Senin, 10 Februari 2014

To Semarang with Love


Hai, sayang.
Kamu pasti tidak menyangka akan menerima surat ini.
He..he.. aku hanya ingin memberi sedikit kejutan.
Sudah 6 bulan kita tak bertemu.
Dan selama kamu nggak di sini aku benar-benar merindukanmu.
Aku rindu berbagi cerita tentang teman-teman kita. Tentang Dio yang akhirnya berhasil mendapatkan hati Kania. Tentang Lia-Eko yang selalu bertengkar tapi langsung mesra lagi.
Aku rindu bermain dengan Kei, keponakanmu yang lucu. Melihatmu mengganggunya dan menodongnya untuk memberimu pelukan untuk dihadiahi sebutir permen yang memang sejak awal akan kamu  berikan, dengan atau tanpa ciuman darinya.
Aku merindukamu, sayang.
Merindukan caramu menjagaku dari hujan. Membiarkan sebelah sisi tubuhmu basah agar aku aman dalam payung kecil yang kita pakai berdua.
Merindukanmu yang selalu mengomeliku yang sering lupa memakai jaket dan akhirnya mengikhlaskan jaketmu untukku saat melihatku mulai kedinginan.
Aku merindukanmu.. merindukan pelukan yang selalu berhasil menghentikan tangisku saat hatiku dilukai oleh mereka atau dunia.
Cepat pulang, sayang. Dan.
Aku rindu.
From Bandung with Love
Dianita
***
Setelah membaca surat itu, Rian pun segera mengingat Dian. Kekasih yang ia tinggalkan di Bandung. Ia yang tengah menantang beratnya hidup di Semarang sendirian demi mencari masa depan, mendadak merasa bersalah. Sudah 6 bulan dia tidak pulang ke Bandung mengunjungi keluarga dan kekasihnya. Semarang yang dulu tampak tidak menarik di matanya kini berhasil membuatnya betah. Bukan, bukan Semarang yang membuatnya bertahan melainkan Sinta, perempuan yang ia kenal di sebuah kafe.

Sinta, perempuan ayu dan manis yang mengenalkannya pada keindahan kota Semarang. Membuatnya bertahan menghadapi gerahnya udara di sini yang berbeda jauh dengan Bandung yang sejuk. Menyantap Ikan Bakar Cianjur sambil menatap wajah Sinta membuatnya lupa waktu.

Membaca surat Dian membuatnya mmenyadari, sudah 3 bulan terakhir ia mulai jarang menghubungi kekasihnya itu. Sejak dekat dengan Sinta, Rian lebih menikmati waktu-waktu yang ia habiskan saat bertemu dan berkomunikasi dengan Sinta.  Mendadak notifikasi whatsapp di ponsel pintar Rian berbunyi:

Mas,  besok kita jadi ke Candi Gedong Songo kan? Kalau jadi, Sinta mau buat bekal untuk kita bawa besok.

Dengan segera dijawab oleh Rian.  Jadi kok, Sayang. Besok jam 7 aku jemput ya.
***

 “Kapan rencananya kamu ketemu Rian, Di?” tanya Lena, sahabat Dian yang tinggal di Semarang.  “Mungkin besok, Len. Soalnya aku cuma tahu alamat kantornya.”
“Kalo gitu, hari ini kita gabung yuk dengan teman-teman aku yang mau main ke Candi Gedong Sango. Kamu nggak capek kan?”
“Wah, boleh tuh. Aku nggak capek kok. ”
Seteleh itu Lena dan Dian segera meninggalkan parkiran Stasiun Tawang menuju tempat pertemuan teman-teman Lena.
***
Aku bisa menempuh ribuan kilometer untuk menuntaskan rindu ini, jika memang hatimu masih untukku. Tapi aku tidak akan sanggup melangkah satu centimeter pun jika hanya untuk mendapati namaku sudah tergantikan oleh orang lain.

Dengan air mata yang terus mengalir, Dian mengirim sms itu. Pemandangan yang ia lihat siang tadi menguatkannya. Tak lama kemudian sebuah balasanpun datang.

Maaf.

Seketika tangis Dian menderas. 

Tulisan ini diikutkan untuk Prompt #38: A Thousand Miles yang digagas oleh Monday FlashFiction