Rabu, 24 April 2013

Kutipan "Perpustakaan Bibbi Bokken"

"Ini pemikiran yang penting, Nils. Maksudku, fantasi tak berbeda dengan kebohongan. Terkadang fantasi adalah kebohongan itu sendiri."

"Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias. Maksudku mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli kebohongan mereka."

"Aku rasa, beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi. Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang didalamnya kebohongan berkumpul berbaris-baris, dan kita menyebutnya sebagai perpustakaan. Kita pun dapat menjulukinya sebagai "laboratorium kebohongan" atau yang paling mirip2 itu. Mungkin paling baik kita menamai perpustakaan dengan "tempat penyimpanan lelucon dan fakta""

Selasa, 23 April 2013

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita




Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.

Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.

Beliau adalah perempuan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. R. Dewi Sartika adalah perempuan Menak (priyayi) yang enggan dibatasi oleh kekakangan adat yang menurutnya tidak akan membawa kesejahteraan bagi banyak orang. Beliau berasal dari keturunan yang sangat dekat dengan pemerintahan Bandung. Dewi Sartika lahir di Bandung pada 4 Desember 1884 dari ayah yang bernama Raden Rangga Somanagara dan ibu yang bernama Raden Ayu Rajapermas. Kakek dari ibunya adalah mantan Bupati Bandung yakni Adipati Wiranatakusumah IV atau yang disebut Dalem Bintang.

Pada tahun 1891, ayahnya diangkat menjadi Patih Bandung. Sejak itu beliau menghabiskan masa kecilnya di Kepatihan yang kini disebut Jalan Kepatihan. Selain itu, berkat pemikiran modern ayahnya, Dewi Sartika sempat mengenyam pendidikan di Erste Klasse School yang setingkat dengan sekolah dasar. Saat itulah beliau belajar membaca, menulis dan sedikit bahasa Belanda. Beliau hanya bersekolah sampai tingkatan yang setara dengan kelas 2 SD karena ayahnya terlibat dalam sebuah kasus politik yang akhirnya membuat ayahnya diasingkan.

Kasus yang melibatkan ayahnya dikenal sebagai “Peristiwa Dinamit Bandung”. Kejadiannya terjadi pada tanggal 14 dan 17 Juli 1893. Somanegara memberontak pemerintahan Bupati RA Martanegara yang baru saja diangkat menjadi Bupati Bandung menggantikan R.A. Kusumadilaga yang meninggal pada 11 April 1893. Pemberontakan ini dilakukan karena kekecewaan Somanegara sebab RA Martanegara bahkan tidak menjadi tokoh yang dianggap sebagai calon potensial untuk menggantikan RA Kusumadilaga. Somanegara dan ayahnya (kakek Dewi Sartika), R. Demang Suriadipraja, menyusun rencana untuk mengacaukan kondisi di Bandung. Pada tanggal 14 Juli saat dilakukan pesta penyambutan RA Martanegara sebagai Bupati Bandung, muncul ledakan yang berasal dari arah timur Alun-Alun yang ternyata adalah bunyi ledakan dinamit di jembatan Kali Cikapundung. Kemudian pada tanggal 17 Juli kembali dilakukan peledakan di pacuan kuda Tegallega. Namun saat itu pelaku peledakan berhasil ditangkap dan ditelusurilah otak dari kejadian tersebut. Tanggal 21 Juli dilakukan razia dan penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai pelaku kejadian tersebut. Hingga akhirnya dinyatakanlah bahwa Somanegara dan ayahnya sebagai otak dan pelaku kejadian peledakan tersebut. Akhirnya oleh Gubernur Jendral diputuskanlah bahwa Somanegara diasingkan ke Ternate dan RD Suriadipraja diasingkan ke Pontianak.

Tahun 1894, berangkatlah Somanegara ke pengasingannya di Ternate didampingi oleh istrinya, Rajapermas. Sedangkan Dewi Sartika dan ketiga saudaranya dititipkan kepada keluarga di Bandung dengan terpisah-pisah. Dewi Sartika sendiri di titipkan di pamannya Raden Demang Suriakarta Adiningrat (kakak dari ibunya)yang saat itu menjabat sebagai Patih Afdeling Cicalengka. Kehidupan Dewi Sartika di Cicalengka tidaklah mudah karena berstatus sebagai anak dari seorang buangan politik sehingga orang-orang berhati-hati bersikap terhadap Dewi Sartika. Mereka takut dianggap terlibat dengan skandal politik.

Rabu, 03 April 2013

Cintia



Pernahkah kau berada di saat kehilangan yang terkasih?
Bukan..bukan..kekasih hati yang sering disebut pacar. Namun yang lebih dalam dari itu yakni sahabat. Pernahkah kau merasakan kekosongan yang dalam karena kepergian dia yang kau sebut sahabat?
Malam ini aku menjadi korbannya. Malam ini tepat setahun Cintia pergi. Pergi ke tempat yang teknologi sehebat apa pun tak kan bisa menjangkaunya. Ia pergi bersama ceria-ku.

“Lusi, kamu ngapain disini sendiri, nak?” mendadak Bunda datang menyapaku. Meluruhkan hening yang tercipta di balkon rumah.
“Lusi kangen Cintia, Bunda. Lusi sedang menikmati benda langit favorit Tia,” jelasku sambil berusaha meredam tangis yang nyaris tak terbendung.
“Maaf ya Sayang, Bunda nggak bisa bantu apa-apa. Hanya kamu yang bisa menghadapinya. Rasa sedih dan kehilangan itu harus kamu hadapi sendiri,” tutur Bunda sambil mengelus lembut rambutku. “Kamu Bunda bawakan teh manis hangat yah. Biar gak kedinginan,” tawar Bunda yang kujawab dengan anggukan.
Aku kembali menatap langit yang saat itu tengah cerah. Tumben. Padahal akhir-akhir ini Bandung selalu dirundung mendung dan hujan.

“Tia, kamu pernah bilang saat aku sedih cukup menatap langit, maka aku nggak akan merasa sendirian. Tapi tetap saja, bintang paling terang pun tak bisa mengganti hadirmu”

Pilihan



“Kelak semua akan memaksamu memilih. Ketika saat itu datang, aku lebih suka kamu memilih untuk mengikuti kehendak orang tuamu,” kalimat itu dilontarkannya saat aku bercerita tentang rencana perjodohan yang ditetapkan oleh orang tuaku.

Ia Krisna, sosok yang menemani hari-hariku dalam 1 tahun ini. Pria yang acap kali mengomeliku tentang kecenderunganku untuk mendebat banyak hal.
“Sayang, tidak semua hal harus kamu debati. Terkadang lebih baik diam,” itu salah satu tegurannya saat ia mendapatiku telah mendebat pembicaraan seseorang. Dia tidak akan menegurku di depan umum. Ketika kami telah berdua atau sedang ngobrol via gelombang yang diperantarai oleh handphone maka ia akan mencoba mengingatkanku tentang kebiasaan burukkku yang satu itu.

Aku kini terjebak antara Rian dan Krisna. Ya, Rian adalah pria yang dipilihkan orang tuaku untuk menjadi pendamping hidupku. Aku berupaya keras untuk menolaknya sekeras upaya orang tuaku untuk memaksaku memutuskan hubungan dengan Krisna. Satu hal yang selalu menjadi alasan orang tuaku yakni bahwa Krisna tidak punya pekerjaan tetap. Berbeda dengan Rian yang merupakan seorang pegawai bank dengan posisi yang sudah cukup tinggi. Usianya 6 tahun lebih tua dariku.

“Kania, cobalah mengenal Rian. Mungkin dia memang baik untukmu,” saran Krisna padaku sekitar 2 bulan lalu.

“Oh, jadi kamu mau aku setuju dengan perjodohan itu?” kataku dengan sinis. Aku kesal mendengar penuturan Krisna.

“Bukan, aku hanya ingin kamu adil, Sayang. Dia berhak kamu beri kesempatan,” kata Krisna yang kujawab dengan diam panjang, tanda bahwa aku kesal dengan pembicaraan itu dan padanya. Dan seperti biasa dia selalu berhasil membuatku tertawa dengan godaannya dan membuatku tidak bisa marah padanya.

Dan karena permintaan Krisna, aku pun mulai membuka diri pada Rian. Mulai menerima ajakannya untuk berwisata kuliner ke berbagai tempat dan berburu buku-buku tua yang keren di loakan. Tanpa kusadari Rian berhasil mengalihkan perhatianku padanya. Dan kini Krisna datang untuk meneguhkan posisi.
“Kania, bagaimana hubungan kamu dengan Rian?”
“Sejujurnya, aku bingung. Aku tak pernah berfikir bahwa Rian akan berhasil menyelusup ke hatiku. Aku membuka pintu untuknya atas permintaanmu. Dan sekarang aku bingung,” Jawabku lemah. Krisna pun terdiam sambil memandangi cincin di jari manis kanan-ku yang sibuk kumainkan.
“Krisna, aku rasa aku harus memilih sekarang. Harus aku akui bahwa aku masih sayang sama kamu. Tapi aku pun mencoba realistis karena semakin aku mengenal Rian semakin aku tidak punya alasan untuk menolaknya,” jawabku akhirnya setelah terdiam sesaat.
“Aku memilih untuk bersama Rian, karena itu pilihan yang paling mudah. Maafkan kepengecutanku, Krisna,” jelasku dan dijawab dengan kebisuan oleh Krisna. Tak lama Krisna pun bangkit dan meraih  jaket yang ia sampirkan di kursi dan mengecup keningku sesaat seraya berkata, “Berbahagialah. Aku yakin dia yang paling baik untukmu”

Ngaleut Pohon bersama Manusia Pohon (part 3 - selesai)


Kami kemudian singgah ke halaman Sekolah Dasar di seberang Taman Balaikota (maaf saya lupa mencatat nama sekolahnya), kami langsung bertemu dengan Biola Cantik atau Ficus lyrata. Seperti yang terlihat dalam nama latinnya, tanaman ini masih satu famili dengan Karet Munding. Biola Cantik pun memiliki akar liar seperti Karet Munding. Tanaman ini berasal dari India.
daun biola cantik
Bunga butun (Barringtonia asiatica) yang sudah rontok. Pohon yang ini biasa hidup di kawasan pantai namun kini nampak sudah banyak menghiasi jalan di Kota Bandung. Ada kandungan tanaman ini yang bagus untuk diet, sayang saya lupa mencatatnya.
bunga butun

Ngaleut Pohon bersama Manusia Pohon (part 2)



Masih di taman Balaikota dan masih dengan saudara Ipin sebagai pemateri tunggal, Aleutian kembali dijejali banyak informasi menarik. Salah satunya tentang  Babadotan atau Ageratum conyzoides. Bunga ini ternyata memiliki ukuran bunga yang sangat kecil. Apa yang selama ini saya pikir sebagai bunga dari tanaman ini ternyata adalah sekumpulan bunga ukuran mini. Karena ternyata tidak membuat dokumentasi tentang tanaman, saya lantas mencari foto dan di web yang sama (http://balittro.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=79&Itemid=38)  tertulis informasi berikut:

“Di Indonesia, Ageratum banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Yang telah dibuktikan secara ilmiah sebagai obat anti-infla-masi. Prof. Elin Yulinah Sukandar menemukan bahwa ekstrak babadotan yang dicampur dengan ekstrak jahe terbukti efektif mengobati radang yang disebabkan bakteri Staphylococcus aureus pada kelinci percobaan. Selain itu Ageratum juga dapat menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis, Eschericichia coli, and Pseudomonas aeruginosa. Tak hanya daun ternyata akar tanaman ini pun berguna; menurut pakar dan Ketua Himpunan Pengobatan Tra-disional dan Akupunktur Indonesia, Prof. HM Hembing Wijayakusuma, akar babadotan dapat mengatasi disentri, diare atau panas, dengan cara merebus 30 gram akar Ageratum, dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring dan diminum airnya selagi hangat.”

babadotan

Selasa, 02 April 2013

Ngaleut Pohon bersama Manusia Pohon (part 1)



Sudah lama saya tidak meng-update tulisan kegiatan #ngaleut bersama Komunitas Aleut. Maka malam ini saya mencoba memenuhi janji untuk terus berbagi pengalaman selama di Bandung, agar teman-teman di Makassar bisa “ikut” melihat dan merasa apa yang saya alami di Bandung ini.

Ok, memenuhi niatan tersebut saya pun menulis cerita tentang Ngaleut Pohon yang diadakan pada 10 Maret 2013. Saya mencoba menuliskannya selengkap yang saya mampu.

Perjalanan Ngaleut Pohoh dimulai di Taman Balaikota. Lagi-lagi saya memperoleh pengalaman pertama memasuki sebuah tempat dengan bantuan Komunitas Aleut. Hari itu setelah tinggal hampir 2 tahun di Bandung, saya akhirnya menginjakkan kaki ke Taman Balaikota. Saya terlambat bergabung dengan rombongan yang telah lebih dulu sampai di Taman Balaikota. Maka saya mohon maaf jika ada beberapa materi yang akhirnya hilang dan tidak sempat saya tulis.