Selasa, 29 Oktober 2013

Sumpah Pemuda dan Semangat Muda?! Tidak Perlu Hebat

Semangat pagi!!!

Numpang nge-share kebingungan..

Kemarin2 saya sibuk nonton berita tentang berbagai aksi ceremonia Sumpah Pemuda. Mulai dari anak-anak di sekolah yang berada di dekat lokasi prostitusi "diarahkan" untuk membuat Sumpah "Bertanah air satu, tanah air bebas prostitusi" usianya aja masih 13 tahun, memangnya dia paham? Sampai aksi di jalanan.

Jujur saya bingung, bagian mananya semangat Sumpah Pemuda yang ingin ditanamkan kembali? Dan kenapa harus muluk-muluk sih.

Saya membayangkan semua pemuda-pemudi Indonesia (termasuk yg sudah tdk masuk kelompok itu namun tetap berjiwa muda) mau berjanji pada diri sendiri untuk selalu menepati janji, maka akan banyak perubahan baik di Indonesia ini.

"Ok, kita ketemu jam 8 di kampus", itu janji simple. Maknanya bukan pada kita sekedar ketemu, tapi juga datang sesuai waktu yang dijanjikan. Yup, "tepat waktu" belum jadi budaya di Indonesia.

Selasa, 08 Oktober 2013

Sahabat Bosscha Berziarah ke Makam Bosscha



Hari Kamis, 3 Oktober 2013, Friends of Bosscha bersama teman-teman dari Komunitas Aleut! melakukan ziarah bersama ke pengalengan. Setelah pada malam sebelumnya, saya dan teman-teman mengikuti kegiatan peneropongan  bintang sekaligus Launching bersama Friends of Bosscha (baca Lilin Kecil Sahabat Bosscha). 

Lantas, apa yang dilakukan Sahabat Bosscha di Pengalengan? Ada apa di Pengalengan? Pengalengan, tepatnya di Perkebunan Teh Malabar, adalah tempat peristirahatan terakhir KAR Bosscha. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang beberapa sumbangsih KAR Bosscha. Sedikit saya tuliskan tentang riwayat hidup Bosscha.

Makam KAR Bosscha
Karel Albert Rudolf Bosscha lahir di Den Haag pada tanggal 15 Mei 1865. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Malabar, Pangalengan, 26 November 1928. Beliau hidup dengan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Ini ada hubungannya dengan latar belakang beliau. Ayah KAR Bosscha, Johannes Bosscha, adalah seorang Guru Besar Fisika. Namun sayangnya KAR Bosscha tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di Politeknik.
KAR Bosscha kemudian datang ke Hindia Belanda pada 1887 untuk  membantu pamannya, Edward Julius Kerkhoven, di Perkebunan Sinagar, dekat Cibadak, Sukabumi. Namun KAR Bosscha merasa kurang cocok di sana. Ia pun memutuskan membantu ekspedisi adiknya, Ir. Jan Bosscha ke Kalimantan. Namun ternyata di Kalimantan pun KAR Bosscha tidak merasa cocok. Akhirnya ia kembali ke Priangan. Akhirnya pada tahun 1896 oleh sepupu dari pihak ibunya, Edward Kerkhoven, KAR Bosscha di serahi tanggung jawab untuk mengelola perkebunan Malabar. Dari sinilah sumbangsih KAR Bosscha bermula.
Kecintaan Bosscha pada ilmu pengetahuan akhirnya tersalurkan. Bosscha membangun sebuah pembangkit listrik dengan menggunakan aliran sungai. Listrik ini digunakan untuk mengaktifkan mesin pelayu yang diciptakan oleh KAR Bosscha. Tindakan KAR Bosscha yang memanfaatkan alam dan iptek ternyata mampu mengembangkan Perkebunan Teh Malabar yang dikelolanya. Bahkan pada tahun 1910 perkebunan tersebut sempat dinyatakan sebagai perkebunan teh terbesar di dunia, sebuah prestasi yang sangat besar.
Kondisi ini juga memberi Bosscha kemapanan finansial. Namun ia tidak menikmatinya untuk dirinya sendiri. Bosscha membangun 420 bedeng-bedeng sebagai hunian untuk pekerja pribumi di perkebunannya. Kini dari 420 bedeng-bedeng tersebut, hanya tersisa 1 yang disebut bumi hideng. Sebutan bumi hideng ini muncul karena dindingnya dilapisi aspal dan minyak tanah sehingga berwarna hitam(dalam bahasa Sunda disebut hideng).

Lilin Kecil Sahabat Bosscha

Rabu, 2 Oktober 2013, jam 5 sore saya sudah sampai di Observatorium Bosscha bersama dua orang teman. Di tengah jalan, kami sempat bertemu gerimis. Namun syukurlah sesampainya kami di Bosscha yang ada hanya awan mendung. Saya segera menyapa Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, yang tampak asyik berkumpul dengan staff Observatorium Bosscha. Saya pun kemudian menyapa Pak Eka Budianta yang sedang menjalani sesi wawancara dengan seorang wartawan. Tak lama kemudian Pak Eka mengajak saya melihat pohon yang ditanam oleh Sahabat Bosscha yakni sebuah Pohon Ketapang Kencana dan Pohon Cemara Lilin.
Waktu pun berlalu, pukul 19.00 langit kota Lembang nampak masih diselimuti awan. Hawa dingin semakin terasa memaksa saya merapatkan jaket. Tampak oleh saya sejumlah orang tengah bercengkrama di teras Wisma Kerkhoven. Nampak di sebuah meja panjang berjajar jagung bakar, bajigur, bandrek, ketan bakar, dan ubi cilembu yang siap santap. Saya pun mengambil segelas bandrek untuk menghangatkan badan.