Senin, 20 Juni 2016

Ia Lelaki yang Tidak Peduli

http://1.bp.blogspot.com/-VkT5cnQEpbI/UCEHf2bSyXI/AAAAAAAADlA/iwu-tXq4wuk/s1600/Cara+Menghadapi+Pacar+Yang+Cuek.jpg
Sumber foto di sini



Usia pernikahan saya memang masih seumur jagung. Tanpa masa pacaran yang orang sebut sebagai penjajakan. Hingga sejak awal kami adalah dua orang asing yang memutuskan untuk bersama secara sadar.

Sejak hari pertama setelah ia mengambil alih tanggung jawab Papa dengan sumpah yang mengguncang ‘Arsy-Nya, saya sadar kami adalah dua karakter yang berbeda. Ia adalah lelaki humoris yang lebih senang membagi senyum dan cengiran daripada kata. Sedangkan saya lebih senang mengungkapkan sesuatu lewat kata baik tutur maupun tulisan dan tak pandai mengukir senyum lebar.

Bukan hal mudah untuk saling memahami. Kami menikah dipertemuan kelima, tujuh bulan setelah pertemuan pertama. Saya tidak pernah tahu betapa mandiri ia sebagai lelaki. Tidak pernah ia ingin menyusahkan saya dengan keperluan pribadinya. Hingga sering kali saya merasa tidak dibutuhkan. Sikap ini kemudian ditambah dengan sikap cueknya. Maka ramuan antara sikap mandiri, cuek, dan tidak banyak bertutur kata ini tentu membuat saya sebagai perempuan merasa tidak diperhatikan. Diabaikan.

Dua pekan setelah menikah saya harus meninggalkannya untuk menyelesaikan studi. Maka makin asinglah kami satu sama lain. Makin sulitlah kami saling memahami. Proses saling mengenal ini dihalangi jarak. Maka pertengkaran kerap terjadi. Belum lagi ia yang hanya menyisihkan waktu untuk menghubungi saya di malam hari. Siang hari? Ia raib.

Namun suatu hari, saya menyadari bahwa sayalah yang jarang memulai komunikasi. Ternyata setiap kali saya mengirim pesan singkat meski hanya berisi satu kata seperti “Kakak” –panggilan yang saya padanya– maka ia akan segera menelpon begitu membaca pesan tersebut. Ini selalu terjadi. Ia selalu berusaha memenuhi panggilan saya. Seolah memberitahu bahwa ia akan selalu ada, sesibuk apapun dirinya dan sejauh apapun kami terpisah.