Kamis, 12 September 2013

Kartini Pribadi Mandiri




Penulis: Haryati Soebadio & Saparinah Sadli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1990
Jumlah hal.: 130 halaman
ISBN: 979-511-095-0

Buku ini ditulis oleh dua orang perempuan Indonesia. Yang bahkan keduanya punya latar belakang yang masih dekat dengan Kartini yakni dari golongan priyayi Jawa. Maka penyelaman kedua penulis dalam ranah pemikiran Kartini mungkin akan lebih baik karena dapat mengerti kondisi di lingkungan sekitar Kartini.

Buku ini membuka pembahasannya dengan menjelaskan proses sosial politik Eropa Barat di masa Kartini. Eropa Barat digambarkan sebagai negeri para penjajah yang situasi politiknya akan ikut mempengaruhi situasi politik di Indonesia sebagai wilayah jajahan mereka. Diceritakan secara singkat tentang perkembangan ethische politiek atau politik etis. Salah satu penafsiran tentang politik etis yang disebutkan di sini adalah bahwa politik tersebut bermakna “untuk membina dan membimbing penduduk pribumi ke arah kemajuan supaya bisa mencapai kemerdekaan menurut pola Barat dengan penjajah sebagai pemimpin”. Ada pula fakta menarik yang disebutkan dalam buku ini mengenai politik etis yaitu seperti yang tertulis di halaman 12.
“Suatu hal yang menarik perhatian dalam hubungan kita di sini, ialah bahwa pencetus ide yang berkembang menjadi ethische politiek adalah Van Deventer, yang akibatnya sering dinamakan ‘Bapak Politik Etis’. Dan yang kemudian memberi namanya kepada jenis pendidikan wanita pribumi Indonesia, yaitu Van Deventerschool.”

Setelah membahas tentang kondisi politik di luar lingkungan Kartini, penulis kemudian menjabarkan latar belakang keluarga Kartini. Kartini berasal dari
keluarga yang memiliki pola pikir yang lebih modern dari keluarga Jawa lainnya di zamannya. Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro, mengusahakan pendidikan Belanda pada keempat anak laki-lakinya. Karena saat itu belum ada sekolah Belanda yang bisa dimasuki oleh orang pribumi. Beliau menggaji guru Belanda untuk mengajari anak-anaknya di rumah.  Ayah Kartini kemudian melakukan hal serupa. Ia bahkan mengambil sikap yang lebih berani. Ia menyekolahkan anak-anak perempuannya di sekolah Belanda. Padahal saat itu hanya anak laki-lakilah yang diizinkan mengenyam pendidikan di sekolah.

Namun sayangnya sang Ayah tetap tidak mampu melawan adat yang menuntut agar Kartini dipingit saat berusia 12 tahun. Kartini pun berhenti dari sekolah.

Jumat, 06 September 2013

Tarakan "Pearl Harbour" Indonesia



Penulis: Iwan Santosa
Penerbit: PT Primamedia Pustaka
Cetakan: Maret 2005
Jumlah hal.: 190 halaman
ISBN: 979-696-301-9
Dipinjam dari: Bang Ridwan

Saat membaca judulnya saya langsung tergugah. Ya, sudah menjadi bagian dari psikologi pembaca untuk  tertarik dengan hal-hal yang familiar dengan hidup mereka. Melihat kata Tarakan dalam judul buku ini membuat saya tertarik membacanya. Alasannya cukup sentimentil. Saya pernah tinggal di kota ini dan sampai sekarang masih menganggap kota itu sebagai salah satu “rumah” tempat saya pulang.
Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah adanya keterangan dari sampul yang menuliskan

”Sebuah tank Matilda milik Angkatan Darat Australia mendarat di Pantai Lingkas melintasi jembatan ponton besi yang disiapkan kesatuan Zeni Angkatan Laut AS “Sea Bee”. Dewasa ini kawasan tersebut dinamakan “Jembatan Besi” untuk mengenang operasi amfibi Sekutu di Tarakan”
Keterangan itu jelas menggugah saya yang mengenal daerah tersebut dan bahkan dulu sering melewatinya. Akhirnya saya pun tertarik meminjam buku ini.

Membaca bagian awal buku ini diangkat tentang kekuatan militer Jepang. Mereka melakukan penyerangan bersamaan di beberapa titik di wilayah kekuasaan AS-Sekutu. Penulis meyakini bahwa serangan itu dilakukan untuk melemahkan sekutu sehingga Jepang bisa menguasai Nusantara dan wilayah Asia Tenggara untuk mendapatkan minyak bumi. Ini karena Jepang menyadari bahwa kebutuhan akan minyak dan gas sangat penting bagi negara industri. Dan wilayah Nusantara yang paling dekat dengan Jepang adalah Pulau Tarakan. Pulau Tarakan pada saat itu mampu menghasilkan 80.000 ton minyak per bulan. Akhirnya sampailah tentara Jepang pada dini hari 11 Januari 1942.

“Satuan khusus Angkatan Laut Jepang yang ditugaskan untuk mengambil alih Tarakan, merupakan bagian dari rencana Gurita Tengah (Central Octopus). Panglima Angkatan Laut Jepang termahsyur Takeo Kurita memerintah unit tempur ini bergerak dari dua arah di utara melalui Kepulauan Filipina dan satuan dari Kepulauan Palau di utara Papua di bawah komando Mayor Jenderal Shizou Sakaguchi.” (Hal. 14)