Rabu, 14 Desember 2016

Love in Silence




Selalu menyenangkan menonton film, bahkan anime, yang bercerita tentang tokoh laki-laki yang menjaga perempuan yang ia cintai secara diam-diam. Tidak harus pemeran utama, namun jika ia memerankan karakter seperti itu, maka seketika aku akan jatuh cinta padanya. Itu mengapa aku selalu jatuh cinta pada tokoh Syaoran yang selalu menjaga Sakura dalam serial kartun Cardcaptor Sakura juga dalam anime Chronicle of Wings. Juga pada tokoh Yoo Jong dalam drama Korea Cheese in The Trap yang meski terkesan menakutkan namun itulah cara ia menjaga. Menjaga dalam diam. Tanpa pernyataan, tanpa penjelasan.

Mungkin hal itu juga yang membuatku jatuh cinta padamu. Laki-laki berkecamata yang selalu fokus memandang Tiara. Meski Tiara adalah sahabatku sejak kecil, aku tidak bisa menahan perasaan iri yang padanya yang memilikimu dalam hidupnya. Dan rasa iri ini menggerogotiku dengan kemarahan setiap kali aku melihatnya mengabaikanmu. Sibuk dengan Kian, kekasihnya.

Entah sudah berapa kali aku harus melihat tatapan sendumu yang segera kau ubah ceria setiap kali Tiara muncul di hadapanmu. Sudah 800 hari berlalu sejak aku menemukanmu yang tidak mampu melepaskan pandangan dari Tiara. Di saat yang sama, sebersit tanya menghampiriku, “Sejak kapan mata indah dengan iris mata berwarna cokelat yang memikat itu memandang Tiara? Adakah ribuan hari telah kau lalui dengan menjaga Tiara dalam diam?”

Ah, aku ingat, sudah 1248 sejak perkenalan pertamamu dengan Tiara. Ya, aku tahu. Sebab saat itu aku sedang bersama Tiara saat kau beranikan diri menyapa Tiara di toko buku. Kau melihat kami kebingungan mencari buku yang ditugaskan untuk diresensi oleh Ibu Paulina, guru bahasa Indonesia paling galak di sekolah. Buku “Cantik Itu Luka” tidak berhasil kami dapatkan karena stoknya kosong. Kau lantas menawarkan untuk meminjamkan milikmu pada kami, tepatnya pada Tiara. Hari itu, binar berbeda telah kutemukan di matamu. Itu pula yang mungkin membuatmu luput memandangku. Kamu melihatku namun tidak memandangku.

Kini, sekurangnya 44 purnama telah kau lalui dan tetap saja binar itu kutemukan di sana. Beberapa kali ia terlihat meredup namun tidak pernah padam. Bahkan ketika Kian muncul dalam kehidupan Tiara.

Tidak bisakah kau menoleh dan melihatku yang selalu berdiri di sisi Tiara? Menunggumu menemukanku? Sebelum aku kehilangan keyakinan bahwa aku pun layak dicintai.

***

Kembali saya menemukanmu menatap lelaki berkacamata itu dalam-dalam. Intensitas yang disisipi harap. Berharap orang itu menoleh dan menemukanmu yang selalu berdiri di sana. Di sisi yang tertutup oleh bayangan. Bayang seorang Tiara.

Sudah setahun terakhir saya sulit melepaskan pandangan darimu. Pertemuan pertama saat Kian meminta untuk ditemani ke toko buku. Katanya, kekasihnya ingin kencan ganda. Maka Kian dengan seenaknya menyeretku untuk mengikutinya yang saat itu datang untuk membawakan kue titipan Bunda ke Tante Rita, Bundanya Kian.

Tahukah kamu? Saya seketika jatuh cinta pada senyum diam-diam yang terbit dari bibirmu saat menyentuh sebuah buku. Mungkini itu buku yang sudah lama kamu idamkan. Atau itu buku karya penulis favoritmu. Atau buku yang cover-nya membuatmu jatuh cinta, seperti yang belakangan saya ketahui.

Saya kembali dibuat jatuh cinta saat kamu menertawakan gaya berbicaraku. “Terlalu serius. Nggak perlu pakai saya-kamu. Kesannya seperti atasan ke bawahannya. Padahal kita seumur, lho.” Ya, semudah itulah kamu membuat seseorang nyaman. Namun tidak lama, saya menemukan senyum itu memudar sesaat saat laki-laki berkacamata itu hadir. Ikut bergabung di meja tempat kita menyantap masakan Jepang.

Sempat saya temukan senyum lebar dan ceria saat matamu menemukan sosoknya. Namun dalam sekejap memudar saat lelaki itu menyapa Tiara lebih dulu. Bukan dirimu. Dan sejak itu rasa penasaran membuat saya tidak bisa melepaskan pandangan darimu. Bagaimana kamu selalu berusaha membesarkan hati saat lelucon lelaki itu tidak ditanggapi Tiara. Dan di titik itu, saya menyadari bahwa kelak laki-laki itu akan membuatmu menangis.

Dan kini apa yang saya duga terjadi.
***
“Aku tahu suatu hari Dani akan berhasil memiliki hati Tiara. Karena dia orang baik,” kalimat itu kukatakan lebih kepada diriku sendiri. Meyakini bahwa aku sudah menduga bahwa kisah ini akan berakhir seperti ini. Seperti aku yang kehilangan harapan dan harus merelakan kamu berbahagia. Ya, bagiku ini lebih baik daripada menemukan duka di matamu.

Tidak, bukan akhir seperti ini yang aku harapkan. Bukan.

Aku berharap kamu akan berhenti mengharapkan Tiara demi melihatnya berbahagia bersama Kian. Berharap kamu mau melihatku yang selalu berusaha membesarkan hatimu saat Tiara dengan tidak tertawa pada leluconmu. Berusaha meringankan kekecewaanmu saat Tiara membatalkan janji dan malah mengirimku untuk menggantikannya. Berharap kamu akan menemukan bahwa aku yang selalu berusaha ada untukmu saat Tiara terlalu sibuk jatuh cinta pada Kian dan tidak menyadari perasaanmu.

“Kenapa tidak mengutarakan perasaanmu padanya? Saat hubungan Tiara dan Kian masih mesra. Jauh sebelum ini?” seketika kubuka mataku. Menatap Randi yang sedari tadi duduk di hadapanku. Ia yang menyelamatkanku dari rasa malu akibat tidak bisa mengendalikan diri saat mendengar bahwa kamu dan Tiara akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih.

“Bagaimana bisa? Dia bahkan tidak pernah benar-benar melihatku. Pandangannya terpusat pada Tiara. Juga hatinya,” air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya jatuh juga. Air mata yang kusimpan sejak lama. Air mata untukmu. Air mata yang kuharap akan segera mengering.

“Aku mengerti,” lirih kudengar jawabannya. Namun lebih pilih kuabaikan. Kulemparkan pandangan menembus dinding kaca yang memisahkan kafe ini dari hiruk pikuk di luar.

***

“Aku mengerti,” hanya itu yang bisa saya katakan padamu yang belajar merelakan perasaanmu yang tidak berbalas. Melepaskan harapan.

Ya, saya benar-benar mengerti bagaimana rasanya menjadi dirimu. Lihat, bukankah kita sangat mirip? Kamu sibuk menatap Dani yang memunggumi dan menatap Tiara dengan penuh cinta. Dan saya sibuk memandangi punggungmu yang menatap Dani dengan penuh harap.

Tapi semoga kisah kita tidak berakhir sama. Saya akan menemanimu mengobati luka akibat cinta diam-diam. Dan semoga setelah itu kamu mau menatapku.

***

Aku selalu suka pada tokoh laki-laki yang menjaga perempuan yang dicintainya secara diam-diam. Tapi aku lupa, bahwa bisa jadi karena itu si perempuan tidak menyadari hadirnya. Seperti hadirku yang tidak terlihat olehmu. Dan seperti dia yang tidak terlihat olehku.

Aku lupa bahwa bisa jadi aku pun seperti perempuan dalam cerita itu. Memiliki laki-laki yang menjagaku dalam dia.

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)