Kamis, 09 Oktober 2014

Sebab Aku “Atria Dewi Sartika”



Bagi mereka yang percaya bahwa tidak ada hal yang kebetulan di dunia melainkan semua akan memberi konsekuensi pada hal lainnya, maka sebuah nama tidak mungkin menjadi sepele. Karena keyakinan ini, bahkan sebuah daun yang jatuh dari pohonnya pun atas sepengetahuanNya dan pasti akan mempengaruhi hal lainnya. 

Lantas, apakah sebuah nama yang terlintas di kepala orang tua saat berniat memberi kita nama adalah sebuah kebetulan yang tanpa arti? Bagiku tidak. Karena aku percaya bahwa ada sebuah alasan hingga Sang Maha Tahu mengilhamkan hal itu ke benak orang tua. Keyakinan ini yang membuatku terus mencari arti namaku. Butuh 24 tahun hingga berhasil menemukan makna nama “Atria Dewi Sartika” yang diberikan oleh orang tuaku. Nama ini jelas jauh dari kesan islami, namun saat menyadari makna sesungguhnya nama ini, seketika sebuah beban berat mendadak terpanggul di pundakku.
Menurut cerita papa, awalnya namaku hanya Sartika. Terinspirasi oleh tokoh “Dokter Sartika” yang dulu diperankan oleh Dewi Yul. Film ini cukup disukai saat itu. Lantas mama ingat bahwa Indonesia punya pahlawan perempuan bernama Dewi Sartika, akhirnya menambahkan kata Dewi di depannya.  Menariknya adalah penambahan “Atria” yang ternyata tidak diketahui maknanya oleh mama. Dari cerita beliau aku mengatahu bahwa dulu ada sandoq’ (sebutan untuk orang pintar dalam suku Mandar di Sulawesi Barat) bahwa nama ini bagus untuk anak. Namun mama tidak tahu apa maknanya. Mama lebih tertarik karena ada “tri” dalam kata “Atria” yang bisa menjadi penanda bahwa aku ini adalah anak ketiga.

Sumber di Sini
Sejak SD aku sering sedih saat kakak dan adik dipuji dan dido’akan agar menjadi seperti namanya. Namun saat membicarakan namaku? Orang hanya tersenyum dan mengusap kepalaku seraya berakata, “Kamu pasti anak ketiga ya?”. Hanya sebatas itu. Tidak ada cerita bahwa “Wah, orangnya sesuai dengan namanya.”
Hingga akhirnya saat tinggal di Bandung, aku mendapat hadiah ulang tahun lebih cepat. Sebuah hadiah yang mengakhiri pencarianku selama 24 tahun. Saat sampai di Bandung, aku sering dituduh sebagai orang Sunda. Wajahku yang kata orang mirip orang Jawa serta nama Dewi Sartika yang kusandang membuat banyak orang tidak menyangka saat aku menjawab,”Mandar,” sebagai sukuku. Ditambah lagi belum banyak yang tahu tentang suku Mandar yang ada di Sulawesi Barat ini. Jadilah sering kali aku harus bersabar menghadapi rentetan pertanyaan panjang tentang kenapa wajah saya malah lebih mirip Jawa? Mandar itu dimana? Dan sebagainya.
Selama di Bandung, aku berusaha mencari banyak informasi tentang Dewi Sartika. Sayangnya, tahun pertama belum membuahkan hasil. Mungkin karena belum bertanya pada orang yang tepat. Hingga akhirnya aku bertemua sebuah komunitas yang menggandrungi sejarah Bandung. Di moment inilah informasi itu bertubi-tubi datang padaku. Aku menjadi lebih banyak tahu tentang sosok Dewi Sartika.

Sumber: langitperempuan.com
 Dewi Sartika adalah pejuang perempuan. Ia sejak usia 16 tahun sudah membuka sekolah di belakang rumah ibunya. Ia mengajari perempuan pribumi tanpa memandang status sosial. Ia ikut memerangi prostitusi dan menolak poligami. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan dalam mendapatkan pendidikan serta mendapatkan upah kerja yang layak. Dewi Sartika adalah perempuan yang teguh pendirian, ulet, dan pejuang yang konsisten. Ia bahkan berhasil menghadapi tentangan kaum menak (kaum ningrat) yang menentang sekolahnya. Ini karena Dewi Sartika yang juga keturunan menak malah mengajarkan keterampilan baca tulis dan tata krama yang saat itu hanya diajarkan pada kaum menak saja. Padahal gadis-gadis yang bersekolah di sekolah “Kautamaan Istri” milik Dewi Sartika berasal dari berbagai golongan. Bahkan anak abdi dalam, orang pasar, serta orang dari daerah lain pun ikut diajar oleh Dewi Sartika.
Mengetahui sepak terjang Dewi Sartika, terbersit rasa malu di hati ini. Di usia 16 tahun aku masihlah remaja yang digalaukan oleh hal-hal sepele. Seperti ketertarikan pada lawan jenis, pertengkaran dengan sahabat bahkan kebingungan karena ingin beli buku tapi uang jajan tidak memadai. Sedangkan Dewi Sartika? Ia sudah menghibahkan dirinya untuk bangsanya. Mengukuhkan tonggak awal perjuangan bagi pendidikan kaum perempuan.
Sosok ini kemudian menjadi inspirasi besar bagiku. Ia menjadi contoh perempuan produktif. Contoh perempuan yang teguh memegang prinsip. Perempuan yang sibuk bergerak bukan terkungkung oleh keadaan apalagi sibuk berdebat di tataran konsep.
Kemudian pada bulan Agustus 2013 aku menemukan hal menarik. Seseorang memberiku informasi bahwa Atria adalah nama bintang paling terang di konstelasi sirkumpolar selatan yang membentuk rasi Trianguli Austrialis. Sirkumpolar ini adalah sirkum polar yang ada sepanjang tahun. Menyadarinya, aku semakin merasa bahwa nama yang diberi orang tuaku adalah nama yang berisi sebuah do’a hebat.

Aku merasa bahwa dengan nama ini orang tuaku tanpa sadar mendo’akanku menjadi sosok yang mampu “menerangi” sekitar. Entah dengan pengetahuanku, akhlakku, ataupun hal lain yang diberikan Allah padaku. Ditambah lagi dengan kusandangnya nama “Dewi Sartika” maka aku merasa bahwa orang tua-ku ingin aku melakukan sesuatu untuk dunia pendidikan serta untuk kaumku, kaum perempuan.
Karena merasa harus mampu mempertanggungjawabkan nama yang digugahkan Allah pada kedua orang tuaku, aku pun mencoba menghibahkan diri seperti Dewi Sartika menghibahkan diri untuk negeri ini. Dewi Sartika tidak pernah sedikit pun resah saat jodohnya datang terlambat karena kesibukannya merintis sekolah untuk perempuan pribumi. Dewi Sartika bisa bersikap tegas sekaligus bijak menyikapi keluarganya saat ia akan dijodohkan. Saat itu Dewi Sartika menyampaikan bahwa sangat penting adanya rasa cinta atau minimal ketertarikan pada sosok yang akan menjadi suaminya. Ia tidak ingin menikah demi melanggengkan keningratannya. Ia ingin menikah dengan laki-laki yang mampu menerima dirinya dengan tulus. Dan beruntungnya Dewi Sartika karena bisa menikah dengan Raden Agah yang juga peduli pada pendidikan.
Dewi Sartika mendapat dukungan penuh dari sang suami untuk mengembangkan sekolah yang dibangunnya. Bahkan tidak jarang, Raden Agah memberikan banyak pendapat dan saran atas rencana Dewi Sartika dalam mengelola sekolahnya. Raden Agah selalu mengingatkan Dewi Sartika agar menghindari intervensi asing (Belanda) atas sekolah pribumi yang ia khususkan untuk perempuan itu.
Dari buku-buku tentang Dewi Sartika yang saya baca –yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah buku yang membahas tentang Kartini- membuatku semakin bertekad untuk menjadi sosok perempuan yang sehebat Dewi Sartika jika memang tidak mampu melampauinya. Karenanya aku semakin fokus belajar menulis. Mengapa? Karena bagiku, cara yang aku mampu dalam membuat perubahan adalah dengan memperluas pengetahuan serta membaginya. Cara termudah membagi pengetahuan adalah dengan menuliskannya.
Selain itu, aku pun menjadi berani untuk melakukan sesuatu. Salah satunya dengan membuat sebuah rumah baca di kampung halamanku bersama papaku tersayang. Rumah baca itu kami nama “Sapo Tomanarang” yang artinya rumah orang pintar. Rumah baca ini bagiku adalah sebuah langkah awal dalam meneladani sosok Dewi Sartika. Rumah baca ini berisi sumbangan buku-buku milik pribadiku dan ditambah sejumlah sumbangan dari teman-teman lain. Harapanku, rumah baca ini bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kecintaan anak-anak dan remaja di kampung halamanku pada buku. Selain itu, aku tengah mengusahakan agar di Sapo Tomanarang akan ada kelas-kelas reguler yang mengajarkan anak-anak baca-tulis, bahasa inggris, hingga kemampuan untuk membuat barang dari berbagai bahan yang mudah ditemukan di Majene.
Idealis? Jelas. Namun bukankah Dewi Sartika pun melakukan hal yang sangat idealis di zamannya. Dewi Sartika jelas berfikir dan bertindak melampaui zamannya. Dan semua ia lakukan dengan penuh keyakinan.
Maka kini di usiaku yang menjelang 25 tahun, aku terus membenahi diri. Agar kelak aku merasa pantas menyandang nama ini. Nama yang menjadi do’a agar aku menjadi sosok yang cemerlang serta bermanfaat bagi sekitar seperti yang telah dilakukan oleh Dewi Sartika. Sebab aku, Atria Dewi Sartika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)