Kamis, 28 Februari 2013

MIsteri Soliter: Selalu ada sejumlah Joker di setiap Zaman



Judul       : Misteri Soliter
Penulis:   : Jostein Gaarder
Penerbit  : Jalasutra 
Cetakan  : 2011
Tebal      : 448 halaman

Terakhir membaca buku Misteri Soliter ini adalah di tahun 2007 aku bahkan lupa apakah aku berhasil menamatkan. Namun satu yang kuingat, banyak bagian buku itu yang hilang. Pada dasarnya ceritanya unik dan membuat kita teringat pada kisah Alice in Wonderland. Dan selain itu, aku ingat bahwa pembahasan buku itu memang tidaklah ringan. 

Rabu, 27 Februari 2013

Klub Film: Belajar Bisa Melalui Media Apapun



Klub Film
             Karya Terjemahan yang berdasarkan true story
Judul                     : Klub Film
Pengarang          : David Gilmour
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan               : 2011

Buku Klub Film ini adalah terjemahan dari buku The Film Club karya seorang David Gilmour yang berkecimpung di dunia perfilman. Maka wajar jika tulisannya ini sarat dengan pengetahuan terkait film-film dan dunia perfilman lainnya.

Sabtu, 23 Februari 2013

Love Story: Kisah Cinta yang Membuatku Jatuh Cinta



Judul : Love Story
Pengarang: Erich Segal
Tebal: 155 halaman
Terbitan: Gramedia Pustakan Utama
Cetakan: September 1997

Dipinjam dari Taman Bacaan Hendra

"Gadis Jeruk" Resensi Jadul dari Blog Lamaku


Resensi ini kutemukan kembali saat merapikan folder-folder di laptop yang baru saja selesai diperbaiki.
Tak sengaja aku membuka file yang berisi copy-an semua tulisan lamaku yang berasal dari sebuah blog lama yakni "My Little Notebook". Nah ternyata ada sebuah potongan tulisan cukup singkat tentang buku "Gadis Jeruk" karya Jostein Gaarder. Tulisan ini tertulis diupdate pada 18 November 2007. Sudah 5 tahun berlalu dan pasti sudah banyak yang terjadi. Nanti aku akan mencoba meresensi buku yang sama untuk kedua kalinya.
Nah berikut resensinya

Dikisahkan bahwa cerita ini dituturkan oleh dua generasi yakni ayah dan Anak. Sang Anak-Georg- menemukan sebuah peninggalan dari ayahnya yang sudah tersimpan sangat lama. Peninggalan ini berupa sebuah surat panjang yang berisi kisah hidup ayahnya dan berbagai pertanyaan tentang hidup yang bergelayut di pikiran sang Ayah dan akhirnya memunculkan pertanyaan yang sama di kepala Georg yang mesti ia jawab untuk dirinya sendiri maupun untuk ayahnya.

Jumat, 22 Februari 2013

Surga Kecilku di Hari Jum'at



Pagi ini meski semalaman harus kurang tidur karena menyelesaikan berbagai tanggung jawab terkait tulisa menulis di beberapa komunitas, aku tetap menyambut pagi dengan ceria. Semalam duka karena kelelahan sempat menggerogotiku memaksaku menoleh ke dalam tabung kenangan. Ah, tapi lupakanlah. Masa lalu toh akan tetap jadi masa lalu selama ia tak menjadi lebih baik untuk masa depan. 

Pagi itu aku membuat janji dengan seorang penulis kece yang berdomisili di Bandung, Sisca Viasari. Setelah membaca buku “Hujan di Belanga” karyanya aku jadi bertanya-tanya apakah setting tempat yang ia ceritakan benar-benar nyata. Ia berkata bahwa tempat itu fiktif dan karangannya belaka. Namun dia tahu taman bacaan yang cukup lengkap koleksinya. Akhirnya kami membuat janji bahwa Jum’at 22 Februari jam 10 pagi akan bertemu di KFC riau.

Rabu, 20 Februari 2013

BERUANG MATAHARI

Berbekal senyum ceria
Engkau menyapa hari
Ruangan penuh dengan canda
Ungkapan hati yang ceria
Aku..kamu..kita
Nampak sibuk bekerja
Gunting dan kertas jadi cara bercerita

Selasa, 19 Februari 2013

Kisah Kecilku


Menua dan menjamah waktu bersama
Tak terlupa ketika menjadikan tanah sebagai sumber tawa
Menapaki pesisir seraya tanpa alas
Berkejaran dengan ombak yang terus menggoda pantai datang dan pergi

Berbagi spirit bersama Sahabat Klub Buku Bandung dan Keluarga Apel Bandung



Sabtu, 9 Februari 2013 mentari pagi hari Bandung seolah menjanjikan cerah.  Semua pihak cukup optimis bahwa acara akan berjalan dengan baik. Namun ternyata sekitar pukul 11.30 awan gelap mulai menggelayuti langit Bandung. Pada cukup lama mendung menutupi kota Bandung hingga akhirnya sekitar jam setengah dua hujan deras langsung mengguyur tanah Bandung. Nyaris tanpa hujan rintik. Saat itu tim “9 Summers 10 Autumns” the movie dan admin Klub Buku Bandung sudah lebih dulu ada di Potluck Kitchen di jl. H. Wasid no.31. Dan ketika hujan turun dengan derasnya kami cukup kecewa.

Jam 2 siang hujan semakin garang. Petir dan kilat bergantian meramaikan langit Bandung siang itu. Dan peserta #kopdar5 Klub Buku Bandung yang hari itu join event dengan “Sharing Keluarga Apel Bandung”. Hari itu penulis “9 Summers 10 Autuns” (9S10A), Iwan Setiawan, turut hadir. Saat mengecek kembali akun twitter @KlubBuku_BDG ada sejumlah info pembatalan kehadiran. Kecewa sih, namun kami memahami alasannya. Hujan di hari Sabtu itu sangat menggentarkan hati. Awan gelap yang ditemani petir dan guntur memang selalu menciutkan hati banyak orang.

Sambil menunggu lebih banyak Sahabat Klub Buku dan Keluarga Apel Bandung yang hadir kami pun sibuk bercerita. Sebagian besar sudah membaca buku 9S10A dan benar-benar terinspirasi oleh buku itu. Sekedar info bagi yang belum membacanya, buku ini bercerita tentang seorang anak supir angkot di kota Malang berhasil menjadi direktur di New York City. Kisahnya terinspirasi oleh kisah nyata penulisnya sendiri.
Akhirnya, pukul 3 disepakati untuk memulai acara hari itu. Ya, terlambat satu jam dari yang sebelumnya direncanakan. Acara dibuka oleh MC, Mbak Dea, yang jauh-jauh datang dari Jakarta bersama tim 9S10A The movie. Segera setelah dibuka, hak bicara diserahkan kepada Mas Iwan Setiawan.

Setelah diberi kesempatan berbicara Mas Iwan dengan segera menjelaskan tentang betapa ia ingin berbagi bukannya berdiri sebagai motivator. Dia menekankan bahwa kita harus memiliki “spirits to make your life be special”. Setiap orang itu punya cerita specialnya sendiri. Kita harus berani bermimpi, mempercayainya dan meraihnya. Ia menekankan jika seoarang anak supir angkot saja bisa mendobrak kenyataan dengan berhasil membuktikan bahwa ia bisa menjejak New York, maka semua orang seharusnya bisa.

Ia pun mengingatkan bahwa “Kebahagiaan itu akan lebih terasa jika kita memiliki seseorang yang bisa ditemani berbagi”. Bukankah itu benar? Jika melihat sesuatu yang indah dan menyenangkan kita akan berpikir bahwa moment itu akan terasa lebih sempurna dan bahagia jika kita melihatnya bersama seseorang yang kita cintai?

Banyak inspirasi yang saat itu dibagi oleh Mas Iwan. Bahkan peserta yang hadir saat itu pun ada yang berbagi kisahnya sendiri. Ada seorang wanita yang bahkan sampai mengorbankan waktu dan dananya datang dari Singapura ke Bandung demi menghadiri acara hari itu. Wanita itu kemudian bercerita tentang keterbatasannya yang sejak kecil memiliki kondisi psikis yang berbeda dari yang lain. Namun ia berhasil membuktikan diri bahwa skeptisme orang-orang di sekitarnya dan dukungan dari orang tuanya membuat ia berhasil melawan keterbatasannya itu.

Setelah saling berbagi di Sharing yang dibangun mas Iwan, kesempatan berbicara diserahkan kepada Produser Film 9 Summers 10 Autumns yakni Edwin Nazir. Film ini rencananya akan dilaunch pada April 2013 mendatang. Ia bercerita tentang proses kreatif film, kondisi di lokasi syuting yang terasa seperti sebuah keluarga besar. Tentang misi yang dibawa oleh Film 9 Summers 10 Autumns. Mas Edwin berkata, “Jika di Amerika ada American Dreams, maka Indonesia juga harus memiliki Indonesian Dreams. Mimpi itu tidak perlu muluk. Memiliki keluarga yang penuh cinta dan kebersamaan menjadi mimpi yang patut diperjuangkan”. Ya, benar adanya itu. Bukankah seseorang yang memiliki keluarga yang saling mendukung dan menguatkan akan lebih kuat menghadapi tantangan dunia daripada yang tidak memilikinya?

Apa yang dimiliki seseorang akan terasa lebih sempurna jika itu diraih dengan usaha kerasa dan penuh keringat bahkan darah. Ketika sebuah keluarga saling mendukung hingga bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya, maka itulah saat sebuah keberhasil salah satu dari mereka menjadi kesuksesan bersama yang sangat disyukuri.

Diakhir acara semua orang ditantang oleh Mas Iwan untuk membuat tantangan untuk dirinya sendiri. Pilih sebuah tantangan untuk meraih sesuatu dalam satu bulan ke dapan. Dan kita diminta untuk berjuang memenuhinya. Hasilkan sesuatu yang spesial bukan biasa-biasa saja dalam pencapaian itu. Ia bahkan bersedia mendampingi mereka yang memang ingin selalu “ditampar” agar bisa terus fokus mengejar apa yang telah ditetapkannya. Ia megingatkan kembali bahwa setiap orang memiliki keterbatasannya masing-masing, namun tidak semua orang berani untuk melawan keterbatasan itu.

Setiap orang tampak serius memikirkan apa yang mereka ingin lakukan dalam sebulan ke depan. Mereka nampak merangkai tekad sekuat baja untuk membuat diri mereka selepas acara ini menjadi pribadi yang lebih baik. Semua diharapkan pulang dengan membawa spirit untuk menjadikan cerita hidup kita menjadi spesial dan menyebarkan spirit itu kepada orang lain.

Pemenang #QuizBukuBDG
Dan setelah itu, acara ditutup dengan penyerahan hadiah berupa buku 9 Summers 10 Autumns kepada para pemenang #QuizBukuBDG yang diadakan oleh Klub Buku Bandung yang disponsori oleh 9S10A The Movie. Setelah acara ditutup semua orang berkumpul untuk berfoto bersama. Tanpa batas, tanpa hirarki, karena semua merasa menemukan keluarga baru yang ketika mereka melemah akan selalu ada untuk menguatkan tekad dalam meraih mimpi.

Selamat datang impian, selamat datang harapan, selamat datang keberanian, dan salam penuh cinta untuk Sahabat Klub Buku Bandung dan Keluarga Apel Bandung.

Jumat, 15 Februari 2013

NGALEUT PEMERINTAHAN



Pagi itu (3 Feb’13)  saya tidak bermaksud untuk menghadiri kegiatan Komunitas Aleut karena ada urusan keluarga yang harus lebih diprioritaskan. Namun akhirnya karena rindu dengan kegiatan jalan-jalan itu saya pun memutuskan untuk menyusul rombongan yang telah berangkat. Pekan sebelumnya karena urusan keluarga saya tidak bisa ikut Ngaleut transportasi. Akhirnya saya kian membulatkan tekad untuk menyusul. Segera saja saya menghubungi salah seorang penggiat Komunitas Aleut yang menginfokan saya untuk datang ke Pendopo Alun-Alun.

Raden Dewi Sartika

Ini adalah hasil co-past saya dari akun http://www.melawantua.blogspot.com/2013/01/perjalanan-raden-dewi-sartika.html

Saya belum bisa menulis lebih lengkap daripada yang ditulisnya. Jadi izinkan saya me-reblog tulisannya.

Raden Dewi Sartika


gg
Raden Dewi Sartika













Suatu pagi yang cerah berawan di awal bulan Mei tepatnya tanggal 8 Mei 2011. Matahari terlihat cukup cerah dan langit biru tampak berawan menutupi matahari, terasa pagi itu akan turun hujan di kota Bandung, namun semangat untuk menulusuri sejarah salah satu Pahlawan pelopor pendidikan di Indonesia Raden Dewi Sartika membuat seakan-akan angin sepoi-sepoi menyambut suasana pagi gembira mengalahkan cuaca yang terlihat kurang mendukung. Dari kejauhan terlihat penduduk komunitas Aleut! Telah berkumpul di halaman depan Gedug Merdeka  yang dalam sejarah zaman kolonial Hindia Belanda dahulu dikenal dengan nama Schouwburg tempat di selenggarakanya berbagai pertunjukan kesenian bagi kalangan elite Societeit Concordia.Di halaman Gedung Merdeka , tempat para pecinta pariwisata dan apresiasi sejarah berkumpul, merupakan tempat titik awal yang telah direncanakan untuk memulai trip pariwisata sejarah bertema pelopor pendidikan Raden Dewi Sartika, perjalanan di mulai dengan berjalan menelusuri jalan gang ke arah Jl. Dalem Kaum, tepatnya di antara bangunan Savoy Homan dan bangunan toko De Vries, sedikit tentang jalan antara hotel Savoy Homan dan toko De Vries, pada masa kolonial jalan tersebut merupakan jalan yang memisahka antara bagian utara yang ditempati oleh bangsa Penjajah Eropa dan bagian selatan yang di tempati oleh para pribumi, hal ini menggambarkan diskminatifnya bangsa penjajah terhadap pribumi dengan melakukan penyekatan wilayah-wilayah dengan tidak diperbolehkanya di singgahi pribumi di bagian utara Bandung.

Lanjut kearah jalan dalem kaum tepatnya di suatu jembatan sungai cikapundung, jembatan ini mempunyai sejarah yang cukup menarik pada masa lalu, dikisahkan ketika patih Bandung yang tidak lain bapak Raden Dewi Sartika bernama Raden Rangga Somanegara tidak puas atas terpilihnya Raden Adipati Aria Martanegara sebagai Bupati Bandung ke 10 menggantikan R.A Kusumadilaga yang sakit. Ketidak puasan Raden Rangga Somanegara dipicu karena adanya politik yang dilancarkan Residen Priangan dibawah L.J.D Harders yang mencium gelagat sikap kurang proaktif di dalam tubuh R. Rangga Somanegara apabila terpilih menjadi Bupati Bandung, dengan alasan itulah pemerintahan kolonial Hindia Belanda dibawah Residen Priangan mengurungkan niatnya memilih R.Rangga Somanegara menjadi Bupati bandung menggatikan R.A Kusumadilaga. Padahal seharusnya secara struktural R.Rangga Somanegara-lah yang berhak mengemban jabatan sebagai Bupati Bandung kala itu, hal tersebut beralasan karena jabatan patih Bandung memamang pantas menggantikan posisi bupati Bandung yang kala itu didera sakit panjang, yang  pada akhirnya meninggal, pasalnya apabila terjadi sesuatu hal yang memerlukan penggantian bupati, otomatis patihlah yang berhak menggantikan jabatan Bupati, itu di karenakan jabatan patih merupakan wakil bupati pada masa tersebut.
Raden Adipati Aria Martanegara
Pada perjalanan sejarahnya akhirnya R.A.A Martanegaralah yang terpilih menjadi Bupati Bandung seorang keturunan darah Sumedang anak dari Raden Kusumahyuda, cucu Pangeran Kornel yang merupakan bupati Bandung XII (1791-1892). Karena ketidak puasan itulah akhirnya R.A Somanegara merencanakan pemberontakan melakukan aksi perlawanan bersama kerabatnya terhadap Gubenerman dan Bupati Bandung yang baru dengan melakukan perencanaan peledakan jembatan cikapundung menggunakan 2 ikat dinamit masing-masing berisi 90 batang yang telah direncanakan sebelumnya. Runtuhlah ketika itu jembatan cikapundung sehingga menciptakan suara letusan dasyat yang sampai terdengar ke Pendopo Dalem, ketika itu kabarnya Bupati  R.A.A Martanegara sedang menyelenggarakan acara syukuran atas terpilihnya menjadi bupati Bandung baru. Tak khayal suasana panik pun terjadi di syukuran tersebut.

Setelah menguak cerita cukup panjang di jembatan cikapundung di jalan Dalem Kaum, perjalanan berlanjut ke arah jalan pasundan. Ketika zaman dahulu jalan pasundana merupakan wilayah Regol,  kata regol berasal dari “Regal” yang berarti bersifat kebangsawanan, regol sendiri merupakan suatu istilah yang berada di pusat pemerintahan, dengan arti demikiaan wilayah regol dapat menggambarkan bahwa dahulu wilayah regol (sekarang Jalan pasundan) merupakan tempat tinggal para abdi kaum yang tinggal pada wilayah pusat pemerintahan Bandung, yang kala itu berada di antara bangunan pendopo Bandung tempat bupati Bandung menetap dan menjalankan kekuasaan di wilayahnya.

Perjalanan akhirnya melanjut ke arah jalan Dewi Sartika, cuaca mulai tidak mendukung, hujan rintik- rintik pun mulai turun, tapi semangat mengapresiasikan sejarah Komunitas Aleut! Tidak padam, di tengah perjalanan di jalan Dewi Sartika, tampak bagian belakang pendopo Bandung terlihat, ornamen gada yang merupakan ciri khas arsitektur Ir.Soekarno nampak di atas bangunan tersebut, sedikit menggambarakan ornamen gada merupakan senjata Bima atau Werkudara pada tokoh perwayangan salah satu bagian tokoh dari Pandawa Lima yang di gemari Ir Soekarno. Oleh sebab itulah Soekarno  selalu memberikan sentuhan ornemen gada pada arsitektur bangunan yang di buatnya.

Perjalanan selanjutnya dilanjutkan ke jalan Kautamaan Istri yang merupakan tempat berdirinya sekolah Istri yang di bangun oleh Dewi Sartika pada tahun 1905  dengan dana tabungan pribadinya di bantu dana Bupati R.A.A Martanegara. Sekolah yang dibangun Dewi Sartika mempunyai sejarah panjang pada masa-kemasa di mulai pada tahun 1904 dengan nama sekolah Istri bertempat sementara di  ruangan Paseban Barat di halaman depan rumah bupati Bandung dengan murid berjumlah 60 orang siswi dan tiga orang tenaga pengajar yaitu Dewi Sartika sendiri dan dua saudara misanya yaitu, Nyi Poerwa dan Nyi Oewit. Persisnya pada tahun 1905 karena ruangan tidak lagi dapat menampung jumlah siswi yang bertambah sekolah tersebut di pindahkan ke jalan Ciguriang- Kebon Cau (sekarang:Jalan Kautamaan Istri) sekolah dibangun dengan nama sekolah yang sama yaitu Sakola Kautamaan Istri.  Barulah ketika tahun 1910 sekolah yang di bangun Dewi Sartika berubah menjadi yayasan, hal ini bertujuan untuk mengembangkan sekolah bumi putera yang di bangun oleh Dewi Sartika dengan bantuan himpunan dana dari pihak-pihak yang ingin menyumbang dana bagi pengembangan sekolah bumi putera istri, akhirnya dengan berubahnya sekolah menjadi berlandaskan yayasan sekolah isri berubah namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri.

Yayasan perkumpulan kautamaan istri yang dipimpin oleh istri Residen Priangan dalam waktu singkat membuhkan hasil,  sehingga dari dana yang di himpun yayasan, yayasan Kautamaan Istri dapat mendirikan cabang Sakola Kautamaan Istri di daerah Sumedang, Cianjur, Sukabumi ,Tasikmalaya,Garut,Purwakarta dan sebagainya. Pada tahun 1929 bersamaan genap usia 25 tahun berdirinya Sekola Kautamaan Istri. Pemerintah Hindia Belanda memberi hadiah berupa sebuah gedung baru yang permanen. Pada perayaan peresmian gedung baru itu, nama Sakola Kautamaan Istri diumumkan berganti menjadi Sekola Raden Dewi. Pada perkembanganya pada zaman penjajahan Jepang Sakola Raden Dewi berganti nama menjadi Sekolah Gadis no 29.
Sekolah Kautamaan Istri
Sampai setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 Sekolah Rakyat Gadis no.29 masih tetap dibuka, tetapi menjelang meletusnya perang kemerdekaan sekolah istri-pun ditutup.pada masa setelah kemerdekaan tepatnya tanggal 17 April 1951 dibentuklah sebuah yayasan kembali dengan nama Yayasan Dewi Sartika. Di awal pembentukan yayasan Dewi Sartika, Sekolah Dewi Sartika dijadikan sekolah Guru Bawah (SGB) namun hal ini tidak bertahan lama karena Surat Keputusan Mentri Pendidikan Dasar pada saat itu untuk menghapuskan Sekolah Guru Bawah, maka Sekolah Dewi Sartika berganti menjadi Sekolah Kepandaiaan Puteri (SKP) Dewi Sartika.Lalu pada tahun 1963 SKP berubah nama menjadi Sekolah Kejuruan Kepandaian  Puteri (SKKP) Dewi Sartika lalu pada perkembangan selanjutnya akhirnya Tahun 1968 Yayasan Dewi Sartika mendirikan sekolah dasar yang dinamakan sekolah SD Dewi Sartika di tempat yang sama sampai sepuluh tahun berikutnya pada tahun 1978, Yayasan Dewi Sartika membentuk sekolah menengah pertama yang dinamakan SMP Dewi Sartika sampai sekarang.

Pada masa Bandung Lautan Api tahun 1946, pada masa itu Mentri Petahanan Republik Indonesia Mr.Amir Syarifuddin mengumumkan perintah agar semua penduduk pribumi di Bandung mengungsi ke wilayah Bandung selatan sampai ke luar kota Bandung, karena pada saat itu kota Bandung akan di bumi hanguskan. Dengan kejadiaan itu akhirnya Dewi Sartika bersama anak dan cucu pergi mengungsi ke ciparay, kemudian melanjutkan perjalanan ke Garut dilanjut ke daerah antara kota Tasikmalaya dan Ciamis yaitu Desa Cineam. Dalam pengungsiaan ini Dewi Sartika merasa sedih dan prihatin memikirkan sekolah dengan susah payah ia perjuangakan.Akhirnya pada tanggal 11 September 1947 Dewi Sartika di panggil Yang Maha Kuasa, karena sakit yang diderita olehnya, Kemudiaan dalam suatu upacara pemakaman yang sederhana, Dewi Sartika dimakamkan di Pemakaman Cigagadon Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tibalah sampai tiga tahun kemudian, persisnya pada tahun 1950, kerangkanya dipindah dan dimakamkan kembali di Komplek Pemakaman Bupati Bandung di jalan Karang Anyar Bandung.

Melihat sejarah Dewi Sartika dalam dunia pendidikan, Dewi Sartika merupakan tokoh wanita yang  membentuk para wanita indonesia di masa lalu hingga masa kini, melalui berbagai kegiatan pendidikan yang diperjuangkan sejak tahun 1904. Prinsip yang sejak dahulu ditanamkan kepada anak didiknya dulu menjadi kenyataan bahwa “Ari jadi awewe kudu sagala bisa!” telah terbukti nyata pada zaman sekarang.