Sabtu, 27 Juli 2013

Sedikit Bernostalgia Pada Dunia Literasi-ku



Sudah lama rasanya saya tidak membuat curhatan pribadi di blog ini. Dari niat awal membuat blog untuk menuliskan resensi buku dan cerita jalan-jalan yang sempat beberapa kali saya lakukan, blog ini berhasil mencapai usia yang jauh lebih panjang dari blog-blog lain yang sebelumnya saya buat. Dengan tulisan yang lebih sering di update tentu saja. Nasib blog-blog lain yang saya buat dengan semangat menggebu-gebu untuk menuliskan buah pikiran saya kini benar-benar lapuk dimakan waktu. Seingat saya, blog pertama saya buat saat saya masih duduk di bangku SMA kelas 1. Berbarengan dengan membuat akun Friendster yang baru booming di Indonesia saat itu. Sayangnya sekarang saya sudah melupakan URL-nya.

Nasib blog-blog ini mengingatkan saya pada nasib diary-diary yang saya tulis sejak SD. Semuanya hanya berhasil terisi maksilam ¼ halaman. Bukan hal yang patut dibanggakan. Tapi itu bisa menjadi salah satu penanda bagi awal kesukaan saya menulis. Seingat saya, saat SD saya pernah memenuhi sebuah buku dengan puisi kanak-kanak saya tentang hal-hal yang saya sukai atau hal-hal yang saya miliki. Sayangnya karena harus pindah beberapa kali karena pekerjaan orang tua, buku itu pun hilang entah kemana. Tertinggal di sofa rumah di Palopo, atau dibuang bersama perkakas-perkakas yang sudah tidak layak untuk disumbang ke ibu-ibu yang sering membantu mama saya di Palopo dulu.

Maka jika ada yang bertanya, sejak kapan kamu suka menulis, maka saya mungkin akan menjawab sejak saya kecil. Sejak saya bisa menulis. Sejak saya gemar merengek pada mama untuk dibelikan buku tulis dengan sampul yang menawan yang kemudiGan saya tulisi dengan kalimat pembuka “Dear, diary”.

Selasa, 23 Juli 2013

Jilbab..mengganggu pikiranku



hm..beberapa hari ini saya beberapa kali membaca tulisan "Jilbab Antem" atau "Ciput Antem". Sejak tinggal di Bandung dan jadi anak kost-kostan, saya bisa tergolong "Kudet" (Kurang Update -istilah ini pun baru saya ketahui beberapa hari lalu (-_-")). Sejak dulu menonton tv tidak pernah menjadi aktivitas yang saya gemari. Membaca majalah fashion pun saya lakukan dengan teknik membaca skimming dan sekedar melihat gambar-gambar yang menarik.

Nah istilah "Antem" ini pun baru saya ketahui setelah tanpa sengaja membacanya disebuah review buku tentang hijabers-hijabers-an. Kata Antem ternyata merujuk pada frasa "Anti Tembem". Ya, ternyata ada sejumlah muslimah yang ragu pakai jilbab karena takut terlihat semakin tembem atau chubby. Nah buku ini mencoba memberika tips-tips cara memakai jilbab agar tidak membuat pipi terlihat tembem.

Selasa, 16 Juli 2013

Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe)




Penulis                 : Haryoto Kunto
Penerbit              : Granesia
Cetakan               : Pertama 1996
Jumlah hal.         : 114 halaman

Buku Ramadhan di Priangan ini adalah salah satu bacaan yang menarik untuk menghabiskan waktu menanti waktu berbuka puasa tiba. Meskipun membahas sejarah dan hal-hal berbau tempo doeloe, buku ini ditulis menggunakan bahasa tutur sehingga lebih mudah dipahami. Menyenangkan membaca suasana Ramadhan masa lalu yang pasti sudah banyak berbeda.

Masyarakat Bandung benar-benar membuat “sambutan” khusus untuk bulan Ramadhan ini. Diceritakan fenomena yang tidak mungkin lagi dirasakan oleh masyarakat Bandung masa kini. Salah satunya adalah cerita bahwa dulu bunyi kentongan Mesjid Agung Bandung bisa terdengar sampai ke wilayah Bandung Utara seperti wilayah Dago Simpang, Mentos (Jl.Siliwangi sekarnag), Terpedo (Wastukencana). Fenomena ini tidak akan lagi bisa terulang sebab meskipun kentongan sudah diganti dengan pengeras suara, tetap saja bunyi dari Masjid Agung tersebut tidak akan terdengar lagi ke wilayah Dago. Kondisi ini bisa menjadi cermin tentang bagaimana kondisi alam dan masih sepinya Bandung hingga awal tahun 1900-an.

Gelap Terang Hidup Kartini



Penulis                 :Tim Penulis Tempo
Penerbit              : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan               : Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.         : 148 halaman

Seorang Raden Ajeng Kartini merupakan sosok yang banyak dikenal oleh bangsa Indonesia. Mulai dari anak-anak SD sampai generasi-generasi yang lebih tua.  Namun bentuk pengenalan yang diketahui masyarakat umum hanyalah sedikit. Mereka hanya akan berkata bahwa, “Kartini adalah pahlawan perempuan. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan. Menyuarakan tentang persamaan derajat perempuan dan pria,”.

Sejujurnya kalau saya ingin mendebat salah satu pernyataan tentang “Kartini adalah orang pertama yang mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi” maka ada data yang bisa dijadikan perbandingan. Seorang Raden Dewi Sartika, pahlawan perempuan dari tanah Sunda, telah lebih dulu membuat sekolah ini. Dewi Sartika tercatat telah mulai mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi sejak 1902 di halaman belakang ibunya. Sekolah itu bernama “Sakola Istri”. Sekolah yang dibuatnya ini diketahui oleh C.Den Hammer (Inspektur Pengajaran Hindia Belanda) dan sempat dicurigai mengingat latar belakang keluarga Dewi Sartika. Kemudian pada tahun 1904 Sakola Istri pindah ke halaman pendopo alun-alun.

Kalau dari segi lebih dahulu membuka sekolah, maka dari yang saya baca, Kartini baru membuka sekolahnya pada tahun 1903 dan tipenya mirip dengan Sakola Istri. Kartini membuka sekolah di beranda belakang rumah ayahnya seorang Bupati Jepara. Selain itu sekolah Kartini diisi oleh anak-anak dari gologan priyayi, sedangkan Dewi Sartika sejak awal mendirikan sekolah menolak klasifikasi seperti itu. Menurut Dewi Sartika semua perempuan berhak mendapatkan pendidikan. Untuk membaca lebih banyak tentang Dewi Sartika silahkan baca di sini.

Namun di luar itu semua, dengan membaca buku Gelap Terang Hidup Kartini ini kita akan membaca kehidupan Kartini dalam bentuk yang lebih kompleks. Kita akan disuguhkan mengenai bagaimana kecerdasan seorang Kartini berkembang dan fakor-faktor yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang ia tuliskan dalam suratnya. Proses pingitan yang dijalani oleh Kartini karena tuntutan adat, menjadi penghalang bagi berkembangnya seorang Kartini tapi sekaligus menjadi titik awal bagi Kartini untuk lebih membuka wawasan. Dalam masa pingitan inilah Kartini menjadi produktif menuliskan gagasan-gagasannya kepada sahabat-sahabat pena yang ternyata mereka bukanlah orang-orang biasa saja.

Senin, 15 Juli 2013

Apresiasi Film "Le Grand Voyage"




Siang ini Aleutian! nggak jalan-jalan menyusuri kota Bandung. Kali ini kita menyusuri kehidupan (tsaaahh) melalui apresiasi film. Ya, Le Grand Voyage adalah film yang dipilih untuk menghabiskan waktu sambil menunggu info adzan Maghrib di TimeLine Twitter (ha..ha.. generasi zaman sekarang..)
Berikut profil Le Grand Voyage
Directed by
Produced by
Written by
Starring
Distributed by
Pyramide Distribution
Release date(s)
  • September 7, 2004
Running time
108 minutes

Le Grand Voyage adalah sebuah film berbahasa Perancis tentang perjalan seorang ayah dan anaknya menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji. Film ini diawali dengan kesibukan sang anak, Reda, yang tengah memperbaiki sebuah mobil. Setibanya di rumah ia mendapat kabar bahwa ia harus menggantikan kakaknya menyupiri sang ayah ke Mekah. Hal ini karena kakaknya, Khalid, ugal-ugalan di jalan sehingga SIM nya dicabut. Jadilah dengan berat hati ia menemani sang ayah menempuh perjalanan tersebut.

Berangkat dari Perancis, perjalanan sejauh 5.000 km itu pun menjadi sebuah perjalanan panjang dengan banyak ibrah (hikmah). Namun jangan salah, meskipun membahas mengenai perjalanan haji ayah Reda, namun dimensi keislaman dalam film ini tidaklah menjadi hal yang paling ditonjolkan. Film ini mengangkat Islam dari sudut pandang yang berbeda.