Minggu, 31 Januari 2016

Surat Untuk Februari



Teruntuk, Februari
Aku berharap engkau datang membawa ceria
Tidak muluk, cukup perbanyak senyum cerah sang mentari dan minta angin bergoyang sepoi hingga menyejukkan raga dan hatiku

Aku berharap engkau pun mau berkonspirasi bersama alam
Melancarkan usaha yang tengah kuperjuangkan dengan sangat
Dan memudahkan pertemuanku agar mampu membunuh rindu hingga tamat

Teruntuk Februari,
Sejak dulu aku tidak pernah menyematkan warna padamu
Tapi untuk kali ini saja, izinkan aku menyematkan biru padamu.
Kenapa? Karena itu warna keberuntunganku.
Pertama kali bertemu suamiku, aku memakai warna itu.
Dan sejak dulu aku selalu menyukainya. Bukankah langit yang cerah pun sewarna itu?

Teruntuk Februari,
Aku tidak ingin meminta banyak padamu
Hanya saja, aku berharap banyak rencana indah bisa berjalan baik bersamamu

Untuk itu, melalui surat ini, aku ingin mengajakmu bersekutu.
Semoga kau berkenan.
Sampai bertemu esok hari.
Oiya, aku lupa mengucapkan, “Selamat untuk hari ke-29mu yang kembali pulang. Jamu dia dengan baik ya. Sebab ia akan kembali menghilang dan kau akan merindunya selama 4 tahun penuh.”

Salam hangat,

Sekutumu yang Merayumu

***

Hai, ini surat pertama yang kutulis di tahun 2016 ini. Lantas, kenapa kuperuntukkan pada Februari? Ini karena malam ini Januari akan pergi dan mentari pertama Februari akan datang.

Aku sedang menyimpan banyak harap di Februari ini, sehingga merasa perlu untuk menyapanya dengan manis. Bulan ini aku akan sidang untuk tugas akhirku. Teman-teman di komunitas Pecandu Buku pun akan mengadakan kegiatan seru. Selain itu, aku berharap di bulan ini aku pun bisa kembali memecahkan celengan rinduku.

Ah, semoga Februari ini dipenuhi dengan hal-hal baik. Begitupun dengan bulan-bulan berikutnya.

[30 Hari Menulis Surat Cinta, Day 1] 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)