Minggu, 31 Agustus 2014

Litaq Mandar, Saya Jatuh Cinta (lagi!)

Dalam 1 tahun ada 365 hari. Setiap harinya punya keunikan dan kenangan tersendiri. Bahkan ada yang nyaris tanpa makna. Terlupakan dalam sehari. Namun ada pula hari yang terkenang selama berhari-hari namun kemudian terlupakan sebab tak dituliskan. Hal ini yang sering saya alami.

Hidup saya selama sebulan terakhir di Pulau Celebes khususya di litaq (tanah) Mandar. Setiap hari informasi baru melimpahi saya. Entah tentang keindahan berbagai tempat di negeri ini, atau pun keragaman budayanya. Juga ke’heboh’an yang dibagikan oleh sejumlah kenalan baru saya di tanah Mandar.

Salah satu hal yang tidak akan (tidak mau) saya lupakan adalah hari kemarin. Sabtu, 30 Agustus 2014. Di hari ini saya mendapatkan banyak hal. Terutama informasi dan pengetahuan serta kesadaran pribadi tentang keindahan kampung halaman saya serta apa konsekuensi kecintaan ini.

Pagi kemarin, saya mendapat kunjungan dari 2 orang kawan. Mereka datang ke Dapur Mandar, rumah makan milik papa saya. Kedua orang ini datang dari kota sebelah yakni Polman (Polewali Mandar). Awalnya untuk membicarakan tentang rencana diskusi buku Pakkacaping Mandar karya Asmadi Alimuddin yang akan dihelat 6 Septmber 2014 nanti di Dapur Mandar. Diskusi ini kemudian berpindah ke pembicaraan tentan pariwisata di Mandar. Papa yang saat itu ikut ngobrol bersama lantas berbagi banyak ide-ide tentan membangun Mandar. Ide-ide yang dilandasi kecintaan yang besar Mandar. Bukan berarti papa saya rasis. Namun papa percara bahwa Mandar ini punya banyak potensi menjadi besar. Keindahan alam, kemudian kekayaan budaya, serta kekayaan hasil laut Mandar seharusnya menjadi kekuatan yang besar.

Buku Pakkacaping Mandar dan Pantai Pamboang (Foto : Atria Dewi Sartika)
Salah seorang kawan saya yang juga membangun sebuah komunitas budaya di Polman menjadi bersemangat. Di sini saya melihat bagaimana passion dan kecintaan menyatu dan menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan sesuatu. Keinginan untuk memberi sesuatu pada negeri Mandar mendorong kawan saya membuat komunitas budaya; keinginan dan kecintaan yang sama membuat papa saya membangun Dapur Mandar yang ia harapkan tidak hanya jadi dapur makanan namun juga dapur budaya; serta hal itu yang mendorong saya dan teman-teman menggagas Mandar Culture & Writers Festival.

Semoga kecintaan ini kelak membuahkan sesuatu. Bisa ikut menjadi tonggak berkembangnya tanah Mandar.
Malam hari, ba’da maghrib, Dapur Mandar kembali mendapat kunjungan. Kali ini dari “Tim Bango Ekspedisi Kuliner Barat Timur Nusantara”. Kedatangan mereka atas rekomendasi akun @Tommuane_Mandar yang berinteraksi dengan @NegeriID yang merupakan anggota tim tersebut. Malam itu saya melihat bagaimana kecintaan papa pada Mandar berhasil membuahkan rasa tertarik pada pihak-pihak di luar Mandar. Papa bercerita bahwa papa sengaja menyediakan menu Bau Tappi, Baupeapi, dan Cumi Masak sebagai cara papa memperkenalkan & melestarikan kuliner Mandar ke pengunjung. Pemandangan Pantai Pamboang yang  bersih juga menjadi bisa dinikmati oleh pengunjung. Ini sekaligus menunjukkan kepada banyak pihak bahwa Mandar, khususnya Majene memiliki potensi wisata yang besar selama mampu dikelola dengan baik.

Berfoto bersama Tim kuliner Bango Nusantara (Foto : Atria Dewi Sartika)
Terakhir, saya mendapat limpahan ilmu dari telepon seorang kawan baru. Waktu 1 jam 20 menit yang saya habiskan di telepon semalam bagi saya termasuk waktu produktif. Bagaimana mungkin? Darinya saya belajar sedikit tentang kehidupan laut. Saya jadi tahu tentang kehidup penyu, yang jika saya harus cari tahu sendiri, saya harus menghabiskan waktu dengan googling dan searching berbagai informasi tentang penyu.

Kawan yang secara usia dan pengalaman lebih matang dari saya ini, membagi banyak pengetahuannya tanpa segan-segan. Darinya saya tahu bahwa penyu itu ketika akan bertelur akan mencari tempat yang gelap dan tenang. Kemudian tukik (anak penyu) yang baru lahir, saat kembali ke laut berjalan mundur. Ini karena tukik merekam ingatan tentang tempat ia dilahirkan. Kelak ia akan kembali ke sana. Namun jika tempat itu berubah ia akan bingung dan akhirnya tidak jadi kembali ke tempat kelahirannya. Kawan saya juga bercerita bahwa penyu betina itu gampang stress. Pada saat ia akan bertelur, sebisa mungkin kita harus tenang agar tidak mengganggunya. Katanya di luar negeri saat orang menjadikan penyu sebagai salah satu potensi wisatanya, guide akan mengingatkan para wisatawan akan berbagai hal yang diperhatikan jika ingin melihat penyu bertelur. Diantaranya adalah tidak boleh menggunakan pencahayaan, tidak ribut, berjalan mengendap-endap (untuk 15 menit maksimal jarak yang boleh ditempuh hanya 10 meter).

Malam itu, saya mendengar kekaguman kawan saya ini pada Majene. Ia juga bercerita kegemasannya karena banyak orang Majene tidak menyadari potensi daerahnya sendiri. Bahkan banyak yang tidak tahu bahwa di pantai di Majene, kita juga bisa melihat sunrise. Tidak hanya sunset. Jika datang ke Pamboang atau rewata’a atau Dato, kita bisa melihat pemandangan sunset yang indah. Namun jika ingin memotret sunrise, maka datanglah ke Pantai Barane. Ah, indahnya tanah Mandar.

Sunset di RM Dapur Mandar Pantai Pamboang (Foto : Atria Dewi Sartika)
Malam ini saya benar-benar bangga menjadi anak Mandar. Meski tidak lahir di tanah ini, namun tanah inilah yang saya sebut kampung halaman. Tempat kedua-orang tua saya mengakar.

Cara Kami Merayakan 69 Tahun Indonesia Merdeka

Pukul 10.00 hari itu tepat 69 tahun Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Dari berbagai informasi di sekitar saya, ada banyak cara setiap orang merayakan dirgahayu negeri ini. Teman-teman di Kompa Dansa Mandar menghabiskan malam penuh kebersamaan dan kesyukuran di Buttu Pallayangan, Kec. Binuang, Kab.Polman. Mungkin mereka tidak akan pernah melupakan moment melihat matahari terbit pada 17 Agustus hari itu.

Di tempat lain, tepatnya di Mamuju, dua kawan dari Kompa Dansa Mandar dan Kak Ridwan Alimuddin menjadi saksi sejarah saat ibu kota Sulawesi Barat itu berhasil memecahkan rekor MURI dengan membentangkan Merah Putih terpanjang di bawah laut. Tepatnya di perairan Pulau Karampuang, Teluk Mamuju. Kain sepanjang 29 meter itu membuat Mamuju menjadi buah bibir sesaat di pemberitaan nasional.

Melihat update-an teman-teman tentang kegiatan-kegiatan itu membuat saya iri. Saya yang sedang tidak di Litaq Mandar pun harus memendam iri. Hingga akhirnya terbesitlah ide itu. Saya dan salah seorang teman Kompa Dansa Mandar yang juga sedang di Makassar pun memutuskan trip khusus.

“Edisi 17 Agustusan,” kata saya. Namun karena minimnya informasi yang saya ketahui tentang Makassar, akhirnya saya menyerahkan pengaturan rute pada teman saya.

Akhirnya pada pukul 10.00, 17 Agustus 2014, saya berdiri di sebuah Monumen. Monumen ini bernama “Monumen Maha Putera Emmy Saelan”. Ironisnya, di hari bersejarah itu tidak ada aktivitas berarti di monumen ini. Bahkan saya dan teman saya mendapati bahwa lahan di sekitar monumen sudah berubah fungsi menjadi sebuah lahan parkir. Tak lama muncul segerombolan anak-anak bersepeda yang mengelilingi monumen tersebut.

Monumen Maha Putera Emmy Saelan (Foto : Atria Dewi Sartika)
Saya lantas menyapa mereka. Menanyakan beberapa hal tentang monumen tersebut dan tentang tokoh bernama Emmy Saelan. Sayangnya kedua anak yang duduk di kelas 5 dan 6 SD yang saya tanyai bahkan tidak mengenal sosok Emmy Saelan. Mereka hanya tahu bahwa ia pahlawan. Namun ia bahkan tidak mengetahui bahwa Emmy Saelan adalah perempuan.

Lebih miris lagi saat saya mendekati monumen dan melihat bahwa plakat yang dipasang di monumen sudah tidak bisa lagi terbaca.  Lantas apa informasi yang akan didapatkan pengunjung jika kondisinya seperti itu?

Ini sekilas info tentang Emmy Saelan yang saya sarikan dari (http://www.berdikarionline.com/tokoh/20110718/emmy-saelan-kisah-pejuang-wanita-garis-depan.html) Emmy Saelan ikut berjuang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sebagai anggota palang merah. Namun ia juga ikut memanggul senjata dan melawan Belanda. Perempuan kelahiran Makassar, 15 Oktober 1924 ini anak dari seorang tokoh perjuangan, Amin Saelan. Kepahlawanan Emmy Saelan menjadi fenomenal karena keputasannya untuk meledakkan diri sendiri. Saat itu, 23 Januari 1947, pejuang yang dipimpin oleh Walter Monginsidi dikepung oleh Belanda. Mereka pun memilih mundur. Sayangnya, Emmy Saelan dan 40 orang lainnya terpisah. Mereka pun harus terus berjuang melawan Belanda. Hingga akhirnya Emmy Saelan terjepit. Hanya granat senjata yang tersisa di tangannya. Ia pun memilih meledakkan diri, membawa serta pasukan Belanda yang mengepungnya dan agar ia tidak menjadi tawanan yang bisa membocorkan informasi tentang pergerakan para pejuang Indonesia.

Kisah di atas sudah sangat asing bagi generasi muda sekarang. Emmy Saelan hanya dikenal sebagai salah satu nama ruas jalan di Makassar. Tidak banyak yang mengetahui kepahlawanan perempuan ini. Sungguh patut disayangkan. Dan kini kurangnya informasi tersebut kian diperparah dengan kondisi monumen yang memprihatinkan.

***

Saat jam digital bertuliskan 11.47 saya dan kawan saya pun bertolak menuju Gowa. Ini karena 3 titik lain yang ingin kami kunjungi ada di Kabupaten Gowa. Titik pertama adalah Makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin. Ini adalah pertama kalinya kami datang ke tempat tersebut. Ternyata di pemakaman ini tidak hanya ada makam Sultan Hasanuddin. Namun ada juga makam raja-raja Gowa serta beberapa makam tanpa nama yang katanya adalah makam panglima perang atau orang kepercayaan raja-raja tersebut.

Kompleks makam Sultan Hasanuddin (Foto : Atria Dewi Sartika)

Ada dua nama yang cukup menyita perhatian saya. Yakni Sultan Abdullah Awalul Islam dan Sultan Alauddin. Dengan berkunjung ke pemakaman ini, saya jadi tahu bahwa di masa pemerintahan Sultan Abdullah Awalul Islam-lah agama Islam berkembang di Gowa.  Selain itu, ternyata Sultan Abadullah Awalul Islam menjadi Raja sementara menggantikan Sultan Alauddin yang pada saat diangkat menjadi raja baru berusia 7 tahun. Sedangkan nama Sultan Alauddin bagi saya pribadi saya akrabi sebagai sebagai nama jalan yang semasa SMA setiap hari saya lalui. Namun kini saya jadi lebih tahu bahwa di masa pemerintahan Sultan Alauddin-lah Gowa berkembang pesat sebagai kerajaan maritim.

Oiya, saat kami akan keluar dari kompleks pemakaman tersebut, kami melihat sebuah tempat yang unik. Menurut teman saya tempat itu dinamakan “batu pallantikang”. Ya, di tempat itu ada sejumlah batu. Katanya jika raja Gowa akan diangkat menjadi raja, maka ia harus memijak di batu tersebut.

***

Meninggalkan Makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin, kami melanjutkan perjalanan menuju Makam Arung Palakka. Kami sampai di lokasi saat adzan dzuhur berkumandang. Kami menemukan bahwa gerbangnya terkunci. Kami pun harus merogoh kocek, mengupah seorang anak-anak agar membantu kami memanggil penjaga makam. Saat kami masuk ke makam tersebut, saya mencoba bertanyan tentang siapa sosok Arung Palakka ini. Namun sang penjaga makam yang ternyata putra dari penjaga makam yang sebenarnya malah menyodori kami sebuah buku bersampul biru dengan gambar Arung Palakka tercetak jelas.
Makam Arung Palakka (Foto : Atria Dewi Sartika)
Maka informasi yang kami dapatkan pun benar-benar seadanya. Bahkan ada dua bangunan putih besar dan sebuah bangunan yang dindingnya ditutupi tegel yang tanpa keterangan berarti. Saya dan teman saya sejujurnya bertanya-tanya tentang kekhususan apa yang dimiliki oleh makam-makam yang ditempatkan di dalam bangunan tersebut. selain itu ada juga sejumlah makam tua yang bentuknya mirip dengan makam tua raja-raja Gowa yang kami lihat di Makam Sultan Hasanuddin.

Oiya, makam Arung Palakka sendiri terletak tidak jauh dari gerbang. Berdiri gagah. Dengan sebuah meriam tua tersemen di depannya. Di dalam bangunan tersebut ada dua makam. Yakni makam Arung Palakka dan istrinya.

Ketokohan Arung Palakka ini menuai pro-kontra sebab bagi kerajaan Gowa, Arung Palakka ada seorang penjahat karena memerangi kerajaan Gowa dengan bantuan VOC. Namun bagi rakyat Bone, Arung Palakka adalah pahlawan karena melepaskan rakyat Bone dari penjajahan kerajaan Gowa.

***

Setelah puas memotret di komplek pemakaman Arung Palakka, kami pun memutuskan untuk shalat dzuhur di masjid tertua Se-Sul-Sel & Sul-Bar, Masjid Tua Katangka. Masjid ini dibangun 1603 M. Masjid ini sudah 2 kali direhabilitasi.
Mesjid Tua Katangka Gowa (Foto : Atria Dewi Sartika)
Di sekitar masjid ini ada sejumlah makam tua raja-raja Gowa. Sayangnya makam ini tergabung dengan pemakaman umum. Sehingga sangat rapat dan terkesan berantakan. Setelah berteduh sebentar di masjid tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan ke titik berikutnya yakni, Kawasan Situs Benteng Somba Opu.

Gerbang masuk Benteng Somba Opu Makassar (Foto : Atria Dewi Sartika)
Benteng Somba Opu Makassar (Foto : Atria Dewi Sartika)
 Meskipun saya lahir dan menghabiskan masa SMA dan kuliah di Makassar, namun ini pertama kalinya saya mendatangi tempat tersebut. Memasuki kawasan tersebut, pengunjung akan langsung disuguhi reruntuhan benteng yang dulu dibangun oleh kerajaan Gowa. Di bagian dalam benteng ini terdapat sejumlah rumah ada dari berbagai daerah yang ada di Sulawesi. Ada rumah adat Mamasa, Toraja, Bugis, Mandar, Kajang, Bulukumba, dan daerah lainnya.

Rumah adat Bugis (Foto : Atria Dewi Sartika)
Rumah adat Mamasa (Foto : Atria Dewi Sartika)
Rumah adat Toraja (Foto : Atria Dewi Sartika)
Sayangnya beberapa rumah ini malah menjadi rumah tinggal. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi. Namun ini membuat pemandangan di rumah-rumah adat tersebut menjadi terganggu.

***
Benteng Somba Opu menjadi akhir perjalanan kami hari itu. Setelahnya kami pun mengisi perut yang sedari tadi dibiarkan kosong. Pilihan jatuh ke Coto Makassar di Jalan Gagak. Salah satu coto yang terkenal di Makassar. Banyak orang yang membawa tamu mereka makan di tempat ini.

Setelah santap siang yang sangat terlambat itu, kami pun mengejar sunset di Anjungan Pantai Losari sembari mengajak teman-teman KDM Makassar untuk kopdar dadakan. Sayangnya, tidak banyak yang bisa datang.

Sunset di Pantai Losari (Foto : Atria Dewi Sartika)
Namun itu tidak menyurutkan niat kami mencicipi pisang epe’, salah satu panganan khas Makassar. Dengan itu, berakhir sudah trip hari itu. Banyak oleh-oleh yang bisa dibawa pulang.

Tentang bagaimana kita sudah mulai meninggalkan sejarah kita. Tentang bagaimana pemerintah sendiri pun tidak menaruh perhatian yang berarti pada sejarah ini. Monumen mungkin bukanlah saksi sejarah, namun ia menjadi pengingat agar generasi penerusnya tidak lupa pada sejarahnya.

Semoga kita, generasi yang menikmati kemerdekaan tanpa mempertaruhkan nyawa bisa ingat tentang hutang kita pada generasi sebelumnya, dan kita punya hutang pada generasi berikutnya untuk tetap membuat mereka mengenal negerinya.

Selamat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah mencapai usia 69 tahun. Selamat kepada seluruh rakyatnya yang telah merdeka dari penjajahan secara fisik. Semoga kita bisa terus memerdekakan diri kita sendiri dan generasi penerus kita.

Merdeka!

R.I.N.D.U

Aku sedang dipeluk rindu
Adakah kau merasakan dinginnya?
Menggigil karena sunyi tanpa hadirmu
Membeku tanpa hangat pelukanmu

Aku sedang ingin berkeluh
Tentang wangimu yang ingin kuhidu
Tentang wajahmu yang ingin kusentuh
Dan tentang tanganmu yang ingin kugenggam

Minggu, 17 Agustus 2014

Isi Kepalaku

Dari mana datangnya pikiran yang liar?
Pikiran yang mencoba mengetuk pintu langit
Pikiran yang menyelam ke dasar samudra
Pikiran yang mengembara ke perut bumi.

Ia datang dari tubuh yang terbelenggu
Yang diikat oleh teriakan kemarahan
Yang dibelenggu oleh caci maki
Yang dipasung oleh pengabaian
Yang terluka oleh setumpuk kata "jangan"

Sabtu, 16 Agustus 2014

Pria Petualang dan Ratte



Hai Pembaca,

Malam ini saya ingin bercerita tentang pria yang akrab disapa Papa’ Ari. Seorang pria di usia yang menjelang senja namun semangatnya selalu muda. Ia bukan seorang saudagar kaya, apa lagi artis televisi. Ia hanyalah seorang pahlawan bagi 5 anak-anaknya. Pria yang kini menjalani masa purnabakti memilih kembali ke Litaq Mandar. Setelah puluhan tahun merantau.

Puluhan tahun bekerja di belakang meja tidak menurunkan staminanya atau mematikan jiwa petualangnya. Terbukti, pagi itu, Senin, 11 Agustus 2014 ia tanpa ragu melangkahkan kaki menuju Dusun Ratte. Dusun tersebut adalah salah satu Dusun yang terdapat di Desa Banua Adolang, Kec. Pamboang, Kab. Majene, Sulawesi Barat.

Perjalannya ia mulai dari wilayah Taduang. Dari tepi jalan raya, lelaki yang akrab di sapa Papa’ Ari itu menjejak jalan cor-an. Jalanan mulus itu hanya sekitar 500 meter. Hanya sampai sebuah pusat instalasi PDAM bercat biru. Sisanya? Jalanan berbatu yang tidak rata. 

Dengan celana jeans biru muda dan sebuah topi pet, Papa’ Ari melangkah dengan tenang melalui jalan yang semakin lama semakin mendaki. Ia sempat berhenti sebentar memandangi suguhan ciptaan-Nya. Pemandangan laut dan gunung yang berdampingan. Hijau dan biru. Langit dan bumi. Semuanya tengah menyapa ramah pria itu. Menyuguhinya pemandangan yang tidak akan ia temui di perkotaan.
pemandangan di jalan menuju Ratte

Saat melanjutkan perjalanan, otak lelaki berusia 57 tahun ini ternyata terus berputar. Membaca setiap potensi wisata dari daerah yang ia lewati. Saat melihat sebuah kebun nanas yang entah milik siapa, terbesit pemikiran bahwa jika jalur ini bisa menjadi jalur wisata maka tempat itu bisa menjadi tempat peristirahatan yang menyediakan jus nanas sebagai menu andalannya.

Setelah itu, ia melangkah menyusuri tepi sungai yang debit airnya sangat kecil. Ia lantas membayangkan bahwa jika debit air sungainya cukup banyak, betapa banyak orang yang akan senang mengunjungi tempat itu. Dengan pepohonan yang meneduhkan jalan setapak yang dilalui. Air sungai yang jernih dan bebatuan berbagai ukuran di dalamnya jelas akan mengikat mata wisatawan terutama mereka yang tinggal di kota.

Kian lama jalanan yang dilaluinya kian terjal. Namun ia sama sekali tak nampak ngos-ngosan. Ia masih bisa tersenyum dan bahkan menggoda putrinya yang ia jadikan kawan perjalanan hari itu.

Perjalanan menuju Dusun Ratte ternyata harus ditempuh selama lebih kurang 3 jam. Sepanjang perjalanan ia menunjuk berbagai hal yang ia yakini masih asing bagi putrinya. Anak-anaknya lebih banyak menghabiskan waktu di perkotaan dikarenakan mengikuti dirinya yang kerja berpindah-pindah kota. Dan kini ia merasa harus melengkapi pengetahuan anak-anaknya dengan memperkenalkannya dengan negeri tempatnya dilahirkan.

salah satu sungai yang kami lewati
 “Jangan bicara sembarangan di tempat ini,” tegurnya dengan nada suara rendah. Mereka tengah menyeberangi jalur sungai yang saat itu debitnya kecil karena kemarau dan pipa PDAM yang menyedot kehidupan sungai itu. Di tempat itu banyak bebatuan besar dan juga sedikit lebih gelap dari tempat lainnya karena rimbunan pohon-pohon besar di sekitarnya.

Sesampainya di Dusun Ratte, pria ini mengantarkan putrinya untuk melihat pembuatan gula merah mandar yang dibuat dari manyan (bahasa mandar untuk air yang mereka ambil dari pohon aren). Ia sendiri meminum manyan yang masih segar yang baru saja dibawakan oleh seorang pemuda kenalannya yang juga warga di Dusun tersebut.

Tak lama ia nampak sibuk bercakap-cakap dengan seorang bapak menggunakan bahasa Mandar. Mereka membicarakan tentang banyak hal. Tentang Ratte yang dulunya bisa dijadikan tempat berladang. Tentang potensi-potensi Ratte yang ternyata menghasilkan cukup banyak buah-buahan seperti langsat, rambutan, sukun, kemiri, dan cokelat. Warga Ratte juga selain mengolah manyan menjadi gula merah, mereka juga memproduksi kunyit bubuk yang mereka olah sendiri dari kunyit yang mereka kumpulkan di kebun atau di alam sekitar mereka.
manyan dan gula merah
Ada satu lagi potensi Ratte yakni Bambu Pettung. Bambu ini pada umumnya digunakan untuk membuat rumah baik sebagai dinding maupun lantai oleh warga Ratte. Papa’ Ari memanfaatkan Bambu Pettung sebagai bahan untuk membuat gazebo-gazebo di rumah makan yang didirikannya di tepi Pantai Pamboang.
Puas melihat banyak hal di Ratte, ia pun mengajak putrinya pulang. Namun kali ini mereka memalui jalur yang berbeda. Mereka menuju Dusun Timbogading, Desa Betteng.  Jalanan yang dilaluinya kali ini berbeda. Jika sebelumnya mereka dipayungi oleh pepohonan dan menapak di atas batu-batu alam. Maka kali ini ia lebih banyak dipapar matahari. Jalanannya berpasir dan angin kencang menerpa langsung tubuhnya.

Setelah melalui jalanan yang mendaki dan berpasir dengan pemandangan bukit-bukit di sekitarnya, 30 menit kemudian ia menemukan jalan cor yang dibuat oleh pemda Majene. Sayangnya jalanan ini terlalu curam. Perjalanan yang kini adalah penurunan terasa berat dilalui. Lutut mendapat cobaan berat.

“Lebih enak memang jalan di tempat yang masih alami. Perjalanan jadi tidak terasa berat,” gumamnya saat terus menapaki jalan bercor yang memang tidak ramah untuk pejalan kaki. Ia pun sempat membayangkan resiko mengendarai mobil di jalanan securam itu. Bisa-bisa mobil yang tidak kuat mendaki akan mengalami celaka.

Sore sekita jam 4, perjalanannya berakhir. Ia pun melangkahkan kaki kembali ke kediamannya yang juga menjadi tempatnya menjalankan usaha rumah makan dan penginapan. Ia tidak merasa lelah. Ia bahkan sempat berfikir untuk berenang di laut. Sayangnya telepon dari kawan lamanya yang bermaksud mampir menemuinya mengurungkan niat itu.

Hm..hari itu membuktikan sekali lagi performa pria yang berasal dari Pamboang ini. Tentang usia yang tidak menjadi tolak ukur daya tahan. Tentang pikiran visioner dengan ide-ide yang mengalir deras menilai potensi berbagai hal yang ia temui. Dan paling penting, perjalanan ini menjadi salah satu pembuktian bahwa laki-laki yang terlahir dengan nama Abd. Rasyid Djamil ini memang seorang petualang. (^_^)v

Sang Pria Petualang

Salam,
Putri Sang Petualang

P.S:  Sekali lagi saya diyakinkan bahwa saya tidak salah memilih idola. My Father is my hero. (^_^)v