Minggu, 31 Juli 2016

Pangeran Pengelana dan Putri Malu




Teruntuk Pangeran Pengelana,

Sudah berapa lama kau menghilang dari hidupku? Sebulan? Dua bulan?

Bukankah kau selalu begitu. Menghilang bak ditelan bumi kemudian muncul kembali dengan penampilan yang bagi orang lain terlihat tak terawat, namun bagi yang mengerti itu adalah sisa perjuanganmu kemarin.
Aku perempuan yang selalu menatapmu. Akulah yang paling memahamimu.

Aku tahu, rambut yang memanjang dan kemunculan jerawat kecil di keningmu, di dekat dagumu adalah buah dari kehidupan seru yang kau jalani sesekali. “Menyapa alam,” katamu. Alasan lain yang sering kau utarakan di depan khalayak adalah bahwa dengan begitu kamu tidak akan lupa untuk selalu menjadi bermanfaat.

Hutan yang rimbun dengan pepohonan yang menjulang adalah penghasil air saat musim kemarau panjang datang. Ia memberi, meski sering kali manusia lalai mengingat kebaikannya.

Pun denganmu, aku melihatnya. Berkali-kali. Perempuan dengan kulit putih dan rambut lurus panjang sebahu yang mengerucutkan bibir itu. Ia, perempuan yang selalu kau datangi pertama kali saat pulang dari berkelana. Sering kali aku digigit kesal karenanya. Sebab aku tahu, bukan itu yang kau harapkan darinya.

Kau berharap ia akan berbangga atas apa yang kau lakukan. Toh perjalananmu kali ini sambil memanggul setumpuk buku untuk anak-anak di desa sana. Desa yang jangankan mendapatkan buku, mendapatkan listrik saja masih susah.

Kau tahu, jika aku yang ada di sisimu, aku akan memberikan senyum terbaik untukmu. Memastikan bahwa aku bisa mengurangi lelahmu. Berusaha membuatmu tertawa. Mengajakmu menonton film AADC 2 yang baru tayang demi menikmati film dan puisi. Dua hal yang aku tahu amat kau gandrungi.

Sayangnya aku tidak mungkin melakukannya. Aku hanya bisa membantumu mencari data untuk tugas-tugas kuliah yang kau lewatkan minggu lalu. Ah, andai kau tahu Pangeran Pengelan betapa aku ingin membuatmu menyadari perasaanku. Sayangnya, kau hany mencariku di saat seperti ini. Sebab bagaimana mungkin kau tertarik pada gadis dengan rambut sepundak, berbekal ransel dan sneakers serta kacamata berminus lima yang ketika berjalan hanya bisa tertunduk sebab tidak ingin menjadi pusat perhatian. Meskipun jujur, aku berharap bisa menjadi pusat duniamu.

Ah, itu kamu datang. Paling tidak aku menjadi orang kedua yang kau datangi setelah puas berkelana. Ya orang yang kau temui demi memastikan IPK-mu melewati batas minimum penerima beasiswa. Ya, aku harus berpuas dengan itu.

Salam Sayang,
Putri Malu yang Memandangimu Tanpa Jemu


Jumat, 01 Juli 2016

Ajang Kumpul Keluarga yang Kompak




Hidup sebagai perantau membuat hubungan dalam keluargaku sangat erat. Ini karena kami tahu bahwa saat di tanah rantau, tidak ada yang bisa kami andalkan selain keluarga sendiri. Papa, Mama, keempat saudaraku dan aku adalah satu tim. Pekerjaan Papa yang membuat kami hidup berpindah dari satu kota ke kota lain. Terhitung sejak kecil hingga duduk di bangku SMA, aku pernah hidup di 4 kota berbeda. Teman masa kecilku ya saudara-saudaraku sendiri. Apalagi usia kami tidak terpaut jauh. Hanya berbeda satu hingga dua tahun.

Lebaran selalu menjadi ajang pembuktian kekompakan kami. He..he.. Kenapa? Karena entah sejak kapan, muncul tradisi untuk memakai seragam lebaran. Baju keluarga. Baju kebangsaan ibn Rasyid. Biasanya sebisa mungkin warna bajunya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pun semua tidak seragam, minimal aku dan mama memakai baju dengan model dan warna yang sama, mengingat hanya aku seorang anak perempuan yang dimiliki papa dan mama. Sedangkan papa dan saudara laki-lakiku biasanya memakai baju koko putih.

Ajang Kumpul Keluarga yang Kompak




Hidup sebagai perantau membuat hubungan dalam keluargaku sangat erat. Ini karena kami tahu bahwa saat di tanah rantau, tidak ada yang bisa kami andalkan selain keluarga sendiri. Papa, Mama, keempat saudaraku dan aku adalah satu tim. Pekerjaan Papa yang membuat kami hidup berpindah dari satu kota ke kota lain. Terhitung sejak kecil hingga duduk di bangku SMA, aku pernah hidup di 4 kota berbeda. Teman masa kecilku ya saudara-saudaraku sendiri. Apalagi usia kami tidak terpaut jauh. Hanya berbeda satu hingga dua tahun.

Lebaran selalu menjadi ajang pembuktian kekompakan kami. He..he.. Kenapa? Karena entah sejak kapan, muncul tradisi untuk memakai seragam lebaran. Baju keluarga. Baju kebangsaan ibn Rasyid. Biasanya sebisa mungkin warna bajunya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pun semua tidak seragam, minimal aku dan mama memakai baju dengan model dan warna yang sama, mengingat hanya aku seorang anak perempuan yang dimiliki papa dan mama. Sedangkan papa dan saudara laki-lakiku biasanya memakai baju koko putih.