar dari sekarang. Dan kalau diperhatikan semakin lama lebarnya semakin menyempit ke arah Cihampelas dan kata beliau berakhir di sana dan entah selanjutnya dialirkan kemana.

Kami kemudian berhenti di Masjid Mungsolkanas yang berdiri pada tahun 1869. Nama Mungsolkanas sepertinya singkatan dari kalimat “Mangga Urang Ngaos Sholawat”. Namun kemungkinan besar sudah tidak ada bagian lama Masjid ini yang tersisa karena sudah beberapa kali diperbaiki dan dipugar. Namun kehadiran Masjid ini di tahun 1869 yang saat itu disekitarnya adalah pemukiman Belanda menjadi terasa menarik. Dan kini kahadiran Masjid ini jadi cukup terpencil karena terletak di tengah-tengah pemukiman yang padat penduduk. Orang-orang yang berjalan-jalan ke Kota Bandung tidak akan bisa mengakses masjid ini dengan mudah karena harus melewati gang-gang yang padat dengan hunian penduduk. Saya sebagai pendatang di kota ini pasti tidak akan bisa melihat masjid ini jika tidak ikut Ngaleut.


Sabtu, 19 Januari 2013

#Kopdar4 @KlubBuku_BDG dan launching buku “GBS Tak Menghalangi Langkahku”





Hari ini, jam 13.00 selepas kuliah saya segera melangkahkan kaki menuju gedung Graha Kompas Gramedia di jalan R.E Martadinata Bandung. Mood saya sempat memburuk karena kebiasaan angkot ngetem terlalu lama untuk menunggu penumpang membuat saya semakin terlambat menghadiri acara yang ingin saya hadiri di Gedung Kompas Gramedia tersebut. Belum lagi ternyata saya sempat nyasar mencari alamat gedung tersebut, maklum karena pada dasarnya saya adalah pendatang di Kota Bandung ini.

Akhirnya saya berhasil menemukan Gedung yang dimaksud. Setelah bertanya ke satpam saya diarahkan ke lantai dua. Ternyata tempat launching buku yang menurut info akan dilaksanakan di lantai 4 ternyata dipindahkan ke lantai 2. Ya, hari ini saya menghadiri launching buku “GBS Tak Menghalangi Langkahku: Kisah Nyata Ogest, mantan penyanyi Cilik Menghadapi Guillain Barre Syndrom”. Honestly,ini saya menghadiri launching buku dan kali ini saya hadir dengan undangan dari penulis bukunya yakni Mbak Risma Inoy dan editornya Mbak Triani Retno. Jangan salah undangannya bukan untuk saya pribadi melainkan untuk Klub Buku Bandung.

Syukurlah ketika saya datang acara belum di mulai. Saya pun segera masuk ke dalam ruangan launching dan menyapa penulisnya Mbak Risma yang tampil ceria dengan rok kuning dan jilbab bermotif abstrak warna warni. Di dekat panggung saya melihat Ogest yang akrab di sapa Aa’ Ogest tengah dikerubuti sejumlah orang. Aa’ Ogest ini tampaknya menjadikan bertopi sebagai ciri khasnya.

Tak lama kemudian wanita berjilbab merah maron mengambil mic dan membuka acara. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a oleh Pak Didin yang ternyata menurut informasi memiliki anak yang sempat terkena penyakit GBS dan berhasil sembuh. Setelah itu, sesi berikutnya menampilkan live performance oleh salah satu band dari Bandung. Dan sejujurnya saya tidak pernah berhasil mendengarkan secara jelas nama bandnya (maaf pembaca) tapi saya mengenali vokalisnya memiliki wajah yang familiar bagi saya. Ternyata saya sempat mendengar bahwa ia adalah anggota band Caffein, band yang sempat booming di zaman saya SMP :D

Setelah itu kita kemudian masuk ke sesi sharing penulis dan dengan Aa’ Ogest. Tadinya akan ada dokter yang dihadirkan untuk menjelaskan mengenai penyakit GBS ini, namun ia berhalangan hadir. Maka jadilah saat itu Mbak Risma dan Aa Ogest menjadi nara sumber yang menjawab pertanyaan orang yang hadir di acara tersebut tentang GBS.

Sesi ngobrol dengan penulis dan Aa Ogest
Sebelumnya Mbak Risma menceritakan awal perkenalannya dengan Aa Ogest. Awalnya Mbak Risma tertarik dengan lagu yang ia dengar di facebook. Ia kemudian bertanya kepada kerabatnya, The Dian, yang kemudian member tahu bahwa yang mencipta dan menyanyikan lagu tersebut adalah suaminya, Aa Ogest. Maka dimulailah perkenalan itu. Mbak Risma kemudian tertarik menulis tentang Aa Ogest. Awalnya hanya di Notes Facebook namun oleh Mbak Triani Retno atau Mbak Eno disarankan menjadikannya buku. Mbak Eno yang sebelumnya menjadi editor buku pertama Mbak Irma kemudian member deadline bagi Mbak Risma untuk menyelesaikan tulisan mengenai Aa Ogest dalam dua bulan. Nah setelah itu dimulai lah perjuangan Mbak Risma menulis di tengah-tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Ia pun ‘dihantui’ oleh Mbak Eno sang editor yang super disiplin untuk benar-benar menyelesaikan naskahnya dalam dua bulan.

Selama proses penulisannya menurut penuturan Mbak Risma, ia belajar banyak hal melalui Aa Ogest. Aa Ogest yang lumpuh dari leher ke bawah menghadapi banyak tantangan dalam hidupnya. Ia harus tidur miring ke kiri namun semua itu dijalaninya dengan tabah. Selain itu ada pengalaman ketika Mbak Risma dan Aa Ogest terjebak macet. Mbak Risma yang bergerak-gerak gelisah akhirnya dibuat malu oleh ketabahan Aa Ogest duduk diam tanpa bergerak hingga berkeringat dingin. Mbak Risma melakukan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Aa Ogest dalam keterbatasannya seperti  nge-chat menggunakan jari tengah yang tertekuk kea rah kepalan. Ternyata membuat Mbak Risma merasa tertekun. Namun Aa Ogest yang sebelumnya pernah hidup normal mampu menyesuaikan diri dengan keterbatasan yang kini dimilikinya. Ah, Mbak RIsma selama penulisannya belajar untuk tidak lagi mudah mengeluh menghadapi hidupnya. Semoga kita yang membaca buku itu pun bisa belajar hal yang sama.

Selanjutnya Pak Ogest menceritakan kisah hidupnya dengan terbata-bata dan mata yang berkaca-kaca. Ia mengucapkan terima kasih pada Alm.ibunya yang pada awal kepenulisan buku itu masih hidup dan selalu mendukung dan merawat Aa Ogest dengan penuh kesabaran. Namun saat buku ini dilaunching beliau telah menghadap Sang Ilahi. Ia pun berterimakasih pada istrinya yang dengan sabar menemaninya dan pada anaknya yang tidak merasa malu memiliki seorang Ayah yang memiliki keterbatasan seperti dirinya.

Aa' Ogest performance dengan teman2nya
Kemudian dibuka sesi pertanyaan yang berhadiah. Sejumlah hadirin mempertanyakan mengenai detail penyakit GBS atau Guillain Barre Syndrome (GBS). Ini sedikit keterangan tentang GBS yang saya ambil dari pengantar buku “GBS Tak Menghalangi Langkahku” dan dari keterangan yang disampaikan oleh Mbak Risma dan Aa Ogest. GBS merupakan peradangan yang terjadi pada sejumlah akar saraf di susunan saraf tepi. GBS merupakan penyakit autoimun yang menyerang sususan saraf tepi. Panyakit ini tidak menular dan bukan karena keturuna. Hampir dua pertiga pasien memiliki riwayat infeksi bakteri atau virus sebelum terjadinya GBS. Umumnya berupa infeksi saluran pernapasa atau infeksi saluran pencernaan. Itulah sebabnya ciri—ciri GPS biasanya adalah flu yang berkepanjangan dan diare. Kemudian gejala selanjutnya adalah mati rasa atau kebas pada jari dan kelemahan otot-otot tungkai atas hingga tidak dapat berjalan. Setelah itu secara bertahap GBS akan menyebabkan kelumpuhan seluruh anggota tubuh. Oiya, untuk mendeteksi GBS ini hanya dengan MRI.

Diceritakan bahwa pertama kali mengalami gejala-gejala GBS, Aa Ogest mengabaikannya. Ia menganggap flu yang berkepanjangan sebagai hal yang biasa dan tidak mampu didramatisir. Padahal ternyata itu adalah tanda-tanda awal GBS. Selain itu pihak rumah sakit sendiri terlambat mendeteksi penyakit yang diderita Aa Ogest. Sebenarnya GBS bisa disembuhkan jika diberi terapi pengaturan system daya tahan tubuh (immunomodulator) serta immunoglobuilin Intervena dan pertukaran plasma yang mempunyai  efektivitas sama diketahui dapat mempercebat penyembuhan. Aksi setelah sesi bertanya, para penanya diberi hadiah. Pssstt.. 2 anak klub buku berhasil memboyong pulang masing-masing 1 hadiah yang kemungkinan adalah buku.

Setelah itu akhirnya kegiatan ditutup dengan performance Aa Ogest bersama temannya. Harus saya akui bahwa suara Aa Ogest cukup bagus. Yang hebat, tidak jarang penderita GBS mengalami sesak nafas. Namun dengan semangat yang tidak memudar Aa Ogest terus berkarya. Aa Ogest menyanyikan dua buku yang mewakili cerita hatinya salah satunya adalah lagu “Nurjanah” yang diartikan cahaya surga yang ia dedikasikan untuk ibunya. Setelah itu ada performance juga dari Yanna, vokalis The Marvells yang merupakan sahabat Ogest. Setelah itu ada juga performance dari Delicious Band. Dan akhirnya ditutup dengan performance dari Faby Macellia jebolan Mamamia yang kini berkiprah sebagai penyanyi dan pemain sinetron. Faby dan Yanna termasuk orang-orang yang hidupnya disentuh oleh Aa’ Ogest dan perjuangannya menghadapi GBS.

Hari ini saya pulang membawa banyak hal. Selain dua buku gratis karena sukses menjawab dua pertanyaan. Saya juga pulang dengan membawa ilmu tentang kehidupan. Dan tentu saja semakin mengenal banyak orang.

Terimakasih ya Allah untuk hari yang indah ini 

Jumat, 18 Januari 2013

Persahabatan Yang Sempurna

setiap manusia di dunia ini tidak ada yang sama
kita tercipta berbeda
tak hanya tentang fisik
tapi juga jiwa aku..kamu..dia..mereka
adalah sosok yang punya warnanya sendiri
aku mungkin adalah abu-abu yang tak akan indah jika sendiria
kamu mungkin adalah merah yang membosankan untuk dipandang
dia mungkin adalah hijau yang terlalu terang hingga menyakitkan mata
namun ketika abu-abu, merah, hijau dan semua warna lain menyatu dalam harmoni
maka dunia tidak akan sanggup berpaling darinya

itulah mengapa Allah menciptakan kita tak serupa
karena Allah ingin kita tahu bahwa kita tak sempurna
bahwa kesempurnaan tak kan terwujud pada satu sosok
melainkan dari sekumpulan manusia yang saling melengkapi
layaknya sebuah puzzle yang tak kan bermakna jika hanya sekeping
ia akan mewujud ketika seluruh kepingannya menyatu
persahabatanlah yang menjadi bingaki dari puzzle itu

aku mungkin bukan manusia sempurna
namun merasa lengkap karena hadir kalian..

10 November 2010
00.32

P.S: segenap rindu untuk kalian.. (^_^)

Richie Rich

..mengencangkan ikat pinggang..

ada diantara kita yang mungkin pernah menonton “Richie Rich”..sebuah film anak-anak yang menceritakan tentang seorang anak berusia tahun yang harus meneruskan usaha Ayahnya setelah Ayahnya mendadak hilang dalam kunjungan ke luar negerinya.
 richie rich movieKemudian pada saat itu para dewan direksi menginginkan upaya pengiritan “mengencangkan ikat pinggang” guna menyelesaikan masalah financial perusahaan. Mereka memutuskan untuk menutup salah satu pabrik yang dianggap tidak berprospek kemudian memecat seluruh pekerja di pabrik itu. Kemudian Richie yang telah mendapatkan pendidikan mengenai manajemen perusahaan dengan kepolosan yang dipadukan kecerdasan manusiawi memutuskan bahwa program pengencangan ikat pinggang itu harus dimulai dari para pemimpin perusahaan dengan mengurangi anggaran untuk mereka..
he..he..anak pintar..anak pintar..
menarik melihat salah satu bagian ini dan menghubungkan dengan dunia nyata. Di sebuah negara ketika program “pengencangan ikat pinggang” dicetuskan oleh para pemangku jabatan, saya tidak melihat upaya pengiritan dari mereka yang jelas-jelas hidup berkelebihan dibandingkan warga negaranya. Namun mereka malah semakin mencekik leher rakyat kecil yang harus menanggung akibat dari krisis ekonomi secara langsung. Salah satu sikap “kekanak-kanakan yang egois” ini terlihat dari usaha pihak DPR untuk mendapatkan kenyamanan baru dengan membangun kantor baru. Rakyat Indonesia tidak bodoh, mereka bisa melihat bahwa DPR tidak berhak mengklaim seluruh “hak” mereka ketika mereka gagal menjalankan “kewajiban” mereka. Berapa banyak RUU yang masih tetap jadi RUU?? Berapa banyak masalah yang masih belum mampu diselesaikan oleh PBB, sebut saja Korupsi dan sodara-sodaranya, masalah perlindungan TKI, masalah menjaga kedaulatan RI, masalah pergesekan sosial yang tidak sedikit memakan korban.
Anak kecil di SD juga sudah tahu mengenai hak dan kewajiban. Lantas haruskah manusia-manusia cerdas itu diajarkan oleh anak kecil tentang keselarasana hak dan kewajiban. Para pemimpin harus sadar bahwa ketika ada sebuah masalah kalian-lah yang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinan kalian dan kalianlah yang pertama kali harus berkorban atas kegagalan itu, bukan mereka “orang bawahan” yang tidak paham apa yang telah kalian putuskan atas nama mereka.