Rabu, 30 September 2015

Pesawat Kertas Terakhir



Dear lelakiku,

Sudah 100 surat yang kuterbangkan berisi setiap harap untuk seluruh waktu yang akan kita lewatkan di masa depan. Seberapa pun singkat atau panjangnya ia kelak.

Dan ini adalah surat ke 101 yang ingin kutuliskan panjang. Mungkin saja ini menjadi surat terakhir yang kutuliskan untukmu. Atau bisa jadi ia bukan yang terakhir. Entahlah.

Ya, setidak terduga itulah masa depan. Seperti setidak terduganya semua perjalanan yang kita tempuh hingga ada di titik ini. Kau dan aku bersatu menjadi kita bukanlah bagian dari rencana saat itu. Namun sungguh Dia-lah yang paling tahu. Rencana-Nya selalu yang terindah.

Selasa, 01 September 2015

Rewata'a: Batu Besar yang Mempersaksikan Majene


 rewata'a adalah batu besar di sisi kiri atas foto (dok. pribadi)


Bicara tentang Majene, salah satu tempat yang paling dikenal adalah Rewata’a.

Sejak kecil, salah satu tempat yang paling berkesan saat berkesempatan untuk pulang kampung adalah tempat ini. Bahkan di rumah saya ada sebuah lukisan yang menggambarkan tempat ini.

Sebuah batu besar yang berdiri tegak di atas laut dan dis sisi kiri jalan jika menempuh perjalanan dari Majene ke Mamuju. Batu besar ini teronggok megah dan dihantam ombak. Bahkan jika tengah angin barat, maka ombak yang menghempas menangtang kokohnya batu ini.

Sejak kecil Rewata’a familiar bagi saya karen ada sebuah lukisan yang diletakkan di ruang tamu rumah. Tapi sekarang saya tidak bisa menemukan di mana lukisan itu. Dan ternyata saat remaja baru saya sadari bahwa itu adalah lukisan Rewata’a. Setelah bisa mengenali tempat itu, papa sering bercerita tentang berbagai hal mistis tentang kawasan ini. Bahwa dulu di zaman papa masih remaja, orang – orang takut melewati daerah ini d malam hari. Terutama di malam jum’at. Apalagi naik sepeda motor sendiri tanpa ada yang memboncong. Biasanya katanya akan ada makhluk lain yang ikut membonceng.. Hiiiihh. Ngeri.

Tapi sesungguhnya Rewata’a adalah saksi atas berbagai hal yang terjadi di Majene. Ia telah terdokumentasi sejak masa kolonial Belanda. Saat itu Majene menjadi Afdeling Majene. Dan kini saat Majene beserta Mamuju dan Polman memisahkan diri dari Sulawesi Selatan dan membentuk Sulawesi Barat, Rewata’a menjadi saksi.